Agrofarm.co.id-Penyadapan merupakan aktivitas terpenting bagi para petani karet. Karena dari hasil sadapan inilah yang nantinya akan menghasilkan rupiah bagi para petani melalui pengolahan lempengan lateks. Prinsip pengolahan karet ini yaitu dengan mengubah lateks segar (getah karet) menjadi lembaran-lembaran sheet lewat proses penyaringan, pengenceran, pembekuan, penggilingan, dan pengasapan .
Tahap awal dalam pengolahan karet yaitu bermula dari pengambilan lateks hasil sadap penerimaan lateks kebun dari pohon karet yang telah disadap. Lateks pada mangkuk sadap dikumpulkan dalam suatu tempat kemudian disaring untuk memisahkan kotoran serta bagian lateks yang telah mengalami prakoagulasi.
Setelah proses penerimaan selesai, lateks kemudian dialirkan ke dalam bak koagulasi untuk proses pengenceran dengan air yang bertujuan untuk menyeragamkan Kadar Karet Kering (Pupuk Karet dan Sawit, 2013). Lebih lanjut dijelaskan beberapa faktor yang memengaruhi kualitas lateks karet:
- Faktor dari kebun (jenis klon, sistem sadap, kebersihan pohon, dan lain-lain).
- Iklim (musim hujan mendorong terjadinya prakoagulasi, musim kemarau keadaan lateks tidak stabil).
- Alat-alat yang digunakan dalam pengumpulan dan pengangkutan (yang baik terbuat dari aluminium atau baja tahan karat).
- Pengangkutan (goncangan, keadaan tangki, jarak, jangka waktu).
- Kualitas air dalam pengolahan.
- Bahan-bahan kimia yang digunakan.
- Komposisi lateks.
Menurut Setyamidjaja (1993), kandungan bahan-bahan dalam lateks segar dan lateks yang dikeringkan seperti Tabel berikut:
| Bahan | Lateks Segar (%) | Lateks yang Dikeringkan (%) |
| Kandungan karet | 35,62 | 88,28 |
| Resin | 1,65 | 4,10 |
| Protein | 2,03 | 5,04 |
| Abu | 0,70 | 0,84 |
| Zat Gula | 0,34 | 0,84 |
| Air | 59,62 | 1,00
|
Kandungan protein pada lateks disinyalir memiliki potensi sebagai fungisida atau dengan kata lain sebagai pengendali penyakit patogen tanaman. Konno (2011) menyatakan lateks mengandung protein kurang lebih 510 g/L yang memiliki peran sebagai enzim glukanase.
Koagulasi lateks segar dengan asam format 5% dilanjutkan presipitasi protein dengan aseton menghasilkan jumlah dan kualitas protein yang cukup baik dan prospektif untuk dikembangkan dalam skala lebih besar. Secara umum protein serum lateks menghambat pertumbuhan miselia jamur patogen melalui gangguan kerusakan dinding sel hifa dan abnormalitas konidia (Tistama et al., 2017).
Hevein dan pseudohevein di dalam lateks merupakan protein-protein yang memiliki afinitas pengikatan terhadap kitin yang tinggi dan mampu menguraikan kitin menjadi bentuk yang lebih sederhana (Ukun, 2009). Penelitian yang dilakukan oleh Tistama et al, 2017, beberapa cendawan entomopatogen uji menghasilkan konidia lebih cepat dibandingkan kondisi normal.
Hal ini merupakan salah satu ciri cendawan yang mengalami cekaman. Pemberian protein serum tidak menyebabkan terbentuk zona hambat, namun miselium di dekat protein lateks cenderung menipis dan lebih cepat membentuk konidia.
Soenartiningsih et al. (2008) menyebutkan bahwa cendawan yang ditumbuhkan pada media yang diberikan zat penghambatan, maka tingkat virulensinya akan menurun, sehingga memperlambat infeksi dan sporulasi. Pada Colletotrichum capsici dalam kondisi terhambat, struktur miselianya tipis dan tidak membentuk konidia. Kerusakan sebagian komponen penyusun dinding sel cendawan yang didominasi oleh kitin dan glukan menyebabkan tipisnya dinding hifa cendawan, sehingga diduga akan mengurangi daya virulensinya.
Hevein berperan sebagai kitinase/lisozim yang berperan dalam penghambatan pertumbuhan miselium. Kajian menarik dari Chye & Cheung (1995) menemukan ekspresi enzim tersebut lebih tinggi terjadi di dalam lateks dibandingkan organ lain seperti di daun dan akar. Hal ini dikarenakan lateks hasil
Prospek protein ini untuk dijadikan produk fungisida cukup tinggi, karena relatif stabil dengan perlakuan panas pada suhu 95C selama 10 menit bahkan masih dapat diekstrak pada sarung tangan hasil produksi karet sekalipun (Parijs et al., 1991).
Beberapa pengujian lanjutan dan kajian yang perlu dilakukan terkait pengaruhnya terhadap perubahan pH, kelembaban, radiasi matahari dan pengaruhnya terhadap tanaman yang diperlakukan dengan protein serum, serta metode pemisahan proteinyang mudah dan murah.
Penulis: Farriza Diyasti (POPT Ahli Muda) dan Antares M. Prawira (PMHP Ahli Muda)
