Agrofarm.co.id -KOLTIVA, Perusahaan AgriTech Swiss–Indonesia yang beroperasi di 94 negara dan mendukung lebih dari 19.000 pelaku usaha, meluncurkan inisiatif ketertelusuran berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mentransformasi rantai pasok agribisnis global. Proyek percontohan pertama akan dijalankan bersama SUGATA PTE. LTD, pemasok kopi dan kakao berkelanjutan yang berbasis di Aceh, Indonesia, sekaligus memperkenalkan model ketertelusuran berbasis AI pertama di kawasan yang mengedepankan praktik pengadaan bertanggung jawab, melalui inisiatif AIAP for Industry yang dipimpin oleh AI Singapore.
Inisiatif ini merespons meningkatnya tekanan regulasi global, termasuk EU Deforestation Regulation (EUDR), U.S. Food Safety Modernization Act (FSMA), serta Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD) dan Corporate Sustainability Due Diligence Directive (CSDDD) di Eropa.
Dengan mengintegrasikan AI kelas dunia ke dalam ekosistem digitalnya, kolaborasi ini mempercepat pengembangan solusi ketertelusuran dan intelijen keberlanjutan berbasis AI. Proyek strategis ini memanfaatkan kerangkateknis mendalam dari AI Singapore untuk menanamkan kapabilitas cerdas di setiap tahap rantai pasok—mulai dari AI untuk Keberlanjutan dan Ketahanan Risiko, Operasional Lapangan, hingga Pembiayaan yang Adil—serta menegaskan posisi KOLTIVA di garis depan sektor AgriTech global.
Menanggapi makna strategis kolaborasi ini, Joe Keen Poon, Executive Chairman of the Board KOLTIVA, Kamis (5/2/2026), menyampaikan, “Sebagai perusahaan global, saya bangga menyertakan evolusi teknologi kami pada ekosistem kelas dunia AI Singapore. Dengan memanfaatkan kepemimpinan AI Singapura, kami memberdayakan petani di 94 negara untuk menavigasi kompleksitas regulasi global melalui rantai pasok yang benar-benar cerdas dan berbasis data.”
Ia menambahkan, “Rantai pasok global menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya—dari pengetatan regulasi kepatuhan, meningkatnya tuntutan konsumen akan sistem pangan yang transparan, hingga urgensi inklusi petani kecil. Kondisi ini mendorong pergeseran mendasar, di mana ketertelusuran berbasis AI menjadi katalis untuk membangun sistem pangan yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. Kolaborasi dengan SUGATA dan AI Singapore merupakan langkah penting untuk menjadikan rantaipasok global tidak hanya transparan, tetapi juga benar-benar cerdas.”
Kolaborasi ini mengeksplorasi peningkatan kapabilitas yang mentransformasi pengelolaan keberlanjutan dan operasional lapangan di seluruh rantai pasok agribisnis.
Di jantung inisiatif ini terdapat AI untuk Keberlanjutan dan Ketahanan Risiko, di mana kecerdasan prediktif memperkuat cara pelaku agribisnis mengukur dan mengelola kinerja lingkungan dan sosial. Dengan mengintegrasikan analitik lanjutan dan pelaporan otomatis ke dalam ekosistem digital KoltiTrace, kolaborasi ini memungkinkan pemantauan risiko iklim, hasil panen, dan kepatuhan secara real-time. Laporan keberlanjutan berbasis AI, verifikasi data berkelanjutan, serta dokumentasi ESG otomatis membantu pelaku usaha dan investor beralih dari kepatuhan reaktif menuju aksi iklim proaktif yang berbasis data terverifikasi.
Penerapan AI pada operasional lapangan dan pemberdayaan proyek juga membawa dampak transformatif. Sistem penasihat cerdas membekali agronom dan manajer proyek dengan wawasan real-time untuk mendukung pengambilan keputusan di lapangan—mulai dari analitik profitabilitas, intelijen kontrak, hingga dasbor pelacakan risiko. Pendekatan ini membuat operasional tidak hanya lebih efisien, tetapi juga adaptif terhadap dinamika yang berubah, memastikan setiap intervensi lapangan berbasis data dan berorientasi dampak.
Laurence Liew, Director of AI Innovation di AI Singapore, menyatakan, “Melalui AIAP for Industry, AI Singapore dengan senang hati bermitra dengan Kudeungo Sugata (melalui Sugata Pte. Ltd) dan Koltiva untuk memajukan solusi AI yang memperkuat keberlanjutan dan ketahanan di seluruh rantai pasok agribisnis. Kolaborasi ini menyatukan komitmen kami dalam menghadirkan inovasi yang berdampak dan siap industri, sekaligus menumbuhkan talenta rekayasa AI lokal untuk masa depan.”
Sebagai klien pertama KOLTIVA yang mempilotkan solusi AI ini dalam operasi pengadaan kakao dan kopi di Indonesia, SUGATA mengintegrasikan pemetaan lahan secara menyeluruh, pelatihan dan pendampingan bagi produsen, serta skema pembayaran premium yang terkait dengan praktik berkelanjutan.
Sementara itu, Furqonudin Ramadhani, CTO dan Co-Founder KOLTIVA, menegaskan, “Kami memprioritaskan pengembangan bersama platform Pelaporan Keberlanjutan dan Kepatuhan berbasis AI dengan pemantauan kualitas data terintegrasi. Sistem ini akan mengotomatisasi proses pelaporan, menggantikan alur kerja manual dengan dokumentasi ESG dan uji tuntas yang cepat, akurat, dan selaras dengan standar global.
AI juga akan memantau serta memvalidasi data lintas sistem, mendeteksi anomali, dan memastikan integritas data lapangan maupun transaksi.” diany
