21.2 C
New York

Hama Penggerek Pucuk Tebu Dapat Turunkan Produksi Hingga 80%

Published:

Agrofarm.co.id, Bogor-Nurindah, Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN menjelaskan, penggerek pucuk tebu (Scirpophaga excerptalis) merupakan hama ekonomis penting yang menyebabkan kerugian signifikan pada perkebunan tebu di Indonesia.

Serangan hama ini dapat menurunkan produksi tebu hingga 30-80% dan menyebabkan penurunan kualitas nira yang berdampak langsung pada rendemen gula. Tantangan utama dalam pengendalian penggerek pucuk tebu terletak pada perilaku infestasi larva yang sangat cepat masuk ke dalam jaringan tanaman.

“Setelah telur menetas, larva neonate segera bergerak menuju pucuk tanaman dan masuk ke dalam jaringan, memberikan “jendela kerentanan” yang sangat sempit bagi upaya pengendalian. Begitu larva memasuki jaringan tanaman, pengendalian menjadi sangat sulit dilakukan,” ungkap dia dikutip dari laman resmi BRIN.

Strategi pengendalian berbasis kimia seringkali kurang efektif karena karakter biologi hama ini, selain juga berdampak negatif pada lingkungan dan organisme non-target.

Di sinilah peran musuh alami menjadi sangat penting sebagai alternatif pengendalian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Penelitian menunjukkan ekosistem perkebunan tebu di Indonesia memiliki keanekaragaman musuh alami yang cukup tinggi, mencakup parasitoid telur (Telenomus spp., Trichogramma spp., Tetrastichus spp.), parasitoid larva-pupa (Rhaconotus sp., Isotima sp., Stenobracon sp.), dan predator umum terutama dari kelompok semut (Formicidae).

“Parasitoid telur Telenomus menunjukkan potensi luar biasa dengan tingkat parasitisasi mencapai 72-100% di beberapa lokasi. Serangga parasitoid ini berperan sangat penting sebagai agen pengendalian hayati karena menyerang hama pada tahap awal siklus hidup, mencegah terjadinya kerusakan tanaman. Parasitoid larva seperti Isotima sp.

juga mampu memberikan tingkat parasitisasi hingga 50%. Predator umum seperti semut memiliki peran strategis dalam memangsa telur dan larva neonate sebelum hama tersebut masuk ke dalam jaringan tanaman. Meskipun belum ada data kuantitatif mengenai daya pemangsaan semut terhadap penggerek pucuk tebu, interaksi “handling time” versus “window of vulnerability” menjadi faktor kunci efektivitas predator ini,” rinci Nurindah.

Untuk mengoptimalkan pemanfaatan musuh alami, petani dan pengelola perkebunan perlu memahami kompleksitas interaksi tritrofik antara tanaman tebu, penggerek pucuk, dan musuh alaminya.

Praktek pengelolaan habitat yang baik dapat meningkatkan kinerja agen hayati, seperti menjaga vegetasi pendamping sebagai tempat berlindung dan sumber pakan alternatif bagi musuh alami. Penggunaan varietas tebu tahan hama juga perlu diintegrasikan dengan pendekatan pemanfaatan musuh alami.

Varietas tahan memiliki karakteristik morfologi (lapisan lilin tebal, densitas trichoma tinggi), biokimia (kadar fenol dan lignin tinggi), dan fisiologis (kemampuan regenerasi cepat) yang mendukung ketahanan terhadap serangan hama sekaligus dapat sinergis dengan kerja musuh alami.

Pengendalian penggerek pucuk tebu dengan memanfaatkan musuh alami bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi merupakan strategi berkelanjutan dalam konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

“Upaya ini perlu didukung penelitian lebih lanjut mengenai interaksi bitrofik dan tritrofik untuk pengembangan varietas tahan dan metode pengendalian hayati yang lebih efektif. Dengan memahami dan memberdayakan potensi musuh alami yang telah ada di alam, kita dapat menciptakan sistem pengendalian hama yang efektif, ekonomis, dan ramah lingkungan untuk mendukung keberlanjutan industri gula nasional,” tegas Nurindah.

BRIN juga mendorong pengembangan varietas tebu yang tahan terhadap serangan hama sebagai langkah strategis dalam mitigasi kerusakan.

Menurut Nurindah, integrasi antara pengelolaan habitat, pelepasan agen hayati, dan penerapan varietas tahan merupakan solusi yang saling melengkapi untuk menjaga produktivitas perkebunan.

Optimalisasi pengendalian hayati membutuhkan pemahaman mendalam mengenai interaksi antara serangga hama, parasitoid, dan predator di ekosistem tebu.

“Dengan memahami dinamika populasi ini, kita dapat merancang strategi pengendalian yang lebih efektif dan ramah lingkungan,” jelas Nurindah

Related articles

Recent articles