Agrofarm.co.id, Tangerang Selatan-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat ekosistem pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku bahan bakar nabati berkelanjutan melalui pengembangan sistem pengumpulan berbasis teknologi U-Collect Box.
Upaya tersebut didukung kajian dari aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial untuk memastikan rantai pasok minyak jelantah berlangsung secara berkelanjutan dan dapat ditelusuri.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, mengatakan minyak jelantah berpotensi diolah menjadi bahan bakar rendah karbon, antara lain biodiesel dan sustainable aviation fuel (SAF).
Menurutnya, pengembangan U-Collect Box menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem yang melibatkan masyarakat, industri, teknologi, serta riset dan inovasi.
“Minyak jelantah dapat memiliki nilai ekonomi apabila dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku energi,” kata dia, Jumat (4 September 2026).
Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, mengungkapkan peningkatan kebutuhan biofuel turut mendorong permintaan minyak jelantah sebagai bahan baku.
Menurutnya, pengembangannya perlu didukung riset yang mempertimbangkan aspek lingkungan, kelayakan ekonomi, keterlacakan bahan baku, dan manfaat sosial.
Sementara itu, Deputi Bidang Infrastruktur, Riset, dan Inovasi BRIN, Dadan M. Nurjaman, mengapresiasi pengembangan U-Collect Box yang dinilai mampu mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai sekaligus mengurangi potensi pencemaran lingkungan.
Ia mendorong penerapan teknologi tersebut di berbagai Kawasan Sains dan Teknologi (KST) BRIN, disertai pengembangan teknologi pengolahan minyak jelantah.
Dadan juga mengarahkan KST. B.J. Habibie Serpong menjadi percontohan Eco Science Technopark melalui penerapan berbagai hasil riset dan inovasi, seperti pengolahan sampah, penyediaan air minum hasil pengolahan, dan pembangunan stasiun pengisian kendaraan listrik berbasis energi terbarukan.
Pengembangan ekosistem tersebut diperkuat melalui kerja sama BRIN dengan PT Noovoleum Indonesia.
Komisaris PT Noovoleum Indonesia, Sendy Soeriaatmadja, mengatakan U-Collect Box dikembangkan untuk memudahkan rumah tangga dan UMKM mengumpulkan minyak jelantah sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai ekonomi sirkular.
Teknologi tersebut menggunakan internet of things (IoT) yang dilengkapi sensor, aplikasi, dan dasbor untuk memantau volume serta memastikan ketertelusuran minyak jelantah secara waktu nyata. Minyak yang terkumpul selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bahan bakar nabati generasi kedua, termasuk SAF.
Saat ini, sekitar 300 unit U-Collect Box telah ditempatkan di Indonesia dan Thailand. Program tersebut telah mengumpulkan sekitar 6.000 liter minyak jelantah dan menghasilkan sekitar 5.800 liter biofuel.
Noovoleum juga melibatkan masyarakat melalui program Local Hero, komunitas, dan sekolah. Sekitar 55 persen pendapatan program didistribusikan kembali kepada masyarakat, sedangkan program edukasi telah menjangkau sekitar 400 sekolah.
Penguatan kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara BRIN dan PT Noovoleum Indonesia sebagai landasan penempatan dan pengoperasian U-Collect Box di kawasan BRIN, yang dilaksanakan di Gedung 720, KST. B.J. Habibie Serpong, dilanjutkan dengan Launching dan penempatan alat Ucollect Box di depan Gerbang Perumahan Dinas BRIN Puspiptek.
Untuk memastikan keberlanjutan sistem pengumpulan, BRIN melakukan kajian yang mencakup aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Triyono Widi Sasongko, mengatakan kajian tersebut mencakup produksi U-Collect Box dan operasional titik pengumpulan.
Dalam kajian daur hidup, BRIN memperhatikan penggunaan material dan listrik yang masih bersumber dari bahan bakar fosil. BRIN juga melakukan kajian life cycle costing (LCC) untuk menghitung investasi, biaya operasional, biaya per unit, dan aspek ekonomi lainnya.
Dari aspek sosial, kajian mencakup kondisi kerja serta dampak penggunaan U-Collect Box terhadap UMKM, usaha kuliner, dan komunitas lokal. BRIN juga melakukan survei untuk mengetahui tingkat penerimaan masyarakat berdasarkan manfaat, kemudahan penggunaan, tingkat kepercayaan, dan pengaruh lingkungan sosial.
Hasil sementara menunjukkan masyarakat mengharapkan U-Collect Box tersedia di berbagai lokasi, seperti minimarket, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), permukiman, apartemen, dan pasar modern.
Data survei masih dikumpulkan dan dianalisis untuk menghasilkan rekomendasi pengembangan sistem pengumpulan minyak jelantah yang berkelanjutan.
Selain itu, Perekayasa Ahli Muda Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Hismiaty Bahua, mengatakan minyak jelantah memiliki nilai ekonomi apabila dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar. Selain SAF, minyak jelantah dapat diolah menjadi biodiesel dan renewable diesel.
Menurut Hismiaty, penggunaan minyak jelantah sebagai bahan baku tidak serta-merta membuat seluruh proses produksi menjadi rendah karbon. Emisi gas rumah kaca dapat muncul pada setiap tahapan rantai pasok, mulai dari pengumpulan dan pengangkutan hingga proses pengolahan dan distribusi SAF ke bandara.
“Nilai ekonomi sirkular dari limbah mulai terbentuk ketika limbah tersebut dikumpulkan. Karena itu, proses pengumpulan perlu dilakukan secara terorganisasi dan seluruh minyak yang terkumpul harus dicatat,” ujarnya.
Untuk mengukur dampak lingkungan tersebut, BRIN menggunakan metode life cycle assessment (LCA) atau penilaian daur hidup. Metode ini digunakan untuk menghitung emisi gas rumah kaca sekaligus mengidentifikasi tahapan yang menjadi sumber emisi terbesar.
Hismiaty menjelaskan, emisi dapat berasal dari berbagai aktivitas dalam rantai pasok. Pengumpulan minyak jelantah dari rumah menuju titik pengumpulan menghasilkan emisi dari penggunaan kendaraan. Emisi juga muncul saat minyak diangkut ke kilang, diproses menjadi SAF, serta didistribusikan dari kilang menuju bandara.
“Karena itu, kita perlu melihat seluruh rantai pasok dari perspektif life cycle. Kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa suatu produk sudah berkelanjutan hanya karena bahan bakunya berasal dari limbah,” ujarnya.
Kajian tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai besaran emisi sejak minyak jelantah dikumpulkan hingga SAF siap digunakan serta menentukan tahapan yang memberikan kontribusi emisi terbesar.
Hasilnya menjadi dasar untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan rantai pasok minyak jelantah sebagai bahan baku biofue
