Agrofarm.co.id, Jakarta- Guru Besar IPB University, Prof. Bungaran Saragih mengungkapkan bahwa mekanisasi pertanian memiliki potensi besar untuk meningkatkan pendapatan petani kecil.
“Mekanisasi pertanian memiliki potensi besar untuk meningkatkan pendapatan petani kecil dan memastikan terwujudnya ketahanan pangan nasional,” kata Bungaran Saragih pada seminar dan talk show bertajuk Pertanian Modern: Meraih Peluang Pasar Mesin Pertanian di Indonesia di The Oakwood Hotel TMII Jakarta, Kamis (7/3/2024).
Bungaran menekankan pentingnya praktik pertanian modern berkelanjutan dan potensi swasembada pangan melalui peran mekanisasi pertanian. Mekanisasi pertanian atau industri agrootomotif merupakan bagian dari subsistem agribisnis hulu yang harus berjalan secara silmutan dan harmonis untuk mendukung terwujudnya produksi pangan atau subsistem agribisnis on-farm (usaha tani).
Untuk mengembangkan adopsi mekanisasi pertanian yang lebih merata sesuai dengan kebutuhan nasional, Bungaran menyampaikan, perlunya dukungan berbagai stakeholder terkait, meliputi pemerintah, produsen dan distributor alsintan, lembaga pelatihan, hingga lembaga pembiayaan. Pasalnya, petani memiliki keterbatasan akses terhadap pengetahuan, teknologi, dan permodalan.
Kepala Balai Besar Mekanisasi Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Prabowo mengatakan, rerata usia petani yang bergerak di bidang pertanian saat ini di atas 45 tahun.
“Dari hasil deteksi kita, petani yang bergerak di bidang pertanian saat ini usianya 45 tahun ke atas dan diperkirakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2035 to zero SDM pertanian. Sisi lain, kebutuhan pemenuhan pangan sangat tinggi,” jelas Agung.
Oleh karena itu, kata Agung, salah satu solusi yang mampu menjawab kebutuhan pangan penduduk yang terus bertambah adalah implementasi mekansisasi pertanian secara masif.
“Kenapa harus beralih ke modern? Banyak keuntungan, yaitu mampu menurunkan tenaga kerja 69 persen, biaya produksi 31 persen, mengurangi susut hasil 68 persen, mampu meningkatkan produktivitas 10 persen, dan profit 20 persen,” ungkap Agung.
Agung mengatakan, saat ini pemerintah gencar melakukan mekanisasi untuk memenuhi kebutuhan pangan. Akan tetapi, penggunaannya belum precise alias tepat jumlah dan lokasi.
“Contoh mekanisasi di irigasi, pompo, apakah betul padi itu memang sebanyak itu airnya, sebetulnya tidak tergenang. Sebetulnya padi itu bukan tanaman tergenam kalau dilihat dari sejarahnya,” kata dia.
Wakili Ketua Asosiasi Teknologi Tanpa Awak (ASTTA), Asha W. Saelan menjelaskan memaparkan peluang dan tantangan teknologi pesawat nirawak (drone) di Indonesia. ASTTA bekerja sama dengan PRISMA mengembangkan materi pelatihan penyemprotan lahan pertanian bagi operator drone.
Principal Business Consultant (Program kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia /PRISMA), Nanang Widyanarko menyebutkan dalam berbagai kegiatan dalam meningkatkan adopsi mekanisasi untuk membantu peningkatan pendapatan petani kecil di pedesaan.
“PRISMA berkomitmen untuk membantu petani skala kecil mengadopsi teknologi mekanisasi sehingga pendapatan mereka dapat ikut meningkat,” ujar Nanang.
Ia menambahkan, strategi intervensi PRISMA melalui fasilitasi pelaku usaha dalam memperluas jangkauan pasar, peningkatan kapasitas pelaku pasar, dan memfasilitasi hubungan bisnis bagi perusahaan mesin.
Dian Wicaksono, CEO MRKTG menyampaikan bahwa pengetahuan pasar sangat penting bagi perusahaan mesin pertanian yang ingin memasuki pasar baru.
Sementara itu, Dimas Harvid, Cief Marketing Officer Sasana Digital menyoroti kesiapan lembaga pelatihan dalam membantu pelaku usaha mengembangkan dan mengoptimalkan saluran daring seperti media sosial untuk menjangkau lebih banyak pelanggan. Bantolo
