19.4 C
New York

Prof Bungaran Saragih: Hilirisasi Bukan Sekadar Membangun Pabrik

Published:

Agrofarm.co.id, Tagerang-Prof Bungaran Saragih, Menteri Pertanian RI periode 2000-2004 mengungkapkan bahwa hilirisasi sering kali disederhanakan menjadi pembangunan pabrik.

“Padahal, pabrik hanyalah salah satu bagian,” ujar dia dalam Seminar Nasional Rice Resilience Forum 2026: “Membangun Ekosistem Perberasan Indonesia yang Berdaya Saing, Tangguh terhadap Perubahan Iklim, dan Berkelanjutan dari Hulu hingga Hilir yang digelar di Tagerang, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, hilirisasi yang sebenarnya adalah peningkatan kemampuan seluruh ekosistem dari komoditas menjadi produk, dari produk menjadi teknologi, dari teknologi menjadi kekayaan intelektual, dan dari kekayaan intelektual menjadi industri-industri baru.

Kelapa sawit memberikan pelajaran penting

Bungaran mencontohkan, Indonesia telah menjadi produsen terbesar dunia dan berhasil mengembangkan berbagai produk pangan, oleokimia, kosmetik, dan bioenergi. “Tetapi pekerjaan kita belum selesai,” ujar dia.

Sekarang yang harus menjadi prioritas, kata Bungaran,  meningkatkan produktivitas, terutama kebun rakyat, mempercepat peremajaan, memperbaiki legalitas dan ketertelusuran.

Selain itu, mengatasi penyakit tanaman, meningkatkan efisiensi pabrik, mengolah limbah menjadi energi, pupuk, dan biomaterial, serta memastikan nilai tambah tidak hanya terkonsentrasi pada sebagian kecil pelaku.

Tak hanya itu, tebu bukan hanya gula. “Dalam ekosistem biorefinery yang terintegrasi, tebu dapat menghasilkan gula, bioetanol, listrik dari bagasse, pupuk organik, pakan, dan berbagai produk berbasis biomassa,” kata Bungaran.

“Artinya, apa yang dahulu kita sebut sebagai limbah dapat berubah menjadi bahan baku bagi mata rantai berikutnya.”

Prinsip yang sama berlaku untuk kelapa, kakao, kopi, sagu, rumput laut, hasil hutan, peternakan, perikanan, dan hortikultura.

“Setiap wilayah tidak perlu meniru wilayah lain. Setiap daerah harus menemukan keunggulan biologisnya sendiri, kemudian membangun klaster agroindustri sesuai dengan ekologi, budaya, keterampilan, dan akses pasarnya,” jelas dia.

Hilirisasi Hortikultura

Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Freddy menjelaskan mengatakan Indonesia memiliki 569 jenis komoditas hortikultura yang dapat dikembangkan, mulai dari buah-buahan, sayuran, tanaman obat hingga tanaman hias.

Dari jumlah tersebut, komoditas hortikultura binaan terdiri atas 60 komoditas buah-buahan, 82 komoditas sayuran, 66 tanaman obat, dan 361 tanaman hias.

Freddy mengatakan sejumlah komoditas hortikultura yang dikembangkan di berbagai daerah juga berpeluang menjadi andalan ekspor. Potensi tersebut antara lain terdapat di Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Jawa.

“Banyak hasil di Sulawesi Utara, di Sulawesi Selatan, di Jawa dan bisa menjadi andalan ke pasar-pasar ekspor,” ujar dia.

Menurut Freddy, pengembangan hortikultura tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Penguatan sisi hilir juga diperlukan, mulai dari penanganan pascapanen, pengolahan, pengemasan hingga pemasaran.

Ia mengatakan struktur dan akses pasar menjadi bagian penting dalam pengembangan agribisnis hortikultura. Seluruh subsistem perlu terhubung, mulai dari budidaya, penanganan pascapanen hingga pemasaran kepada konsumen.

Penguatan huluisasi dan hilirisasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk hortikultura sekaligus membuka akses ke pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.

Related articles

Recent articles