Agrofarm.co.id, Jakarta- Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tengah menggali lebih dalam potensi ekspor Indonesia ke Tiongkok, khususnya komoditas pertanian yang disimpan di gudang sistem resi gudang (SRG).
Hal ini mengemuka dalam pertemuan Bappebti dengan delegasi perdagangan rempah Kota Yulin, Tiongkok (Yulin Peoples Association for Friendship with Foreign Countries) di Jakarta.
“Pertemuan ini menjadi salah satu upaya mendorong ekspor rempah dari gudang SRG ke pasar global, khususnya Tiongkok, serta meningkatkan implementasi Pasar Lelang Komoditas (PLK) dan Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) di Indonesia,” jelas Sekretaris Bappebti Olvy Andrianita dalam siaran persnya, Selasa (8/8/2023).
Wakil Ketua Delegasi Perdagangan Rempah Yulin Sun Rujiun memaparkan tentang perkembangan industri, pertanian, dan perdagangan di Kota Yulin, Provinsi Guangxi. Yulin adalah pusat distribusi, perdagangan, dan pusat referensi harga rempah-rempah terbesar di Tiongkok.
Lebih dari dua pertiga rempah-rempah dunia didistribusikan di Yulin serta disebarkan ke seluruh Tiongkok dan Asia Tenggara. Tiga komoditas terpenting yang menjadi sektor inti industri rempah-rempah di Yulin adalah bunga lawang, kayu manis, dan gaharu.
Yulin banyak mengimpor rempah dari India, Vietnam, Myanmar, dan negara lainnya, termasuk Indonesia. Komoditas rempah potensial di Indonesia yang banyak diekspor ke pasar global, antara lain lada, cengkeh, kayu manis, vanili, kapulaga, andaliman, dan pala.
“Volume perdagangan Yulin lebih dari 800 ribu ton tiap tahun. Volume perdagangan terbesar pada 2022 meliputi bunga lawang, lada, jintan, buah rumput, jahe pasir, kayu manis. Pada 2022, total impor dan ekspor rempah-rempah di Yulin mencapai CNY 10 miliar dan impor rempah-rempah mencapai 97 persen. Impor dilakukan karena kebutuhan rempah-rempah dalam negeri tidak terpenuhi dari Kota Yulin sendiri, seperti lada, jintan, kapulaga, cengkeh, adas pedas, dan cabai kering,” papar Sun.
Menanggapi hal tersebut, perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Totok Hari Wibowo mengungkapkan, peluang Indonesia untuk bekerja sama dengan Tiongkok cukup besar. Hal ini mengingat Indonesia memiliki potensi rempah yang berkualitas tinggi.
“Indonesia memiliki komoditas rempah yang berkualitas tinggi serta memiliki potensi untuk dikembangkan dan dipasarkan ke dunia, seperti lada putih Muntok dari Bangka. Pemerintah akan mendorong agar fokus pada satu komoditas unggulan sehingga dapat meningkatkan derajat pelaku usaha atau petani,” ujar Totok.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan PBK Heryono Hadi Prasetyo menuturkan, Kementerian Perdagangan memiliki mekanisme lain dalam mendukung penguatan ekspor komoditas pertanian, termasuk rempah yaitu melalui program SRG dan PLK.
SRG merupakan sistem penyimpanan komoditas di gudang yang membantu petani dan pelaku usaha dalam melakukan tunda jual pada saat harga turun. Dengan menyimpan komoditas di gudang SRG, pemilik barang akan memperoleh resi gudang sebagai bukti kepemilikan dan dapat diagunkan ke bank sebagai alternatif pembiayaan.
“Di dalam SRG, komoditas yang disimpan memiliki standar mutu yang baik karena telah melalui uji mutu sebelumnya,” jelas Heryono.
Heryono juga menyampaikan, dalam mekanisme SRG, pemerintah memiliki program Skema Subsidi Resi Gudang. Maksudnya, pemilik komoditas di gudang SRG hanya akan membayar bunga pinjaman 6 persen per tahun dan selisih bunga merupakan subsidi dari pemerintah.
“Pemanfaatan SRG sebagai mekanisme pembiayaan berbasis komoditas dapat mendukung kegiatan eksportir komoditas yang diresigudangkan. Saat ini, telah muncul pengelola gudang dan pelaku SRG yang merupakan pelaku ekspor atau eksportir untuk beberapa komoditas, seperti kopi, rumput laut, beras organik, ikan,dan timah,” imbuh Heryono.
Dalam rangka mendukung implementasi SRG di Indonesia, PLK dapat membantu proses pemasaran komoditi SRG melalui lelang komoditas. PLK adalah pasar fisik komoditi terorganisir bagi pelaku usaha untuk bertransaski melalui sistem lelang. PLK diharapkan dapat membantu pemilik barang di Gudang SRG untuk memasarkan komoditasnya dan membantu pelaku usaha (eksportir) memperoleh komoditas ekspornya.
“Program SRG dan PLK diharapkan akan mendorong peningkatan ekspor Indonesia termasuk rempah-rempah, seperti lada, gambir, pala, dan kayu manis. Mengingat rempah merupakan komoditas yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Yulin, diharapkan ekspor rempah ini memiliki prospek yang menjanjikan ke Tiongkok,” lanjut Heryono.
Sekretaris Bappebti Olvy Andrianita menambahkan berbagai upaya terus dilakukan Bappebti dalam mendorong peningkatan ekspor dan menjaga stabilitas harga serta ketersediaan bahan pokok di Indonesia.
Selain penguatan SRG, Bappebti juga melakukan pengembangan PLK spot dan forward yang terintegrasi dengan SRG serta pengembangan PBK melalui kebijakan pembentukan harga acuan (price reference) untuk komoditas strategis, seperti crude palm oil (CPO) yang sedang digarap tahun ini.
Kebijakan ini bertujuan untuk membentuk harga acuan CPO yang transparan, akuntabel, dan real time melalui bursa berjangka di Indonesia. Dengan memiliki harga acuan CPO sendiri, penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) akan lebih jelas serta penerimaan negara dari pajak ekspor akan lebih optimal.
Harga acuan CPO juga dapat mendorong perbaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani dan penetapan harga acuan lain seperti biodiesel. Di sisi lain, Indonesia merupakan produsen dan eksportir CPO terbesar di dunia.
Penetapan harga acuan CPO menjadikan Indonesia sebagai pemengaruh pasar (market influencer) di pasar global. Olvy menuturkan, bukan tidak mungkin Indonesia akan memiliki harga acuan untuk komoditas unggulan lain.
Melihat besarnya manfaat harga acuan dan potensi ekspor rempah yang cukup besar, bisa jadi Indonesia akan memiliki harga acuan untuk komoditas rempah di Indonesia.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut Ketua Dewan Rempah Kejayaan Indonesia Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha; perwakilan pelaku usaha (eksportir) rempah; perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian serta beberapa pejabat di Bappebti. Dian
