12.6 C
New York

Membangun Agroindustri Seperti Industri Kelapa Sawit

Published:

Agrofarm.co.id-Kelapa sawit merupakan komoditas minyak nabati terbesar di dunia yakni berkontribusi sebesar 23% dari seluruh minyak nabati. Indonesia juga merupakan negara terbesar penghasil minyak sawit di dunia dan berkontribusi sebesar 58%. Dengan kata lain, indonesia pula yang menjadi pemain kunci dalam industri minyak nabati dunia.

Industri kelapa sawit tidak berkembang dengan waktu yang singkat. Proses industrialisasi pada komoditas yang berasal dari afrika ini sudah dimulai dari zaman penjajahan.

Dimulai dari industri hulu yakni perkebunan untuk menghasilkan TBS dan pabrik ekstraksi menjadi CPO dan Kernel sampai dengan industri produk turunannya. Tidak ada produk yang tidak mengandung minyak sawit. Yang terbaru, Indonesia mengembangkan biodiesel sebagai salah satu produk andalan dalam industri energi terbarukan.

Indonesia hanya mengubah TBS menjadi CPO kemudian di ekspor? Anggapan ini sangat keliru karena sebagian besar ekspor produk minyak sawit Indonesia sudah tidak lagi berbentuk CPO. Dengan kata lain, Indonesia telah membangun industri pengolahan minyak sawit dengan sangat baik sehingga mampu menambahkan nilai pada produk-produk tersebut.

Industri kelapa sawit, tidak berdiri sendiri. Dia ditopang oleh industri-industri lain yang menjadikannya dapat lebih kompetitif. Pada sektor hulu, industri kelapa sawit didukung oleh industri sarana produksi pertanian (saprotan/saprodi) yang mumpuni. Tidak hanya perusahaan besar yang mampu mengakses saprotan atau saprodi, masyarakat atau petani bisa mengakses dari desa-desa mereka sendiri.

Industri saprodi pada kelapa sawit tidak hanya berkaitan dengan pupuk dan herbisida tetapi juga telah masuk pada industri alat berat. Excavator, motor grader, sampai dengan compacter merupakan alat wajib bagi kelapa sawit.

Alat-alat ini digunakan untuk memastikan evakuasi TBS dapat dilakukan tepat waktu. Sifat barang agribisnis yang mudah rusak (cepat basi) mengharuskan sistem transportasi yang mampu mengirimkan TBS ke PKS dalam waktu singkat. Pada akhirnya industri otomotif juga sangat berperan dalam sistem ini. Jutaan truck dari berbagai kubikasi juga memberikan kontribusi besar bagi Industri kelapa sawit.

Beberapa tahun terakhir, tantangan besar pada kelapa sawit telah memacu terbentuknya proses mekanisasi. Hal ini mendorong industri mesin pertanian secara masif. Mesin untuk pemupukan dan langsir pada berbagai kondisi lahan juga berkembang.

Mengembangkan Pada Komoditas Lain

Ada beberpa pembelajaran penting dari industri kelapa sawit yang harusnya dapat diadaptasi bagi komoditas lainnya.
Pertama, industri kelapa sawit tidak berdiri sendiri. Pada akhirnya, agroindustri bukan industri hulu saja.

Ia adalah sistem yang mengubungan setiap industri yang mendukung industri budidaya (hulu) dan pengolahan tingkat lanjut (hilir). Ibarat mesin, jika salah satu onderdil rusak, maka sistem tidak berjalan. Begitupun agroindustri, jika salah satu komponen penyusunnya terkendala, maka industri tidak dapat berjalan dengan baik.

Kedua, daya saing. Suka tidak suka, kelapa sawit adalah komoditas minyak nabati paling komptetitif. Harga yang lebih murah dengan stock yang melimpah menyebabkan kelapa sawit tidak tergantikan.

Komoditas lain baik hortikultura, tanaman pangan, perkebunan, maupun peternakan dan perikanan perlu mengembangkan struktur industrinya. Hal ini dilakukan agar komoditas bisa mendapatkan daya saingnya berupa harga yang kompetitif dalam industri itu sendiri maupun terhadap industri subtitusi maupun komplementernya.

Ketiga, pengembangan industri hilir. Tidak hanya cukup pada Industri hulu, pengembangan pada industri hilir sangat penting. Produk turunan harus terus dikembangankan agar membuat nilai tambah. Berkembanganya industri hilir, akan mengembangkan industri hulunya. Jika market atau pasar terus berkembang, harga komoditas akan terkerek naik.

Hal ini menjadi penyemangat para pengusaha, termasuk petani, untuk terus mengembangkan komoditasnya. Banyaknya konversi karet, sawah, jeruk, bahkan coklat ke kelapa sawit menunjukkan pentingnya mengembangkan industri komoditas agar tetap diusahakan petani maupun pengusaha.

Keempat, Peran Riset. Kemegahan industri ini tidak dapat berdiri jika tidak terdapat riset yang kuat. Perusahaan kelapa sawit besar biasanya memiliki pusat risetnya sendiri. Pada industri hulu, riset berperan dalam peningkatan produktivitas tanaman sehingga kelapa sawit mampu menghadapi tantangan operasional maupun tangangan pasar.

Dari sisi operasional, riset tentang bibit dan teknis budidaya terus dikembangkan agar kegiatan operasional menjadi lebih mudah. Hal ini akan mendorong biaya operasional yang lebih rendah.

Sebagaimana pada poin no-3, riset pada industri hilir juga signifikan untuk pengembangan industri hilirnya. Potensi hilirisasi dari sebuah komoditas perlu diperkuat. Tidak hanya riset pengembangan komoditas sebagai produk, tetapi juga riset untuk mempelajari pasar atau market dari produk turunan tersebut.

Seringkali riset produk yang tidak didukung dengan riset pasar yang memadai akhirnya tidak menghasilkan industrialisasi.

Akhirnya riset hanya menjadi tumpukan paper yang tidak memberikan dampak bagi perkembangan agroindustri. Akhirnya, kita harus mencontoh kelapa sawit untuk Indonesia emas 2045 dalam semua sektor agroindustri.

Oleh Taufik Hidayat Kepala Pusat Riset Agroindustri BRIN

Related articles

Recent articles