Agrofarm.co.id, Jakarta-Total bea keluar dan pungutan ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia turun 20 persen pada November menjadi USD 246,36 per ton, dari USD 308,27 pada Oktober.
Penurunan ini jauh lebih tajam dibandingkan koreksi harga referensi Kementerian Perdagangan yang hanya 6,07 persen menjadi USD 978,90 per ton.
EBC Financial Group (EBC) menilai beban ekspor yang lebih ringan membuat eksportir mengantongi lebih banyak dari setiap penjualan. Namun, devisa ekspor Indonesia justru berpotensi berkurang jika produsen biodiesel menyerap minyak sawit yang sebenarnya bisa dikapalkan ke luar negeri.
Rupiah hanya akan diuntungkan apabila program campuran biodiesel 50 persen (B50) menghemat lebih banyak dolar dari impor solar dibandingkan devisa yang hilang akibat berkurangnya ekspor minyak sawit.
Sana Ur Rehman, Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group, mengatakan, setiap ton minyak sawit punya dua calon pembeli, dan masing-masing membantu rupiah dengan cara berbeda. Pembeli luar negeri mendatangkan dolar. Produsen biodiesel menghemat dolar yang seharusnya dikeluarkan Indonesia untuk mengimpor solar.
“Jalur yang lebih menguntungkan bagi rupiah adalah yang menghasilkan atau menghemat lebih banyak dolar per ton, dan perbandingan itu bergerak mengikuti harga minyak sawit dan harga solar. Jika solar semakin murah, setiap ton minyak sawit yang diolah menjadi biodiesel akan menghemat lebih sedikit dolar, meskipun volume yang masuk ke bahan bakar tetap sama. Pemangkasan beban ekspor mengubah apa yang dikantongi eksportir, sementara rupiah bergerak mengikuti dolar yang diperoleh atau dihemat,” jelas Sana Ur Rehman dalam keterangan resminya, Jumat (06/11/2026).
Kurs referensi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), berada di Rp18.140 per dolar AS pada 4 November. Posisi ini mendekati rekor terlemah di Rp18.183 pada 28 Oktober dan lebih lemah dibandingkan Rp18.047 pada 22 Oktober.
Karena solar diimpor dengan harga dolar, pelemahan rupiah membuat setiap ton solar impor semakin mahal dalam rupiah. Itulah mengapa setiap dolar yang diperoleh Indonesia dari ekspor minyak sawit atau dihemat dari impor solar kian berarti bagi rupiah.
Yang Dikantongi Eksportir dan yang Diterima Indonesia
Kementerian Perdagangan menetapkan bea keluar November sebesar USD 124 per ton dan pungutan ekspor sebesar USD 122,36 per ton, dibandingkan US$178 dan USD 130,27 pada Oktober.
Dengan harga jual yang tidak berubah, eksportir mengantongi tambahan USD 61,91 untuk setiap ton. Namun, harga yang dibayar pembeli di luar negeri ditentukan pasar, sehingga devisa ekspor Indonesia berasal dari harga tersebut dikalikan dengan volume yang terjual.
Eksportir bisa menyimpan seluruh penghematan itu, atau memangkas harga untuk memenangkan pesanan. Jika harga diturunkan, volume yang harus dijual pun lebih besar untuk menghasilkan dolar yang sama.
Harga referensi yang menjadi dasar penetapan beban ekspor turun sekitar USD 63 per ton dari Oktober.
Eksportir yang harga jualnya turun dengan besaran yang sama akan mendapati penghematan USD 61,91 tersebut hampir habis, sehingga yang dikantonginya per ton tak jauh berbeda dari Oktober.
Produksi dan Stok Bisa Memasok Biodiesel sekaligus Ekspor
Dalam program B50, biodiesel berbahan baku minyak sawit menyumbang separuh dari campuran solar, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pada 3 November bahwa pemerintah tetap mempertahankan program tersebut. Penggunaan biodiesel dan ekspor dapat tumbuh bersamaan selama produksi dan stok mampu menutup kebutuhan.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat penggunaan minyak sawit untuk biodiesel naik dari 1,285 juta ton pada Juli menjadi 1,35 juta ton pada Agustus, sementara ekspor produk minyak sawit meningkat dan stok menurun.
Turunnya stok bisa berarti sebagian tambahan permintaan dipasok dari gudang, sehingga cadangan untuk bulan-bulan berikutnya semakin tipis. Produksi serta permintaan dari industri makanan dan pengguna dalam negeri lainnya juga menentukan seberapa banyak minyak sawit yang tersisa untuk ekspor.
Harga Solar Menentukan Penghematan Impor dan Selisih Pendanaan Biodiesel
Ketika biodiesel menggantikan solar impor, importir membutuhkan lebih sedikit dolar untuk membayar pemasok luar negeri.
Penghematan ini dapat mengimbangi sebagian devisa ekspor yang hilang ketika minyak sawit dialihkan dari pembeli luar negeri. Besarnya penghematan mengikuti volume solar yang benar-benar tergantikan, yang bisa berbeda dari target campuran 50%.
Harga minyak Brent, patokan harga minyak global, ditutup di USD 103,60 per barel pada 3 November, penutupan terendah sejak 7 Oktober, setelah turun dari USD 113,43 pada 30 Oktober di tengah sinyal kemajuan perundingan damai AS–Iran.
Harga minyak masih tergolong tinggi, sehingga setiap ton solar yang digantikan biodiesel tetap menghemat dolar dalam jumlah berarti. Namun, penurunan harga belakangan ini menunjukkan betapa cepat penghematan itu bisa menyusut.
Badan Pengelola Dana Perkebunan menanggung selisih antara harga indeks pasar resmi biodiesel dan solar. Harga solar yang lebih tinggi akan mempersempit selisih tersebut, kecuali biaya biodiesel naik secepat itu.
Sebaliknya, jika harga solar kelak turun sementara biaya biodiesel tidak berubah, selisihnya akan melebar. Pungutan ekspor minyak sawit turut mendanai pembayaran selisih tersebut, sehingga setiap ton yang dikapalkan ke luar negeri juga ikut menopang biodiesel di dalam negeri.
Pungutan ekspor turun USD 7,91 per ton pada November, sehingga kontribusi setiap ton ekspor terhadap dana tersebut ikut menyusut. Apakah hal ini memengaruhi pembayaran dana bergantung pada saldo yang tersedia dan seberapa lebar selisih harga yang harus ditanggung.
EBC sebelumnya telah mencatat bahwa seberapa banyak solar impor yang digantikan B50, serta seberapa kuat pendanaannya bertahan di tengah perubahan harga minyak bumi dan minyak sawit, akan menunjukkan apakah program ini berhasil mencapai tujuannya mengurangi ketergantungan pada solar impor.
