Agrofarm.co.id, Tangerang Selatan– Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan hilirisasi minyak atsiri nilam dan cengkeh melalui pengembangan teknologi pemurnian, peningkatan standardisasi mutu, dan kolaborasi riset dengan industri.
Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk di dalam negeri serta memperkuat daya saing minyak atsiri Indonesia di pasar global.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PRSIMB) BRIN, Nugroho Adi Sasongko, menegaskan bahwa hilirisasi dan penguasaan teknologi pemurnian diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah minyak atsiri Indonesia. Menurutnya, meskipun Indonesia merupakan produsen bahan baku, kepemilikan paten dan nilai tambah ekonomi minyak atsiri masih didominasi negara pengolah.
“Dari puluhan ribu paten minyak atsiri di dunia, Indonesia baru diwakili Universitas Diponegoro dengan delapan paten. Tanpa hilirisasi dan teknologi pemurnian, kita akan terus bergantung pada penjualan bahan mentah dengan harga rendah,” ujar Nugroho dalam Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Rantai Nilai Minyak Atsiri Berbasis Nilam dan Cengkeh di KST. B.J. Habibie, Serpong, Kamis (8/10/2026).
Nugroho menambahkan, BRIN mendorong peningkatan pemanfaatan hasil riset oleh industri setiap tahun. Peningkatan tersebut ditargetkan berlangsung secara bertahap, sekitar 10 persen per tahun, agar hasil riset dapat dimanfaatkan secara lebih luas.
Untuk mendukung upaya tersebut, diperlukan pemetaan rantai nilai industri guna mengidentifikasi tahapan produksi yang memiliki peluang peningkatan nilai tambah. Peneliti Ahli Muda PRSIMB BRIN, Yoyon Wahyono, menggambarkan peluang tersebut melalui perbedaan nilai ekonomi produk nilam, mulai dari daun nilam kering sekitar Rp15.000, minyak nilam Rp600.000, hingga parfum premium berbahan nilam yang dapat mencapai Rp2,5 juta.
“Pemetaan rantai nilai dilakukan untuk mengidentifikasi pemangku kepentingan, aliran bahan baku dan informasi, nilai ekonomi, serta peluang hilirisasi. Petani berperan menjaga kualitas bahan baku, sedangkan penyuling dan koperasi mengolah bahan serta menjaga mutu minyak. Kolektor dan eksportir memperluas akses pasar, sementara industri hilir meningkatkan nilai tambah melalui inovasi produk dan penguatan merek,” ujarnya.
Yoyon juga menekankan perlunya sinergi BRIN dan Kementerian Pertanian dalam pengembangan riset, teknologi, dan regulasi.
Kajian lanjutan diperlukan untuk memvalidasi pohon industri, data ekspor dan impor, nilai tambah pada setiap tahapan produksi, serta kebutuhan teknologi para pemangku kepentingan.
Salah satu kebutuhan teknologi dalam penguatan hilirisasi minyak atsiri adalah peningkatan kualitas dan kemurnian produk. Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Egi Agustian, menyoroti bahwa ekspor minyak atsiri Indonesia masih didominasi bahan mentah, sementara standardisasi mutu belum optimal.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi pengembangan produk turunan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Ia menjelaskan, teknologi ekstraksi dan pemurnian, seperti karbon dioksida superkritis, fraksinasi vakum, dan distilasi molekuler, dapat meningkatkan kemurnian senyawa minyak atsiri hingga 99,2 persen. Teknologi tersebut membuka peluang pengembangan produk turunan untuk industri kosmetik dan farmasi.
“Selain pemurnian, riset BRIN mencakup formulasi produk kosmetik dan pemanfaatan limbah rimpang jahe menjadi bioarang. Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah minyak atsiri, mengurangi limbah, serta memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global,” ujarnya.
Peningkatan mutu minyak atsiri juga perlu dilakukan sejak tahap penyulingan. Kepala Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala, Syaifullah Muhammad, menjelaskan bahwa inovasi penyulingan bertahap dapat menjadi solusi untuk mengatasi variasi kualitas minyak nilam yang dihasilkan masyarakat.
“Banyak minyak nilam yang dihasilkan masyarakat ditolak karena tidak memenuhi persyaratan pH yang ditetapkan pembeli internasional. Melalui teknologi tepat guna, seperti penyulingan bertahap, nilai pH tersebut dapat ditingkatkan secara signifikan sehingga produk berpeluang diterima pasar,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan industri nilam perlu mengintegrasikan seluruh tahapan dari hulu hingga hilir, mulai dari teknologi budi daya dan pemurnian hingga digitalisasi pasar.
Penerapan inovasi teknologi diharapkan dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat sekaligus memperluas akses produk nilam ke pasar kosmetik dan farmasi global.
Penguatan industri minyak atsiri dari hulu hingga hilir membutuhkan langkah terpadu, tidak hanya dalam pengembangan teknologi, tetapi juga penguatan rantai pasok, standardisasi mutu, dan kerja sama dengan industri. Sejalan dengan kebutuhan tersebut, forum diskusi merumuskan tiga fokus utama pengembangan industri minyak atsiri.
Fokus pertama adalah penguatan rantai nilai dan hilirisasi melalui diversifikasi produk turunan cengkeh, seperti eugenol, isoeugenol, vanilin, dan bahan kimia aromatik lainnya untuk industri flavor dan fragrance.
Fokus kedua mencakup peningkatan daya saing dan keberlanjutan industri melalui inovasi teknologi budi daya, efisiensi produksi, standardisasi mutu, serta penguatan pasokan bahan baku. Sementara itu, fokus ketiga diarahkan pada penguatan kolaborasi riset dan industri yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan pelaku usaha.
FGD Penguatan Rantai Nilai Minyak Atsiri Berbasis Nilam dan Cengkeh tersebut melibatkan pelaku industri, antara lain PT Natura Aromatik Nusantara dan PT Indesso Aroma.
Melalui kolaborasi pentaheliks yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media, Indonesia didorong untuk mengembangkan industri minyak atsiri yang berdaya saing, bernilai tambah tinggi, dan berkelanjutan.
Melalui penguatan riset, teknologi pemurnian, standardisasi mutu, dan kolaborasi lintas sektor, hilirisasi nilam dan cengkeh diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah di dalam negeri sekaligus memperkuat posisi produk minyak atsiri Indonesia di pasar global.
