Agrofarm.co.id, Jakarta-World Bank dalam publikasi Indonesia Economic Prospects yang dirilis Juni ini menyebutkan inflasi dan harga pangan pokok seperti beras, daging ayam, dan telur sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim.
El Nino pada 2023 memang telah menyebabkan kondisi yang lebih kering daripada biasanya dan berdampak pada produksi pangan di Indonesia.
“Persiapan pangan kita hari ini perlu percepatan, perlu konsentrasi penuh, karena memang ada climate change. Untuk itu, kepada Bulog tugasnya adalah menyerap dengan harga yang baik, jadi tak boleh harga GKP di bawah Rp 6.000 per kilo. Target penyerapan Bulog juga tidak dibatasi, Bulog harus serap sebanyak-banyaknya. Pokoknya tugas Kementan itu siapkan produksi, lalu untuk penyerapan dan jaga harga agar tidak jatuh itu Badan Pangan Nasional dan Bulog. Kita bagi tugasnya begitu,” ungkap Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) atau National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi dalam keterangan resminya, Selasa (02/7/2024).
“Ini supaya nanti akhir tahun sampai dengan awal tahun depan, kita punya Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) yang cukup. CPP itu salah satunya untuk bantuan pangan beras yang akan terus kita lanjutkan di Agustus, Oktober, dan Desember. Berasnya harus yang kualitas bagus, tidak boleh jelek, dan kita perlu bangga dalam satu dua bulan terakhir, beras yang didistribusikan adalah produksi dalam negeri,” kata Arief.
Hingga minggu ketiga Juni 2024, realisasi pengadaan beras dalam negeri oleh Bulog telah berada di angka 690.000 ton.
Sementara total salur sepanjang tahun ini telah mencapai 1,8 juta ton antara lain penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) 759.000 ton, bantuan pangan beras tahap pertama 656.000 ton dan tahap kedua 378.000 ton, dan tanggap darurat 348 ton.
