Agrofarm.co.id, Jakarta-Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) volume ekspor minyak sawit pada Maret 2025 mencapai 2,87 juta ton lebih tinggi 75 ribu ton dari pencapaian pada bulan Februari 2025 sebesar 2,8 juta ton.
“Kenaikan ekspor terjadi pada semua produk kecuali CPO yang turun 77 ribu ton dari 246 ribu ton pada bulan Februari menjadi 169 ribu ton pada bulan Maret,” ungkap Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif GAPKI dalam siaran persnya, Jumat (30/5/2025).
Kenaikan ekspor terbesar terjadi pada olahan PKO yang naik dari 112 ribu ton pada bulan Februari menjadi 167 ribu ton pada bulan Maret atau melonjak 49,15%.
Olahan PO naik menjadi 2.128 ribu ton pada bulan Maret dari 2.079 ribu ton pada bulan Februari sedangkan ekspor oleokimia naik menjadi 407 ribu ton pada bulan Maret dari 364 ribu ton pada bulan Februari.
Berdasarkan negara tujuan ekspor, penurunan terjadi untuk tujuan China, India, Pakistan dan Bangladesh sementara untuk negara lain umumnya naik.
Dibandingkan dengan ekspor bulan Februari, ekspor bulan Maret untuk tujuan ke China turun menjadi 384 ribu ton dari 434 ribu ton, India turun menjadi 271 ribu ton dari 387 ribu ton, Pakistan turun menjadi 234 ribu ton dari 361 ribu ton dan Bangladesh turun menjadi 147 ribu ton dari 194 ribu ton.
Sebaliknya ekspor tujuan Uni Eropa naik menjadi 343 ribu ton dari 298 ribu ton, tujuan USA naik menjadi 249 ribu ton dari 153 ribu ton, tujuan Timur Tengah naik menjadi 159 ribu ton dari 113 ribu ton.
Nilai ekspor yang dicapai bulan Maret 2025 sebesar USD 3.283 juta atau sekitar Rp 54,1 triliun naik 2,84% dari nilai ekspor bulan Februari 2025 sebesar USD 3.192 juta atau senilai Rp 52,15 triliun.
Sementara itu, produksi CPO bulan Maret 2025 mencapai 4.391 ribu ton lebih tinggi 15,9% dibandingkan dengan produksi bulan Februari 2025 yang mencapai 3.789 ribu ton.
Produksi PKO juga naik menjadi 417 ribu ton dari 354 ribu ton pada bulan Februari, sehingga total produksi CPO dan PKO bulan Maret 2025 mencapai 4.808 ribu ton lebih tinggi 16,0% dari 4.144 ribu ton pada Februari 2025.
“Secara YoY sampai dengan bulan Maret 2025, total produksi CPO dan PKO mencapai 13.135 ribu ton yang lebih rendah 1,8% dari total produksi tahun 2024 sebesar 13.379 ribu ton,” ujar Mukti.
Total konsumsi dalam negeri naik 114 ribu ton dari 2.083 ribu ton pada bulan Februari 2025 menjadi 2.146 ribu ton pada bulan Maret 2025 atau naik 5,61%.
Konsumsi biodiesel naik dari 1.003 ribu ton menjadi 1.075 ribu ton dan oleokimia naik 7 ribu ton dari 175 ribu ton menjadi 182 ribu ton. Sedangkan konsumsi untuk bahan pangan naik 35 ribu ton dari 854 ribu ton pada menjadi 889 ribu ton.
“Secara YoY sampai dengan bulan Maret, konsumsi dalam negeri tahun 2025 mencapai 6.049 ribu ton atau 6.04% lebih tinggi dari tahun 2024 sebesar 5.704 ribu ton,” jelas dia.
Konsumsi untuk pangan mencapai 2.501 ribu ton atau 4.41% lebih tinggi dari tahun lalu, oleokimia 554 ribu ton atau lebih tinggi 0,9% dari tahun sebelumnya, sedangkan biodiesel 2.994 ribu ton atau 8.49% lebih tinggi dari tahun sebelumnya.
Adapun kenaikan nilai ekspor juga didukung dengan kenaikan harga CPO dari USD 1.232 per ton pada bulan Februari menjadi USD 1.251 per ton Cif Rotterdam dan untuk nilai rupiahnya juga disebabkan selain kenaikan harga, juga kenaikan nilai tukar US dolar terhadap rupiah dari Rp 16.338 per USD pada bulan Februari menjadi Rp 16.474 per USD.
Dengan produksi, konsumsi, dan ekspor diuraikan sebelumnya, maka stok akhir Maret 2025 adalah 2.036 ribu ton, turun 213 ribu ton dari bulan sebelumnya sebesar 2.249 ribu ton.
