19.4 C
New York

RI Eksportir Pulp Terbesar Keempat Dunia, Menperin Sarmuji Dorong Hilirisasi hingga Tekstil Rayon

Published:

Agrofarm.co.id – Industri kertas nasional masih mengandalkan impor untuk memenuhi sebagian kebutuhan kertas daur ulang (KDU) sebagai bahan baku. Dari total kebutuhan 7,06 juta ton, sebanyak 4,22 juta ton dipasok dari dalam negeri, sementara 2,84 juta ton atau sekitar 40 persen berasal dari impor. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji pun mendorong perbaikan sistem pengumpulan kertas bekas di dalam negeri, termasuk melalui optimalisasi bank sampah.

“Kita perlu memperbaiki sistem pengumpulan kertas daur ulang di dalam negeri melalui integrasi data, pendataan pemasok, optimalisasi bank sampah, serta fasilitasi business matching. Langkah ini penting untuk memperkuat rantai pasok industri sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular,” tegas Sarmuji dalam sambutannya pada Pembukaan Kongres Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Tahun 2026 di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Menurut Sarmuji, kondisi tersebut menunjukkan masih ada ruang untuk meningkatkan pengumpulan dan pengolahan kertas bekas di dalam negeri, sehingga ketergantungan pada bahan baku impor dapat dikurangi secara bertahap.

Eksportir Pulp Keempat Dunia

Di luar tantangan bahan baku, Sarmuji menilai industri pulp dan kertas memiliki peran strategis bagi perekonomian nasional.

“Industri pulp dan kertas memiliki peran strategis dalam menopang kinerja ekspor, memenuhi kebutuhan berbagai sektor industri, serta menyerap tenaga kerja. Karena itu, penguatan hilirisasi dan diversifikasi produk harus terus didorong agar sumber daya yang kita miliki dapat menghasilkan nilai tambah semakin besar,” ujarnya.

Pada 2025, produksi pulp nasional mencapai 11,69 juta ton dari kapasitas terpasang 14,48 juta ton per tahun. Produksi kertas mencapai 18,65 juta ton dari kapasitas terpasang 25,37 juta ton per tahun. Industri ini juga mencatatkan surplus neraca perdagangan sepanjang 2021–2025, dengan nilai ekspor mencapai USD8,2 miliar pada 2025. Pada semester I 2026, ekspor pulp tercatat USD1,68 miliar dan ekspor kertas USD2,35 miliar.

“Indonesia memiliki posisi yang cukup kuat dalam perdagangan pulp dan kertas dunia. Pada tahun 2025, Indonesia menempati peringkat keempat sebagai eksportir pulp serta peringkat ke-14 sebagai eksportir kertas dan karton dunia. Posisi ini harus terus kita pertahankan dan tingkatkan melalui penguatan daya saing dan pengembangan produk bernilai tambah,” kata Sarmuji.

Saat ini terdapat 113 perusahaan skala besar di industri pulp dan kertas nasional. Industri ini menyerap sekitar 290 ribu tenaga kerja langsung serta sekitar 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung.

Hilirisasi hingga Industri Tekstil

Sarmuji menekankan, peluang pengembangan industri pulp dan kertas masih sangat terbuka melalui perluasan produk hilir. Selain kertas tulis dan cetak, pulp juga diolah menjadi kertas kemasan, karton, kotak karton bergelombang (corrugated box), kantong kertas, label, hingga berbagai jenis tisu.

Pengembangan pulp larut (dissolving pulp) bahkan membuka hilirisasi hingga industri tekstil melalui produksi serat rayon atau viscose. Serat tersebut dapat diolah menjadi benang, kain, pakaian jadi, tekstil rumah tangga, hingga produk nonwoven untuk sektor kesehatan dan kebersihan.

“Industri pulp dan kertas tidak hanya menopang industri kemasan dan percetakan, tetapi juga menjadi bagian penting dari rantai pasok industri tekstil nasional. Ini merupakan peluang besar untuk memperkuat keterkaitan antarindustri sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,” jelas Sarmuji.

Ia menambahkan, meningkatnya kebutuhan global terhadap kemasan berbasis kertas, flexible packaging berbasis serat, serta produk berbahan baku terbarukan menjadi momentum bagi industri nasional untuk memperluas pasar.

Bahan Penolong dan Industri Hijau

Selain KDU, Sarmuji mengingatkan industri pulp dan kertas juga menghadapi tantangan ketersediaan bahan penolong serta tuntutan penerapan industri hijau. Untuk kebutuhan garam industri yang digunakan dalam proses chlor-alkali plant (CAP), pemerintah terus berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan guna menjaga keseimbangan antara pemanfaatan produksi domestik dan kebutuhan industri.

Untuk pati atau tapioka, Kemenperin memfasilitasi business matching dengan pemasok dalam negeri serta mengoordinasikan usulan kebutuhan impor apabila pasokan domestik tidak mencukupi, terutama pada musim kering.

“Kami terus mendorong agar industri mengutamakan pemanfaatan bahan baku dalam negeri sepanjang pasokannya tersedia dan memenuhi kebutuhan produksi. Pada saat yang sama, keberlangsungan operasional industri juga harus dijaga agar produktivitas dan daya saing tetap terpelihara,” ujar Sarmuji.

Sarmuji juga menekankan pentingnya percepatan transformasi industri hijau untuk meningkatkan daya saing sekaligus mendukung target dekarbonisasi nasional.

“Penerapan kebijakan dekarbonisasi perlu mempertimbangkan kondisi dan karakteristik masing-masing industri agar upaya penurunan emisi dapat berjalan secara efektif sekaligus tetap menjaga daya saing industri nasional,” pungkasnya.irsa

 

 

 

Related articles

Recent articles