19.4 C
New York

PT RPN, BPDP dan Ditjenbun Dorong 85 Pekebun Sumut Terapkan Pupuk Organik di Kebun

Published:

Agrofarm.co.id, Medan-Keberhasilan pelatihan tidak berhenti pada pengetahuan yang diperoleh di ruang kelas, tetapi harus terlihat dari penerapannya di kebun.

Sebanyak 85 pekebun asal Kabupaten Batubara dan Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara, didorong mempraktikkan keterampilan membuat dan mengaplikasikan pupuk organik setelah mengikuti Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026.

Pelatihan yang diselenggarakan PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian tersebut berlangsung pada 26–30 Oktober 2026 di Medan. Peserta terdiri atas 54 pekebun dari Labuhanbatu Selatan dan 31 pekebun dari Batubara.

Kepala Bagian Bidang Usaha Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) PT RPN, Dr. Fandi Hidayat, mengatakan pelatihan dirancang agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan teknis yang dapat langsung diterapkan sesuai kondisi kebun masing-masing.

Menurutnya, pemanfaatan bahan organik menjadi salah satu upaya memperbaiki kesuburan tanah sekaligus mengoptimalkan sumber daya yang tersedia di sekitar perkebunan.

“Pengelolaan kesuburan tanah melalui pemanfaatan bahan organik menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung produktivitas perkebunan. Karena itu, pekebun perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah bahan organik menjadi pupuk yang bermanfaat bagi tanaman,” ujarnya.

Untuk memperkuat pembelajaran, peserta juga mengikuti kunjungan lapangan ke CV Manis Sportif di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Melalui kegiatan ini, pekebun memperoleh pengalaman langsung untuk memperluas pemahaman mengenai pengelolaan dan pemanfaatan pupuk organik.

Fandi berharap, setelah kembali ke daerah masing-masing, peserta dapat mempraktikkan pengetahuan tersebut, mulai dari mengolah bahan organik hingga mengaplikasikannya secara tepat di kebun.

“Keberhasilan program peningkatan kapasitas sumber daya manusia tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang mengikuti pelatihan, tetapi juga sejauh mana pengetahuan yang diberikan dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata di tingkat perkebunan,” katanya.

Ilmu Harus Menyebar ke Kelompok Pekebun

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Batubara, Nanda Fadhillah Akbar, SP, M.Si., menekankan pentingnya penerapan hasil pelatihan secara bersama melalui kelembagaan pekebun.

Menurutnya, peserta yang mengikuti pelatihan merupakan perwakilan pengurus kelompok dan kelembagaan pekebun. Karena itu, ilmu yang diperoleh diharapkan tidak berhenti pada individu, tetapi diteruskan kepada anggota kelompok masing-masing.

“Kami berharap sekembali dari pelatihan ini, ilmu yang diperoleh dapat diaplikasikan di lingkungan lembaga pekebun masing-masing. Peserta bisa saling berkolaborasi dan mengimplementasikan materi yang diberikan sehingga kelembagaan pekebun semakin kuat,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan kemampuan teknis dan kelembagaan juga menjadi bekal bagi pekebun dalam menerapkan prinsip perkebunan berkelanjutan, termasuk mempersiapkan diri memenuhi persyaratan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sabrina Pulungan, SP, berharap peserta dapat menjadi penggerak penyebaran pengetahuan di lingkungan kelompok tani.

“Diharapkan melalui pelatihan ini, Bapak dan Ibu peserta terus berinovasi untuk mewujudkan kemandirian serta mengembangkan praktik pertanian berkelanjutan. Ilmu yang diperoleh hendaknya tidak berhenti pada peserta, melainkan dibagikan kepada kelompok tani dan masyarakat di daerah masing-masing,” ungkapnya.

Senada, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara, Muhammad Yusuf Lubis, SP, SE, berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat diterapkan untuk mendukung peningkatan produktivitas perkebunan.

Melalui kolaborasi PT RPN, BPDP, dan Ditjenbun dalam program SDMP 2026, pelatihan pupuk organik diharapkan menghasilkan perubahan nyata dalam pengelolaan kebun sawit rakyat. Tantangan berikutnya adalah memastikan keterampilan yang diperoleh benar-benar dipraktikkan, dievaluasi, dan disebarluaskan.

Dengan demikian, keberhasilan pelatihan tidak hanya diukur dari 85 pekebun yang mengikuti kegiatan, tetapi juga dari semakin banyaknya kebun yang menerapkan pemanfaatan pupuk organik untuk memperbaiki kesuburan tanah, meningkatkan efisiensi, dan mendukung produktivitas secara berkelanjutan.

Related articles

Recent articles