12.9 C
New York

Produk Furnitur dan Gaya Hidup Siap Banjiri Pasar Ekspor

Published:

Agrofarm.co.id-Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional meluncurkan program Aku Siap Ekspor (ASE) 2.0 di Jakarta. Program ini merupakan kelanjutan dari program ASE tahap pertama namun dengan cakupan produk dan jangkauan pasar ekspor yang lebih luas.

“ASE tahap ke-1 disambut dengan antusias oleh eksportir. Oleh sebabitu, Kemendag meluncurkan program kedua dengan nama ASE 2.0. Cakupan program ini diperluas, bukan hanya produk dekorasi rumah, tetapi juga furnitur dan produk gaya hidup,” ujar Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Didi Sumedi, Kamis (24/2/2022).

Didi melanjutkan, target pasar ASE 2.0 diperluas dengan merambah ke negara yang memiliki perjanjian dagangdengan Indonesia, baik secara regional maupun bilateral di antaranya Jepang, Australia, Swiss, Norwegia, Korea Selatan, Chile, Tiongkok, Mozambik, dan negara kawasan ASEAN.

“Diharapkan eksportir Indonesia lebih proaktif memanfaatkan preferensi penurunan tarif serta mendorong pengembangan ekspor ke negara-negara nontradisional,” tandasnya.

Dalam program ini,Kemendag kembali bekerja sama dengan instansi lain untuk memaksimalkan capaian. Kerja sama dilakukan di antaranya denganKementerian Perindustrian, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Business and Export Development Organization (BEDO). Program iniditargetkan memberikan pendampingan kepada 50 pelaku usaha yang sebelumnya akan diseleksi scara ketat.

Perusahaan yang telah lolos seleksi diwajibkan merangkul pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)di luar Jawa dan Bali sebagai mitra pemasok atau UMKM asuhuntuk menciptakan efek yang lebih besar. Pola kemitraan ini sangat idealkarena eksportir dan pelaku UMKMdapat saling membantu dan berkolaborasi, terang Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Made Marthini selaku Koordinator Program ASE.

Lebih lanjut Made menjelaskan, program ini didesain khusus bagi perusahaan yang telah memiliki kapasitas ekspor. Program akanberlangsung selama satu tahun yang terdiri atas lokakarya baik daring maupun luringdengan praktek simulasi, tugas, temu bisnis, pendampingan privat, misi orientasi pasar lokal; serta keikutsertaan pameran dalam dan luar negeri seperti Indonesia International Furniture Expo (IFEX), Trade Expo Indonesia (TEI), atau pameran internasional lainnya.

“Pelaku usaha akan mendapat pengetahuan untuk mengekspor produknya dari para tenaga ahli yang terlibat dan dapat meningkatkan omzet senilai USD 50.000 atau senilai USD 2,5 juta untuk 50 UKM setelah mengikuti program ini,” papar Made.

Sebelumnya, ASEtahap ke-1 telah dilaksanakan sejak Juni 2021 dan telah memasuki pertengahan jalan. Dalam perjalannya, program inisukses membukukan potensi transaksi ekspor sebesar USD 377.889 atau sebesar Rp5,6 miliar, serta transaksipotensialuntuk pasar domestik sebesar Rp6,8 miliar.Selain ASE, DitjenPENtelah mengembangkan berbagai program kerjasama eksporlainnya.

Misalnya,BNI Expora, LPEI, CBI Belanda, SIPPO Swiss, AOI, program Pemenuhan Pelayanan Haji, TFO Kanada, IPD Jerman, HKTDC.Program ini merupakan upaya nyata Kemendag beserta pemangku kepentingan lainnya dalam memajukan sektor dan meningkatkan kinerja ekspor Indonesia. Dian

Related articles

Recent articles