Agrofarm.co.id, Cibinong-Sorgum memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Sebagai sumber pangan, sorgum diharapkan dapat berkontribusi untuk menghadapi tantangan perubahan iklim.
Oleh karena itu, diperlukan pemahaman mendalam tentang berbagai produk yang dapat dikembangkan dari sorgum, serta dampaknya terhadap diversifikasi pangan. Pengembangan sorgum pada wilayah spesifik yang sesuai dari segi agroekologi dan budaya juga penting untuk keberlanjutan suatu komoditas.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, BRIN Puji Lestari menyampaikan bahwa sorgum dapat berpotensi menjadi pangan alternatif sekaligus menjadi salah satu strategi penting untuk mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi harga produksi tanaman pangan utama.
Mengangkat topik dengan judul Potensi Pengembangan Produk Berbasis Sorgum Mendukung Diversifikasi Pangan dan Pengembangan Sorgum Berbasis Masyarakat di Wilayah Flores, Webinar Teras-TP #2 yang dilaksanakan pada Selasa (02/04/2024).
“Topik ini sangat sesuai karena Indonesia fokus pada topik pertanian yang berkelanjutan untuk keanekaragaman hayati dan inovasi yang menekankan keberlanjutan value chain pangan melalui pemanfaatan berbagai jenis bahan pangan. Dalam kaitan tersebut, bagaimana kita mengeksplor produk sorgum yang bernilai tambah,” kata dia.
Puji Lestari, menambahkan tentu saja saat ini ketahanan pangan nasional dan global itu masih dalam permasalahan karena dampak bencana alam atau perubahan iklim yang berdampak ke penyusutan produksi pangan termasuk sorgum. Untuk itu diversifikasi pangan disini tentu saja merupakan bagian penting untuk mengurangi kerentanan terhadap produksi.
“Strategi promosi beragam jenis makanan atau produk pangan diperlukan untuk menciptakan sistem pangan lebih tahan terhadap perubahan eksternal dan cara penanganan risiko menjadi penting. Melalui diversifikasi ini menjadi peluang produk pangan alternatif, tahan lama, ramah lingkungan dan menarik konsumen,” ungkap dia.
Puji Lestari, menjelaskan sorgum menjadi kandidat yang menjanjikan tidak hanya untuk riset inovasi tetapi juga bagi masyarakat terutama di Flores. Dengan demikian, terbuka peluang untuk wilayah lain yang kondisinya agroekologinya relatif sama. Berdasarkan hal tersebut, sorgum biji sebagai bahan baku pangan diharapkan dapat berkelanjutan, sehingga menjadi pertimbangan alternatif pangan ke depan.
“Pengembangan sorgum di Flores NTT perlu didukung dengan pendampingan intensif yang berbasis masyarakat sehingga pangan tersebut bisa berkontribusi untuk menjadi suatu kebutuhan utama,” jelas dia.
Yudhistira Nugraha, Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan, menyampaikan topik kali ini sangat menarik karena kita mengetahui salah satu komoditas yang dapat menggantikan nasi adalah sorgum, karena teknologinya sudah ada. Kelebihan sorgum tidak hanya untuk pangan tetapi bisa juga untuk bioetanol, pakan ternak, pellet, dan pengganti batubara.
“Terkait diversifikasi pangan, Bappenas sudah merancang terkait keanekaragaman pangan dan salah satu komoditas yang dikembangkan yaitu sorgum. Tahun 2021 Kementan mengadakan Research Innovative Collaborative yang mencoba menerapkan teknologi-teknologi Sorgum di lokasi Flores NTT,” ujarnya.
“BRIN merancang akan berkolaborasi dengan Osaka University terkait dengan diversifikasi pangan sorgum. Ini juga akan melibatkan bagaimana referensi masyarakat terhadap pangan sorgum. Selain itu impact terkait penurunan diabetes yang ada di Flores setelah mengkonsumsi sorgum,” tambahnya.
Suarni, Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan, BRIN dalam paparan materinya Potensi pengembangan produk berbasis sorgum mendukung diversifikasi pangan, Ia menjelaskan potensi pengembangan produk berbasis sorgum mendukung diversifikasi ketahanan pangan dimana indeks ketahanan pangan Indonesia sekarang walaupun dari 2021 mengalami peningkatan ke 2022, tetapi peringkatnya masih rendah dibanding negara lain secara global dan Asia Pasifik.
Ia menambahkan faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan pangan di Indonesia adalah perubahan iklim yang tidak menentu yang berpengaruh terhadap fluktuasi harga pangan terutama era sekarang ini khususnya impor seperti gandum dan beras. Selain itu, pemahaman makanan bergizi pada umumnya masih relatif rendah.
Kelebihan sorgum sebagai bahan substitusi terigu, bebas gluten, sangat baik untuk penderita penyakit autoimun gluten, dan intoleransi gluten (olahan gluten-free), kaya gizi dengan protein, vitamin dan mineral, tinggi serat, baik untuk pencernaan memiliki anti aktivitas antioksidan. Hal ini berarti sorgum tidak hanya dapat menjadi diversifikasi pangan tetapi dapat dikonsumsi sebagai produk pangan fungsional. Sorgum memiliki kandungan zat besi yang lebih tinggi dibanding pada beras.
Suarni, menambahkan berdasarkan kandungan amilosa, varietas sorgum dikelompokkan kelompok dengan kandungan amilosa sangat rendah, rendah, sedang, dan tinggi. Sorgum dengan kadar tannin tinggi, berpengaruh terhadap rasa olahan dan bersifat antinutrisi, namun kadar tannin rendah tidak berpengaruh terhadap rasa olahan dan bersifat antioksidan. Oleh sebab itu sorgum harus melalui proses pengelolaan sesuai manfaatnya.
“Tim Riset BRIN sedang meneliti terkait tepung sorgum agar dapat 100 % untuk menghasilkan nutrisi tinggi: kaya akan serat, vitamin B, mineral, dan antioksidan serta Gluten free (tanpa menambah sereal lainnya). Kita akan patenkan produk ini karena kita mampu menggunakan tepung sorgum 100 % (memiliki antioksidan lebih tinggi) dan alat pengolahannya bisa dikembangkan,” jelas Suarni.
Di akhir presentasinya Suarni, menyampaikan perlunya dibentuk sorghum center untuk mengelola komoditas sorgum dari hulu sampai hilir, sebagai berikut; 1. Pembentukan “Pusat Pengembangan Sorgum Terpadu/Integrated Sorghum Development Centre” yang mencakup seluruh rangkaian kegiatan, dari perakitan varietas hingga pemasaran produk. Sumber teknologi berasal dari BRIN; 2. Fokus pengembangan sorgum pada lahan suboptimal, dengan pemilihan varietas yang tepat, tanpa mengganggu lahan subur. Dukungan informasi dari peta pengembangan sorgum dan sistem pakar sangat penting; Dan 3. Implementasi teknologi pascapanen yang tepat guna untuk menjaga kualitas dan kuantitas hasil panen. Data karakter fisikokimia dan sifat fungsional biji serta batang sorgum manis menjadi dasar penting untuk pemanfaatan setiap varietas untuk produk pangan.
Sementara narasumber KEHATI, Roni Megawanto, menyampaikan materi berjudul Pengembangan Sorgum Berbasis Masyarakat di Flores, NTT. Megawanto menjelaskan Pulau Flores secara alami memiliki tanah gersang dengan iklim kering, terutama di bagian timur, namun Sorgum dapat tumbuh dengan baik di lahan kering dan gersang, budidaya sorgum biayanya relatif murah, sehingga tidak perlu input tambahan pupuk dan pestisida kimia, bisa panen 2 -3 kali, tanaman serbaguna.
“Di Flores, sorgum memiliki akar budaya yang kuat dan dijuluki sebagai superfood,” tambahnya.
Webinar ini bertujuan untuk mengeksplor secara menyeluruh potensi pengembangan produk berbasis sorgum dan menganalisis dampaknya terhadap diversifikasi pangan. Melalui pemahaman yang lebih baik tentang potensi dan manfaat sorgum dalam mendukung ketahanan pangan global, diharapkan dapat ditemukan solusi yang inovatif dan berkelanjutan untuk tantangan pangan yang dihadapi oleh masyarakat global saat ini dan di masa depan. Natalia Lee
