21.2 C
New York

Masa Pandemi, Permintaan Produk Hortikultura Meningkat Signifikan

Published:

Agrofarm.co.id-Di masa pandemi Covid-19 permintaan produk hortikultura terus meningkat. Padahal sebelumnya sektor ini dipandang sebelah mata oleh pemerintah

Pengamat Pertanian, Prof. Dr. Bungaran Saragih mengungkapkan bahwa Indonesia lebih banyak memperhatikan padi dan beras untuk pangan.

“Kemudian kita memberikan perhatian kepada perkebunan yang tujuannya untuk ekspor menghasilkan devisa. Bidang hortikultura mendapatkan perhatian yang sangat sedikit baik dari pemerintah maupun dunia usaha,” kata dia pada acara Webinar dengan tema Suara Agrina Hortikultura Business: Key to Penetrate Premium Market, Rabu (14/7/2021).

Menurut dia, pemerintah masih memandang sebelah mata sektor hortikultua. Padahal potensi pasarnya besar sekali karena bisa menembus pasar ekspor.

“Barangkali ini dianggap bisnis yang kecil dan tidak strategis pada saat itu. namun dengan tercapainya pangan yang memadai untuk negeri kita selama ini dan ekspor khususnya kelapa sawit yang luar biasa besarnya, maka kita harus memberikan perhatian kepada hortikultura, peternakan dan perikanan,” kata dia.

Bungaran menilai bahwa hal menarik belakangan ini bukan hanya pandemi Covid-19, tapi perkembangan kesadaran mengenai pangan dan gizi. “Maka perhatian kepada hortikultura menjadi lebih banyak dan besar, tidak hanya untuk di dalam negeri, tetapi untuk ekspor,” ujar dia.

Dia menyebutkan, ekspor produk hortikultura masih kecil dibandingkan dengan sektor perkebunan, namun ada tren peningkatan.

“Yang tidak kita sadari itu berjalan sendiri permintaan terhadap produk hortikultura di dalam negeri berkembang cepat sekali. Sayangnya statistik kita tidak menangkap itu semuanya. Tapi dengan kasat mata yang jeli bisa lihat disana-sini produk hortikultura berupa sayuran, buah-buahan, tanaman obat dan tanaman hias berkembang sangat pesat sekali,” terang Bungaran.

Menariknya tidak hanya pasarnya menjadi lebih besar, tapi ada diversifikasi terhadap bentuk pasar tersebut. “Mungkin ada hubungannya dengan perekonomian kita yang semakin membaik yang dilihat dari pendapatan per kapita masyarakat sudah meningkat dibandingkan 20 tahun lalu,” ujar dia.

Maka timbul segmentasi pasar khususnya premium market dan itu disebabkan oleh supply change yang berkembang belakangan ini. “Tren premium market yang semakin besar bagaimana itu didorong mengembangkan pasar dalam negeri yang lebih modern dan lebih besar,” kata Bungaran.

Menurut dia, pasar hortikultura dalam negeri akan menjadi besar yang dimulai dari perkotaan seperti DKI Jakarta atau Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). “Jaboatebek lebih besar jumlah penduduknya ketimbang Australia atau Malaysia dan Singapura digabungkan dan lebih besar juga pasarnya,” jelas Bungaran.

Dia menilai bisnis itu harus mengerti pembeli (customer) dan jika tidak mengerti keinginan konsumen, maka tidak bisa melayaninya. “Kita tidak akan mampu berbisnis dan pasar yang baru ini masih dinamis, namun tuntutan masih segar, lebih sehat dan harga yang kompetitif semakin besar, walaupun premium market tidak akan membeli sesuai dengan nilainya,” ungkap dia.

Bungaran menuturkan, pasar dalam negeri juga memiliki karateristik tersendiri yang tidak hanya menyukai produk hortikultura impor.

“Dan yang ingin dikonsumsi bukan hanya hortikultura dari Eropa, Amerika Serikat dan Jepang. Tapi hortikultura yang sudah tumbuh secara alami di Indonesia selama ini dan itu mempunyai pasar yang besar dalam negeri maupun luar negeri,” terang dia.

Meskipun diakuinya, kendala dalam pengembangan hortikultura bukan disebabkan oleh sistem, pasar dan teknologi, namun tantangannya adalah entrepreneurship. “Ini harus ada yang mengintegrasikan secara tersendiri agar dibuat sistem agribisnis dari hulu sampai hilir hortikultura,” kata dia.

Feri Rahman Saputra Deputi General Manager Merchandising Division PT AEPN Indonesia mengatakan, pada masa pandemi Covid-19 permintaan produk hortikultura mengalami peningkatan yang luar biasa. Pertama kali Covid muncul di Indonesia Februari 2020 lalu terus meningkat terhadap produk hortikultura hingga tiga kali lipat permintaannya, terutama sayur mayor dan buah-buahan.

Bahkan, sampai perusahaan kualahan dalam memenuhi permintaan konsumen. “Pasca Covid-19 tiga bulan kemudian itu terus meningkat, tapi minimal 130-150 persen mengalami kenaikan permintaan tiap bulan dan sampai hari ini juga mengalami peningkatan yang signifikan,” jelas dia.

Welly Soegiono Direktur PT Great Giant Foods mengungkapkan pemerintah belum sepenuhnya mendukung industri hortikultura. Padi, jagung dan kedelai penting. Kemudian cabai, bawang merah juga penting. Tapi jangan melupakan hortikultura yang mempunyai nilai yang lebih tinggi.

Dia menuturkan untuk ekspor harus memenuhi persyaratan 20 sertifikasi. Kemudian di pasar dunia didiskriminasi dikenakan bea masuk. “Nah pertanyaan yang sama apakah buah yang mausk ke Indonesia juga harus memenuhi 20 sertifikasi,” ujar dia.

Untuk itu, dia mendorong dibuat roadmap kebijakan hortikultura guna meningkatkan daya saing baik di pasar dalam negeri ataupun pasar internasional. “Bagaimana meningkatkan ekspor hortikultura secara instan yakni membentuk tim perunding yang tangguh dan membuka pasar baru,” jelas dia. Bantolo

Related articles

Recent articles