Agrofarm.co.id, Bali-Perubahan iklim sangat nyata terjadi dan tengah meneror keberlangsungan hidup manusia. Ini bukan hanya sekadar isu lingkungan, tetapi juga sekaligus ancaman nyata bagi kelangsungan hidup tanaman kelapa sawit.
Peneliti dari Colombian Oil Palm Research Centre (Cenipalma), Ivan Mauricio Ayala Diaz menyatakan bahwa suhu tinggi dapat berdampak buruk pada tanaman sawit.
Hal ini disampaikan dalam International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) 2025 Day 3 di Bali Beach Convention, Bali, Jumat (14/02/2025).
“Perubahan iklim memengaruhi suhu, yang berdampak langsung pada tanaman kita. Ini adalah kondisi di mana banyak penyakit dan hama muncul, serta kelangkaan yang akan mengganggu hasil panen,” ungkapnya.
Diaz menjelaskan bahwa dengan meningkatnya suhu dan perubahan kelembaban, tanaman kelapa sawit mengalami penurunan kemampuan ekologis. Hal ini juga berdampak pada ekosistem lainnya.
“Bahkan, dalam kasus tertentu, bibit bisa mati dan kumbang tidak dapat bertahan hidup di suhu yang tinggi,” tegasnya.
Data menunjukkan bahwa dalam 15 tahun terakhir, Kolombia mengalami epidemi penyakit yang mengancam pertanian. Di Kolombia sendiri, kata dia, telah kembali menggunakan prinsip agronomi dasar dan menerapkan irigasi buatan yang terbukti efektif.
“Kami menemukan bahwa penggunaan dripper dan sprinkler dapat meningkatkan efisiensi dari 20% menjadi 89%,” jelas dia.
Lalu juga dengan teknik konservasi kelembaban tanah, mereka tidak hanya memasok nitrogen, tetapi juga meningkatkan kelembaban tanah hingga 28% dan menurunkan erosi hingga 50%. Diaz turut menekankan pentingnya menentukan lokasi yang tepat untuk penanaman.
“Dengan teknologi lokasi yang tepat, kita dapat berkonsentrasi pada area yang paling cocok untuk menanam dan menerapkan irigasi,” katanya.
Pembibitan yang baik juga merupakan solusi jangka panjang yang harus dipertimbangkan. Perubahan iklim menimbulkan tantangan serius bagi pengelolaan tanaman, oleh karena itu, industri atau petani perlu cerdas dan memanfaatkan teknologi yang ada. Bantolo
