19.4 C
New York

GAPKI dan SPKS Dukung Petani Sawit Menuju Kemandirian Ekonomi

Published:

Agrofarm.co.id, Jakarta- Ketua Umum Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Sabarudin, menyampaikan apresiasi tinggi kepada Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) atas kesediaan mereka membuka ruang kolaborasi untuk mendukung pemberdayaan petani sawit.

Apresiasi ini disampaikan dalam Nota Kesepahaman yang ditandatangani oleh Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono dan Ketua Umum SPKS, Sabarudin di Kantor Pusat GAPKI, Sudirman Jakarta pada Selasa 17 Juni 2025.

Dalam sambutannya, Sabarudin menyoroti besarnya kontribusi petani dalam industri sawit nasional.

“Kita tahu bersama bahwa sekitar 16 juta hektar sawit Indonesia, 40% di antaranya dikelola oleh petani. Ini cukup besar bagi kami melihat penguasaan dan pengelolaan yang dilakukan oleh petani sawit,” ujarnya.

SPKS, lanjut Sabarudin, memiliki 76.700 anggota yang tersebar di 22 kabupaten di 11 provinsi, meliputi Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Selama ini, SPKS aktif mendukung petani sawit di lapangan melalui berbagai program, termasuk penyediaan pelatihan good agricultural practices untuk memastikan pengelolaan sawit sesuai prinsip keberlanjutan, penguatan kelembagaan koperasi sebagai entitas ekonomi petani, serta pendampingan langsung untuk kemitraan dengan beberapa perusahaan.

“Kami sangat mendukung sertifikasi ISPO yang menjadi kewajiban kita bersama. Apalagi saat ini sudah keluar Perpres terbaru yang bersifat mandatori. Kami juga sangat konsen dengan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), mendampingi secara langsung anggota kami yang siap untuk PSR,” tegas Sabarudin.

Sabarudin juga mengungkapkan sejumlah tantangan yang dihadapi petani. Banyak koperasi SPKS yang sudah terbentuk namun masih menjual hasil panen melalui perantara atau tengkulak.

“Kami ingin ada kemitraan antara petani dan perusahaan anggota GAPKI, terutama bagi petani sawit SPKS yang sudah punya koperasi dan berkomitmen pada sawit berkelanjutan,” harapnya.

Menurut Sabarudin, Bagi SPKS, hari ini menjadi momentum bersejarah. “Kami berterima kasih banyak kepada Pak Ketua GAPKI, Pak Eddy, dan juga anggota GAPKI yang telah membuka ruang untuk SPKS bersama-sama mendorong kemitraan di level masing-masing,” kata Sabarudin.

Ia menekankan pentingnya kemitraan yang adil, setara, strategis, dan berkelanjutan, serta bisa menyasar berbagai aktivitas di lapangan.

Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat sektor perkebunan kelapa sawit dengan prinsip keberlanjutan dan keadilan, meningkatkan kesejahteraan petani, dan membangun tata kelola sawit nasional yang kuat, bebas deforestasi, kredibel, serta mendapatkan pengakuan global.

Selain itu, kolaborasi ini dirancang untuk memperkuat hubungan antara perusahaan dan petani dalam rantai pasok, meningkatkan produktivitas melalui program pelatihan, penguatan kelembagaan koperasi, dan memfasilitasi alat produksi yang dibutuhkan petani.

SPKS sangat fokus pada keberlanjutan dan pencapaian sertifikasi. “Kami berharap kerja sama ini dapat memberikan kontribusi kita bersama-sama bisa melakukan pendampingan sertifikasi ISPO di lapangan sehingga dapat berkontribusi pada penguatan tata kelola sawit rakyat sesuai dengan regulasi pemerintah,” kata Sabarudin.

Ia juga melihat potensi kerja sama dalam program PSR, mengingat banyak anggota SPKS yang telah teridentifikasi siap untuk replanting.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menegaskan komitmen kuat asosiasinya dalam membangun sistem industri kelapa sawit yang berkelanjutan.

Menurut Eddy Martono keberlanjutan industri sawit nasional tidak akan tercapai tanpa sinergi yang kokoh antara perusahaan dan petani swadaya, yang merupakan bagian integral dari rantai pasok industri.

Ia mengungkapkan bahwa melalui kerja sama ini, baik GAPKI maupun SPKS dapat saling mendukung dalam berbagai aspek.

“Kami bersepakat untuk saling mendukung dalam meningkatkan kapasitas petani dan kelembagaan petani, mendorong terbentuknya kemitraan usaha perkebunan antara koperasi petani dengan perusahaan-perusahaan anggota GAPKI, serta menciptakan tata kelola yang lebih transparan, berkeadilan, dan sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan,” ujar Eddy Martono.

Eddy Martono menekankan bahwa kesepakatan ini bukanlah sekadar dokumen formalitas, melainkan pijakan awal yang konkret untuk berbagai program nyata di lapangan.

“Kita akan bersama-sama memastikan bahwa petani sawit, khususnya anggota SPKS, dapat lebih kuat secara kelembagaan, lebih mandiri secara ekonomi, dan lebih siap menghadapi tantangan global, termasuk tuntutan keberlanjutan dan pasar internasional,” tambahnya.

GAPKI juga menyambut baik komitmen SPKS dalam memperkuat koperasi dan mendorong praktik-praktik pertanian berkelanjutan.

Kolaborasi ini disebut Eddy Martono sebagai wujud nyata bahwa pengusaha dan petani dapat duduk bersama secara setara, didasari semangat gotong royong demi masa depan industri kelapa sawit Indonesia yang lebih baik.

Related articles

Recent articles