Agrofarm.co.id, Jakarta-Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengungkapkan bahwa melalui bantuan pangan beras juga ikut mendukung upaya pemerintah dalam menjaga kesejahteraan petani dalam negeri.
Ini dikarenakan Bulog ditugaskan untuk melakukan penyerapan beras yang berasal dari hasil petani lokal. Sejak 2022, realisasi penyerapan beras dalam negeri oleh Bulog terus meningkat.
“Pemerintah selama ini konsisten menjaga kesejahteraan petani dalam negeri. Badan Pangan Nasional bersama Bulog membantu penyerapan produksi beras hasil petani kita yang kemudian kita salurkan ke berbagai program intervensi, termasuk bantuan pangan beras seperti hari ini,” terang Arief dalam siaran persnya, Kamis (26/9/2024).
“Realisasi penyerapan beras dalam negeri Bulog pun kian meningkat. Grafiknya itu di 2022 capai 994 ribu ton. Lalu 2023 berhasil sampai 1 juta ton. Nah di tahun ini sampai minggu ketiga September sudah 908 ribu ton, sehingga kita bisa optimis di akhir 2024 nanti, penyerapan Bulog bisa terus meningkat,” tandasnya.
Atas upaya pemerintah yang senantiasa memperhatikan kepentingan petani tersebut, memberi dampak eskalasi terhadap pendapatan petani. Mengutip publikasi terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Hasil Pencacahan Lengkap Sensus Pertanian 2023 Tahap II, menyebutkan rata-rata pendapatan usaha pertanian perorangan di Indonesia adalah Rp 66,82 juta per tahun.
Sementara jika menurut Survei Pertanian Terintegrasi (SITASI) tahun 2021, rata-rata unit usaha pertanian perorangan memperoleh pendapatan sebesar Rp 15,41 juta dalam setahun. Dengan itu dapat diartikan rerata pendapatan usaha pertanian perorangan telah mengalami peningkatan sampai lebih dari 4 kali lipat.
BPS turut melaporkan bahwa dari seluruh usaha pertanian di Indonesia pada tahun 2023, sebanyak 68,10 persen termasuk dalam kategori petani skala kecil.
Dari kategori itu, secara nasional di 2023, petani skala kecil di Indonesia disebutkan mampu memperoleh pendapatan sebesar 8,50 US$ PPP (Purchasing Power Parities) di mana 1 US$ PPP sama dengan Rp 5.239,05 sehingga menjadi setara dengan Rp 44.507 per hari kerja.
Di sisi lain, pada tahun 2023, petani yang tidak termasuk kategori petani skala kecil dilaporkan mampu memperoleh pendapatan sebesar 368,34 US$ PPP atau setara dengan Rp 1.929.764 per hari kerja.
Ini naik signifikan karena pada 2021, menurut hasil SITASI, petani kategori ini kala itu hanya mampu menghasilkan pendapatan sebesar 106,54 US$ PPP atau setara dengan Rp 506.983 per hari kerja.
“Kami di Badan Pangan Nasional bersyukur pendapatan sedulur petani masih terjaga baik dan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Ini turut menandakan ekosistem pangan yang dibangun mulai dari hulu sampai hilir, berjalan cukup baik. Kita meyakini apabila semangat produktivitas petani terus menggebu, tentu ketercukupan kebutuhan konsumsi pangan dari pasokan domestik mampu terwujud, sehingga kemandirian pangan nasional pun kian kokoh,” jelas Kepala Bapanas Arief Prasetyo.
Sebelumnya Bank Dunia atau World Bank melaporkan bahwa harga beras di Indonesia 20 persen lebih mahal dibandingkan harga beras di pasar global.Meskipun harga beras di Indonesia tinggi, namun pendapatan petani lokal tetap rendah.
World Bank Country Director for Indonesia and Timor-Leste, Carolyn Turk, memperkirakan masyarakat Indonesia membeli beras dengan harga 20 persen lebih tinggi dibandingkan harga beras di pasar global.
“Harga eceran beras internasional di Indonesia secara konsisten lebih tinggi dibandingkan negara-negara besar ASEAN. Kami memperkirakan konsumen Indonesia membayar hingga 20 persen lebih banyak untuk makanan mereka dibandingkan di pasar bebas,” kata Carolyn dalam sambutannya di acara Indonesia International Rice Conference (IIRC) di Nusa Dua, Bali.
Namun, meski harga beras lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain di ASEAN, Bank Dunia menilai petani yang menanam padi memiliki pendapatan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan petani yang menanam tanaman hortikultura.
Carolyn mengutip data hasil Survei Pertanian Terintegrasi (SITASI) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengungkap rata-rata pendapatan bersih petani skala kecil hanya sekitar Rp 5 juta per tahun. Bantolo
