13.4 C
New York

Tiga Tantangan Industri Sawit Nasional

Published:

Agrofarm.co.id-Dalam situasi memperingati Hari Pahlawan, menjadi momentum dalam upaya memaknai aksi pahlawan dengan semangatnya dalam membuka gerbang kemerdekaan.

Di industri kelapa sawit, petani pun bisa dikategorikan sebagai pahlawan dalam membangun industri kelapa sawit yang kian tumbuh membesar.

Oleh karena itu, kemitraan menjadi kunci penting dalam mensinergikan industri yang telah menjadi penopang ekonomi negara.

Dengan asumsi sebesar 40% produksi bersumber dari perkebunan kelapa sawit milik petani, maka sebanyak 19,6 juta ton produksi CPO Indonesia bersumber dari kebun petani kelapa sawit. Tentunya, perkebunan kelapa sawit rakyat ini, juga memiliki kontribusi besar bagi konsumen masyarakat dunia.

Permintaan pasar global yang selalu meningkat, akan sejalan dengan pertumbuhan perkebunan kelapa sawit rakyat yang terus berkembang. Melaluikontribusi terhadap ekonomi nasional yang besar, maka perkebunan kelapa sawit rakyat harus mendapatkan prioritas dan dukungan besar bagi keberlanjutannya

Direktur Penghimpunan Dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Sunari mengatakan, hampir separuh perkebunan kelapa sawit indonesia adalah perkebunan petani swadaya. mereka hadir di setiap pulau di indonesia.

Pulau Sumatera dan Kalimantan memiliki luas lahan terbesar, termasuk wilayah timur indonesia seperti Sulawesi, Maluku dan Papua kehadiran mereka juga cukup nyata.

Sebab itu, kata Sunari, pemerintah telah melakukan upaya strategis dalam meningkatkan kinerja sektor sawit, hanya saja kata dia, persoalan utama yang dihadapi sektor sawit saat ini adalah menurunnya harga CPO yang juga pada berdampak pada kesejahteraan Petani.

Guna memperbaiki kondisi ini dan meningkatkan kinerja sektor sawit Indonesia, beberapa inovasi program perlu dilakukan dalam jangka pendek dan panjang untuk mengatasi masalah tersebut. Diantaranya perta, perbaikan dukungan utk petani sawit rakyat melalui peningkatan ketepatan sasaran [pendataan petani sawit rakyat].

Kedua, Dukungan perbaikan rantai pasok petani sawit rakyat/ peningkatan daya saing, semisal melakukan perbaikan tata kelola pasokan dari petani ke PKS, daya saing PKS dan perbaikan infrastruktur logistik.

“Ketiga, penyediaan layanan informasi kepada petani sawit rakyat atau penyediaan referensi harga TBS dan aplikasi petani sawit,” ungkap dia dalam Diskusi online Ngopi Sawit dan Launching Buku Panduan Sawit: Perkebunan Sawit Rakyat, yang diterbitkan InfoSAWIT didukung BPDPKS, Kamis (10/11/2022).

Sementara itu, Ketua Bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Tofan Mahdi menuturkan, secara umum terdapat tiga tantangan yang dihadapi industri sawit nasional, Pertama, bersama-sama berkolaborasi dalam rantai pasok kelapa sawit, semisal dengan tetap menjaga kinerja perkebunan kelapa sawit sehingga tingkat kesejahteraan petani sekitar kebun sawit juga tetap terjaga bahkan terangkat, kendati dengan kondisi ekonomi global yang masih belum menentu.

Lantas tantangan kedua ialah terkait keberlanjutan, terlebih dari total produksi minyak sawit Indonesia mencapai 53 juta ton sekitar 70% produk kelapa sawit Indonesia di ekspor, sementara 30% diserap di tingkat domestik.

Dimana pasar utama minyak sawit adalah India, China, Uni Eropa dan Pakistan. Untuk pasar Uni Eropa kata Tofan, menuntut sustainability, namun demikian persyaratan aspek keberlanjutan menjadi keniscayaan supaya bisa bertahan.

“Sustainability ini memastikan kelapa sawit tetap eksis dan berkelanjutan, terlebih pemerintah sudah komit untuk tidak menambah lahan, kendati produktivitas sawit rakyat masih menjadi PR besar,” katanya.

Tantangan ketiga ialah terkait kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, lantaran kebijakan yang dikeluarkan pemerintah bisa berdampak serius terhadap industri. “Maka itu, kita harus sering duduk bersama,” tandas Tofan.

Sekjen Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Mansuetus Darto mengungkapkan, sampai saat ini kondisi petani kelapa sawit utamanya petani sawit swadaya tidak mengalami perubahan, kendati pemerintah telah menerbitkan beragam kebijakan.

“Apakah semua kebijakan itu meningkatkan jumlah petani swadaya di Indonesia,” ujar dia.

Ke depan membangun kemitraan adalah dengan membangun kemitraan yang menguntungkan dan sejajar. Lantaran dalam konteks kemitraan petani mesti adil, dan menguntungkan secara bersama baik petani maupun pabrik kelapa sawit.

“Selama ini apakah kemitraan petani sudah seimbang dan sejajar, adil dan menguntungkan? Apakah pabrik sawit bersedia membagi saham kepemilikannya dengan petani?,” tutur Darto.

Sampai saat ini juga kata Darto, petani masih belum memiliki daya tawar tinggi dan tidak bisa menentukan harga TBS Sawit nya, serta bagaimana posisi tawar koperasi dengan pabrik sawit. Ke Depan,” jelas Darto.

“Kedepan berikanlah kesempatan masyarakat untuk mengelola kelapa sawit kedepan. Ini butuh kebijakan yang nyata,” ujar Darto. Bantolo

Related articles

Recent articles