Agrofarm.co.id-Climate Smart Agriculture (CSA) atau pertanian cerdas iklim menukung ketahanan pangan nasional dalam kondisi perubahan iklim.
Hal itu diungkapkan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat Yiyi Sulaeman pada acara Webinar dengan tema Climate Smart Agriculture Untuk Pertanian Berkelanjutan dan Mendukung Ketahanan Pangan.
“Ide awalnya diminta BPPSDM untuk memberikan ToT kepada para penyuluh dan dosen penyuluhan terkait pertanian cerdas iklim. Kita membuat modul dan pada saat pelatihan diskusi bagusnya dibuat buku,” ungkap dia, Rabu (16/3/2022).
Pertanian Cerdas Iklim merupkan sebuah pendekatan yang mentrasformasikan dan mengorientasikan ulang sistem produksi pertanian dan rantai nilai pangan. Sehingga keduanya (sistem produksi pertanian dan rantai nilai pangan) mendukung pertanian berkelanjutan yang dapat memastikan ketahanan pangan dalam kondisi perubahan iklim.
Adapun tujuan pertanian cerdas iklim yakni: Pertama, meningkatkan produktivitas pertanian dan pendapatan berkelanjutan. Kedua, menerapkan adaptasi dan membangun ketangguhan terhadap perubahan ikim. Ketiga, mengurangi atau menghilangkan emisi gas rumah kaca (GRK).
Sementara itu, model pertanian cerdas iklim meliputi: pertanian konservasi, desa mandiri pangan, pertanian organik, sistem pertanian terpadu lahan kering iklim kering, pertanian bioindustri, pekarangan pangan lestari dan budidaya padi ramah lingkungan.
Sedangkan Manfaat CSA diantaranya: hasil pertanian meningkat, sedkit berdampak pada lingkungan, tanpa konversi tambahan lahan pertanian. Selain itu, pemanfaatan lahan dan sumber daya optimal, pendapatan keluarga meningkat, ketanguhan terhadap perubahan ikilm meningkat dan ekonomi wilayah berkembang.
Guna memperkuat penerapan pertanian cerdas iklim, menurut dia, perlunya dukungan perundang-undangan, sebagai contoh pertanian konservasi sudah dibuat peraturan daerah di Nusa Tenggara Timur. “Dengan adanya peraturan perundang-undangan, maka keberlanjutan program dan anggaran tersebut bisa dipertahankan,” jelas Yiyi.
Kemudian pengembangan basis bukti dan dokumentasi. “Jadi kita kumpulkan bukti-bukti itu, masih banyak praktik CSA belum didokumenatasikan,” kata dia.
Selain itu, penguatan desiminasi dan peningkatan kemampuan (Capacity building) petani maupun penyuluh. “Ada teknologi baru ingin diterapkan, tapi itu tergantung petani dan penyuluhnya,” ujar dia.
Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan), Leli Nuryati mengungkapkan saat ini Indonesia mempunyai dua tantangan besar yakni pandemi Covid-19 dan perubahan iklim. Inilah sebabnya kita membutuhkan Climate Smart Agriculture atau CSA di dalam penyuluhan pertanian, ujar dia.
Kementan sejak pandemi tidak pernah berhenti melakukan pembangunan pertanian. “Alhasil pertanian tumbuh positif dibandingkan sektor lainnya,” ucap Leli.
Di era revolusi industri 4.0 petani diharapkan mampu memanfaatkan teknologi informasi. “Semenjak pandemi petani dipaksa menggunakan teknologi informasi karena tidak bisa melakuan pelatihan dengan tatap muka langsng, sehingga kita memanfaatkan teknologi secara online dan lama-kelamaan petani terbiasa menggunakan gadget,” ungkap dia.
Leli mengatakan, teknologi CSA salah strategi Kementan dalam pengembangan pertanian modern melalui smart farming, dan teknologi ramah lingkungan serta cerdas memanfaatkan sumber daya alam khsusnya air maupun iklim.
Dalam pengembangan CSA, kementan fokus pada tanaman padi dengan memanfaatkan bibit unggul, rendah emisi dan bermutu. Kemudian penggunaan pupuk berimbang maupun bahan organik, pembuatan pupuk organik, penentuan waktu tanam berdasarkan kalender tanam, sistem jajar legowo, pengendalian OPT terbaru dan kegiatan sampling pengukuran emsi GRK.
Kita dorong para petani dengan dikawal oleh para penyuluh di dalam penerapan CSA padi. Penerapan teknologi CSA dengan program sekolah lapang ataupun bahan pembelajaran terkait benih dan pupuk organic, ujar Leli.
Petrus Adianto, Managing Director PT Daya Santosa Rekayasa menambahkan Greenhouse bisa mengatur perubahan iklim. “Teknologi ini bisa mengatur arah angin, curah hujan, suhu dan kelembaban,” kata dia.
Dia menuturkan, Greenhouse dapat menurunkan suhu lebih dari 14 derajat celcius dan pengaturan cahaya lebih flkesibel. Bantolo
