13.4 C
New York

Program Bantuan Pangan Dinilai Berhasil Stabilkan Harga Beras dan Inflasi

Published:

Agrofarm.co.id,Jakarta- Bantuan pangan beras yang diberikan pemerintah telah berhasil menjaga harga beras dan inflasi.

“Dengan adanya bantuan pangan sebanyak 21,3 juta KPM (Keluarga Penerima Manfaat) tersebut, maka jika kita melihat daftar harga beras April-Juli itu relatif stabil,” kata Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa dalam Webinar Pataka 79 secara virtual pada Rabu, (2/08/2023).

Berdasarkan data Bapanas harga beras sejak bulan Maret-Juli 2023 relatif stabil dengan harga sekitar Rp 12.900 per kilogram. Harga beras medium stabil beberapa bulan pada saat dilakukan bantuan pangan beras, ujar dia.

Bantuan pangan beras diberikan 10 kilogram per KPM melalui Perum Bulog. Hingga 16 Juli 2023, sudah tersalurkan bantuan beras sebanyak 213.530 ton di 38 provinsi.

“Kalau kita melihat indikator keberhasilannya, dari targetnya 21,3 juta tersebut, maka sudah 100 persen diberikan kepada KPM selama tiga bulan,” ujar Ketut.

Adapun inflasi pada Juli 2023 tercatat 3,08 persen, turun dari bulan Juni yang sebesar 3,52 persen. “Khusus untuk komoditas beras pada bulan Juni 2023 memberikan andil/sumbangan deflasi sebesar 0,02 persen,” ungkap Ketut.

Kepala Divisi Perencanaan Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Epi Sulandari menambahkan, bantuan pangan beras ini berdampak nyata terhadap perekonomian dan masyarakat.

“Bantuan ini membuka lapangan kerja baru seperti buruh kemas, buruh muat, buruh bongkar, angkutan dan kerjasama dengan pihak swasta,” jelas Epi.

Selain itu, program bantuan pangan beras berhasil menekan laju rata-rata kenaikan harga beras di pasar umum menjadi 0,4 persen. .

“Kalau dibandingkan kenaikan harga antar bulan, maka selama 4 bulan kami menjalanakan bantuan pangan ini, laju kenaikan harga itu paling rendah dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Ini salah satu dampak bantuan pangan terhadap harga cukup terlihat,” ujar dia.

Pengamat pertanian sekaligus pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori mengatakan, bantuan sosial (bansos) beras lewat stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) terbukti berhasil menstabilkan harga beras dan angka inflasi.

Dilihat dari sisi permintaan (demand), dengan bansos beras 10 kg ke setiap KPM, Khudori mengatakan hal tersebut mampu menekan harga karena mereka tak perlu lagi membeli beras ke pasar.

“Ketika mereka tidak pergi ke pasar, tekanan kepada harga itu berkurang, menurun menjadi lebih murah,” kata Khudori.

Kemudian, ia mengatakan keberadaan bansos beras juga dapat dilihat dari sisi penawaran (supply). Volume bansos yang besar, sekitar 213,5 ribu ton atau 8,5 persen dari konsumsi bulanan, mampu mempengaruhi keseimbangan harga beras.

Jadi, ia menyebut dari dua sisi ini bisa dilihat mengapa stabilisasi harga kini cenderung menunjukkan adanya penurunan dan juga inflasinya. Bantolo

Related articles

Recent articles