Agrofarm.co.id, Yogyakarta-Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan di Indonesia yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Budidaya dan pengolahan kakao yang baik dapat mendukung peningkatan produktivitas dan kualitas kakao Indonesia.
Dalam kegiatan praktek lapang yang dilakukan oleh mahasiswa INSTIPER Yogyakarta, diajarkan pengolahan pasca panen kakao hingga pengolahannya menjadi produk makanan dan minuman.
Praktik lapang merupakan bagian dari kurikulum di INSTIPER yang bertujuan untuk menyiapkan mahasiswa untuk dapat berkerja di lapangan dengan mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah diperoleh dari proses kuliah maupun praktikum.
Praktik lapang ditujukan bagi mahasiswa semester lima dengan syarat sudah menempuh kuliah sebanyak 80 SKS.
Praktek lapang mahasiswa INSTIPER diselenggarakan pada bulan Mei hingga Juli 2025 yang dibagi menjadi beberapa gelombang. Praktek lapang pengolahan kakao ditujukan bagi mahasiswa Prodi Agroteknologi dan Prodi Teknologi Hasil Pertanian.
Dr. Sri Suryanti selaku Ketua Prodi Agroteknologi menjelaskan, “Praktik lapang merupakan bagian dari implementasi pembelajaran berbasis praktik. Bagi mahasiswa Prodi Agroteknologi, mahasiswa tidak hanya diajarkan praktek budidaya tanaman kakao di kebun SEAT Ungaran, namun mahasiswa juga diajarkan praktek pasca panen yang dipandu oleh dosen-dosen Prodi Teknologi Hasil Pertanian. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman menyeluruh tentang budidaya kakao, pengolahan pasca panen untuk mendapatkan biji kakao berkualitas, hingga pengolahan menjadi makanan dan minuman berbahan dasar kakao”.
Pada kegiatan praktek lapang, mahasiswa dilibatkan secara aktif dalam seluruh tahapan proses pengolahan kakao, mulai dari fermentasi biji kakao dilanjutkan dengan proses penyangraian untuk mengembangkan aroma dan karakter rasa khas kakao. Setelah itu, mahasiswa melakukan pengepresan pasta kakao untuk memisahkan lemak kakao (cocoa butter) dari padatan kakao (cocoa mass).
Dr. Dina Mardhatillah yang merupakan dosen Prodi Teknologi Hasil Pertanian dan merupakan dosen pembimbing lapang untuk pengolahan kakao menjelaskan, “Memahami bagaimana proses fermentasi kakao penting untuk diketahui oleh mahasiswa, keberhasilan proses fermentasi akan mempengaruhi cita rasa dan kualitas biji kakao yang dihasilkan”.
Bagi mahasiswa Prodi Teknologi Hasil Pertanian, praktek pengolahan pasca panen kakao tidak berhenti sampai memisahkan lemak kakao dan padatan kakao, mahasiswa juga ditantang untuk mengembangkan produk olahan kakao. Mahasiswa diminta membuat formulasi dan produksi minuman coklat hingga pembuatan permen coklat sebagai bentuk hilirisasi. Proses ini tidak hanya menuntut pemahaman teknis, tetapi juga kreativitas dan inovasi dalam menciptakan produk bernilai tambah yang dapat bersaing di pasar.
Mohammad Prasanto Bimatio, M.Eng., selaku Plt. Ketua Prodi Teknologi Hasil Pertanian menambahkan, “Kegiatan ini dilakukan sebagai media pembelajaran yang kontekstual dan aplikatif, sekaligus bentuk dukungan terhadap hilirisasi komoditas kakao nasional. Kami ingin mencetak lulusan yang tidak hanya paham teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis serta jiwa kewirausahaan berbasis hasil perkebunan, khususnya kakao. Kegiatan ini juga membuka peluang untuk sinergi dengan berbagai program penguatan SDM, termasuk potensi dukungan dari BPDP dan lembaga lain yang memiliki perhatian terhadap pengembangan komoditas kakao. Harapannya, INSTIPER bisa menjadi mitra strategis dalam mencetak generasi muda perkebunan yang kompeten dan siap menghadapi tantangan industri kakao ke depan”.
Pembelajaran dengan melibatkan berbagai program studi di INSTIPER merupakan bentuk sinergi untuk memastikan mahasiswa mendapatkan ilmu pengetahuan yang holistik dan kemampuan praktek untuk siap memasuki dunia kerja.
