19.4 C
New York

Dongkrak Produksi Susu dan Daging, BRIN Kembangkan Rumput Gajah untuk Pakan Ternak

Published:

Agrofarm.co.id, Cibinong-Ketersediaan pakan berkualitas dan berkelanjutan menjadi salah satu kunci peningkatan produktivitas peternakan nasional.

Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pengembangan rumput gajah unggul generasi terbaru melalui inovasi pemuliaan in vitro.

Inovasi ini dinilai strategis di tengah berbagai tantangan sektor peternakan, mulai dari perubahan iklim, keterbatasan lahan, serangan hama dan penyakit, hingga penurunan kualitas lahan. Kondisi tersebut menuntut tersedianya tanaman pakan yang lebih produktif, berkualitas, adaptif, dan efisien.

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, mengatakan pengembangan tanaman pakan memiliki keterkaitan erat dengan agenda pembangunan nasional, khususnya dalam mendorong kemandirian pangan dan protein hewani.

Menurutnya, kebutuhan tersebut semakin relevan dengan agenda percepatan produksi susu dan daging melalui Percepatan Peningkatan Produksi Susu dan Daging Nasional (P2SDN) serta pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat melalui Program Makan Bergizi Gratis.

“Kita harus melihat pembangunan peternakan sebagai sebuah rantai yang utuh. Dari rumput yang berkualitas menjadi pakan, dari pakan menghasilkan ternak yang sehat dan produktif, dari ternak menghasilkan susu dan daging, dari susu dan daging menyediakan protein hewani,” ujar Puji dalam webinar Risnov Ternak #30 bertajuk “LAB to LAND: Rumput Gajah Unggul Generasi Terbaru Hasil Inovasi Pemuliaan In Vitro”, Rabu (12/8).

Kepala Pusat Riset (PR) Peternakan BRIN, Santoso, menekankan bahwa inovasi riset tidak cukup berhenti pada tahap menghasilkan varietas unggul. Teknologi tersebut perlu diuji, dikembangkan, diperbanyak, hingga benar-benar dapat dimanfaatkan oleh peternak dan pelaku usaha.

“Kita ingin membangun jembatan yang kuat antara hasil penelitian dengan kebutuhan nyata di lapangan,” jelasnya.

Menurut Santoso, pengembangan rumput gajah unggul perlu dilihat secara menyeluruh, mulai dari aspek pemuliaan, budidaya, kualitas nutrisi, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, pemanfaatannya sebagai pakan, hingga peluang pengembangannya dalam sistem usaha peternakan.

Ia berharap masukan dari pengguna, khususnya peternak, dapat memperkaya pengembangan teknologi sehingga inovasi yang dihasilkan tidak hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga tepat guna dan memiliki peluang adopsi yang tinggi.

Sementara itu, Peneliti PR Peternakan BRIN, Ali Husni, mengungkapkan bahwa rendahnya produktivitas daging dan susu salah satunya dipengaruhi keterbatasan ketersediaan pakan berkualitas secara kontinu, terutama pada musim kemarau. Karena itu, penyediaan pakan menjadi critical point dalam pengembangan peternakan nasional.

Ali menjelaskan, kebutuhan hijauan pakan terus meningkat, sementara lahan budidaya tanaman pakan ternak (TPT) terbatas.

Di sisi lain, produktivitas dan kualitas nutrisi hijauan masih bervariasi. Perbanyakan bibit melalui stek juga menyebabkan keragaman genetik relatif rendah, sementara penangkar benih hijauan TPT masih terbatas dan pemuliaan konvensional membutuhkan waktu panjang.

Untuk menjawab persoalan tersebut, BRIN mengembangkan pemuliaan in vitro sebagai salah satu pendekatan untuk mempercepat perakitan varietas unggul melalui kultur jaringan.

“Untuk memecahkan permasalahan tersebut, kultur jaringan menjadi solusi percepatan perakitan varietas unggul melalui pemuliaan in vitro,” ujar Ali.

Pemuliaan in vitro merupakan upaya perbaikan genetik tanaman melalui manipulasi sel, protoplas, atau jaringan tanaman dalam kondisi terkendali untuk menghasilkan individu baru dengan sifat unggul.

Melalui pendekatan tersebut, kata Ali, sifat yang ditargetkan dapat mencakup produktivitas, mutu, ketahanan terhadap penyakit, serta toleransi terhadap kondisi lingkungan. Teknik yang dapat digunakan antara lain variasi somaklonal, mutagenesis, haploidisasi, poliploidisasi, hibridisasi somatik, dan rekayasa genetika.

Webinar Risnov Ternak #30 juga menghadirkan Farly Ramadhan dari Brand Kandang Juragan, yang berbagi pengalaman mengenai pemanfaatan rumput gajah unggul generasi baru, termasuk pengalaman pengelolaan usaha peternakan dari sisi revenue stream hingga efisiensi pakan. Kehadiran pelaku usaha tersebut memperkuat pesan penting bahwa inovasi tanaman pakan perlu dibawa dari laboratorium menuju penerapan nyata di lapangan.

Melalui pengembangan rumput gajah unggul, BRIN mendorong terbentuknya ekosistem inovasi yang mempertemukan peneliti, akademisi, pemerintah, penyuluh, dunia usaha, dan peternak.

Kolaborasi tersebut diharapkan mempercepat adopsi teknologi dan hilirisasi hasil riset sekaligus memperkuat fondasi peternakan Indonesia yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan

Related articles

Recent articles