Agrofam.co.id-Fadhil Hasan, Ketua Bidang Luar Negeri Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), mengungkapkan, pertumbuhan permintaan untuk minyak kelapa sawit relatif stabil selama periode tahun 2005-2015, namun turun menjadi 8,7% pada periode tahun 2016-2020.
Jumlah permintaan untuk periode tahun 2020-2025 diprediksi akan mengalami tren yang negatif.
Lebih lanjut dijelaskan untuk ekspor minyak kelapa sawit mengalami pertumbuhan yang menurun khususnya selama periode tahun 2020-2025.
Sementara, untuk konsumsi domestik diperkirakan meningkat pada periode tahun 2015-2025. Peningkatan ini terjadi didorong oleh adanya mandatori program biodiesel.
“Konsumsi telah mengalami shifting dari ekspor menjadi konsumsi domestik. Konsumsi domestik saat ini telah mencapai share sebanyak 34%,” kata Fadhil saat berbicara dalam 18th Indonesian Palm Oil Conference and Price Outlook 2023 Jumat (4 November 2022).
Pada tahun 2021, ekspor sawit menyumbang sekitar 66% dari produksi. Jumlah ekspor ini didominasi produk hilir. Pada tahun 2022, nilai ekspor mengalami gangguan akibat kebijakan pemerintah yang melarang ekspor. Jumlah ekspor pada tahun 2022 lebih rendah jika dibandingkan pada tahun 2021.
Pertumbuhan ekspor pada tahun 2021 jika dibandingkan dengan tahun 2022, kecuali ke India, Spanyol dan Italia mengalami penurunan dari 32%, 8% dan 19%.
Sedangkan pertumbuhan ekspor pada tahun 2022 dicatat mengalami pertumbuhan negatif kecuali ke negara India, Amerika Serikat, dan Timur Tengah. Bantolo
