Agrofarm.co.id, Sumedang-Dalam upaya mendukung program Makan Bergizi Gratis Technolife Group meluncurkan Dapur Satelit.
Adapun Dapur satelit ini merupakan hasil riset dan pengembangan antara Technolife group dengan Pemerintah Kabupaten Sumedang, sebagai dukungan pemerintah pusat agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) terimplementasi secara efektif dan efisien.
Dengan solusi ini pemerintah tidak memerlukan anggaran yang besar untuk membangun dapur konvensional di daerah-daerah Tingkat kecamatan, atau dapur permanen yang membutuhkan waktu yang lama dalam membangun.
Evi Lusviana Pendiri Technolife Group bahwa dia ingin membantu pemerintah memecahkan masalah dalam mempercepat pembuatan masakan.
“Memasak itu tidak mudah, (sebelumnya) banyak melibatkan ibu-ibu PKK dan kelelahan. Tapi dengan dapur satelit ini, dapur kami hanya 6 jam (beroperasi) dan penyajian hanya 3 jam. Bisa sampai 600, 1.000 sampai 3.000 porsi,” ungkap dia pada acara Peluncuran Dapur Satelit Solusi End to End Program Makan Siang Bergizi Kabupaten Sumedang di di SD Negeri Sirah Cai Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Senin (18/11/2024).
Selain itu, kebersihan dapur lebih terjamin dan gizi dan nutrisi makanan tetap terjaga. “Kebersihan terjamin. Gizi dan nutrisi juga akan tetap terjaga dan sesuai dengan ketentuan dari Kemenkes. Mudah-mudahan ini akan jadi kontribusi kepada pemerintah dalam penyelesaian program ini,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama Technolife Surahman Novianto menjelaskan, makanan tersaji selalu dalam keadaan hangat yang melalui rangkaian proses sejak penyiapan peralatan yang bersifat modular sejak persiapan, proses pembuatan makanan hingga persediaan bahan makanan.
Pengoperasian Dapur Satelit menggunakan sumber daya utama, dan sistem teknologi informasi terintegrasi. Selain menggunakan sumber energi listrik dari PLN, Dapur Satelit juga dapat menggunakan panel Surya 3 kW dengan kapasitas baterai hingga 10 kwh yang bertahan hingga 5 jam.
Untuk instalasi air, sebut Surahman, Technolife melengkapi dengan tanki air berbahan stainless serta dilengkapi water filter untuk penjernih air, agar dapat menghasilkan air bersih.
Dapur Satelit juga dilengkapi dengan instalasi gas yang menerapkan sistem keamanan pendeteksi kebocoran gas dan terkunci secara otomatis apabila terjadi kebocoran.
Dapur satelit dilengkapi dengan system control dan monitoring terintegrasi berbasis teknologi informasi dalam pengoperasian Dapur Satelit berupa ketersediaan jumlah bahan baku yang digunakan baik makanan,LPG, listrik, air, jumlah persediaan bahan, jumlah makanan yang diproduksi dan didistribusikan ke siswa secara real time.
Untuk pengoperasian 100 unit Dapur Satelit membutuhkan investasi mulai Rp 1, 9 miliar mencakup 1 unit Dapur Center sarana,bangunan modular seluas 20 m2. Kapasitas produksi makanan antara 300-600 porsi dalam 3 jam.
Untuk luasan yang lebih besar yakni 42 m2 , investasinya Rp 2,7 milar. Dapur Satelit ini mampu memproduksi 300-600 porsi rentan kru masak 4 orang.Adapun Dapur Satelite dengan luasan paling besar sebesar 110 m2 yang mampu memproduksi makanan 1.000-3.000 porsi dalam 3 jam dengan awak sebesar 8 orang.
“Harga tersebut mencakup transfer pengetahuan pengoperasian dari persiapan, pemilihan bahan baku pangan hingga teknis pendistribusian dari Dapur Center ke Dapur Satelit serta sales after services.Pendampingan dan monitor juga kita lakukan,” jelas Surahman.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat (Jabar) Herman Suryatman menambahkan, dapur ini menggunakan teknologi energi terbarukan yang mampu menyediakan 600 porsi per hari makanan.
“Dapur Satelit ini seperangkat dukungan teknologi agar program Makan Siang Bergizi lebih optimal. Kelebihannya, pertama prosesnya cepat dengan menggunakan energi terbarukan dan menjamin gizi berimbang. Dapat dioperasikan oleh dua hingga empat orang saja, tapi bisa memberikan layanan optimal untuk 300 sampai 600 porsi,” ujar Herman.
Herman mengatakan program ini merupakan solusi terbaik untuk menjalankan program Makan Bergizi Gratis berjalan optimal, berkualitas, dan akuntabel.
“Ini baru gagasan dan uji coba, tentu nanti tindak lanjutnya kita melihat situasi dan kondisi. Paling utama Pemrov Jabar beserta 27 kabupaten kota sangat men-support Makan Bergizi yang merupakan program andalan Bapak Presiden dan Wakil Presiden Indonesia,” terang Herman.
Sebagai bukti keseriusan Pemprov Jabar dalam mendukung Makan Bergizi Gratis, dia mengatakan, program itu sudah diuji coba di berbagai kabupaten di Jabar.
Pj Bupati Sumedang Yudia Ramli menjelaskan bahwa teknologi itu sebagai alternatif.
“Terima kasih, Kabupaten Sumedang sudah sukses uji coba selama 2 bulan dengan konvensional. Ada alternatif dengan teknologi, ini menjadi salah satu solusi kita mengatasi kecepatan, higienis, keberlanjutan, dan (makanan) diberikan kepada anak-anak dalam keadaan hangat,” katanya.
Menurutnya, uji coba dapur satelit dengan Technolife dilakukan di SDN Sirahcai Jatinangor dan dan SDN Pamoyanan, di Jatigede.
Dapur Satelit terdiri dari 3 tipe, yaitu: Pertama, Tipe small, dengan luasan 20m2, cukup dengan kru masak berjumlah 2 orang dapat memproduksi makanan 300-600 porsi dalam 3 jam.
Kedua, Tipe medium, dengan luasan 42m2, cukup dengan kru masak berjumlah 4 orang dapat memproduksi makanan 600-1000 porsi dalam 3 jam.
Ketiga, Tipe large, dengan luasan 110m2, cukup dengan kru masak 8 orang dapat memproduksi makanan 1000-3000 porsi dalam 3 jam. Bantolo
