Cangkang sawit/ist

Kemendag Pacu Ekspor Cangkang Sawit ke Jepang

Agrofarm.co.id-Kementerian Perdagangan (Kemendag) memacu ekspor biomassa ke Jepang. Salah satunya dengan menyelenggarakan business matching (penjajakan kesepakatan dagang) virtual dengan Japan External Trade Oranization (JETRO).

Adapun tujuannya, untuk mendukung pengembangan energi alternatif berbasis sumber energi terbarukan. Business matching ini memfasilitasi pertemuan antara dua pelaku usaha penyuplai tenaga biomass di Jepang dengan enam pengusaha cangkang sawit Indonesia.

Biomassa dianggap sebagai sumber energi terbarukan yang menawarkan peluang potensial untuk berkontribusi pada pasokan energi global. Hal ini karena banyaknya industri yang mulai beralih dari batubara ke cangkang sawit yang sebelumnya merupakan limbah industri sebagai bahan bakar.

“Memacu ekspor biomassa ke Jepang merupakan salah satu cara Indonesia untuk memanfaatkan peluang yang ada. Indonesia akan menjadikan cangkang sawit sebagai salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia, sedangkan di pasar dalam negeri hanya mampu menyerap sekitar 2530 persen sisanya menjadi limbah,” kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kasan dalam keterangann resminya, Jumat (09/4/2021).

Presiden Direktur Jetro Jakarta Keishi Suzuki menjelaskan, kegiatan business matching ini merupakan kegiatan kedua yang diselenggarakan bersama antara Kemendag dengan Jetro Jakarta. Business matching pertama dilakukan selama dua hari, yaitu pada 13 dan 16 November 2020.

Pada pelaksanaan business matching pertama tersebut, terjadi kontrak dagang oleh PT Prima Khatulistiwa Sinergi yang menerima pemesanan pertama dari Jepang. Rencananya, pada bulan

Mei mendatang, PT Prima Khatulistiwa Sinergi akan mengirimkan 10.000 ton cangkang sawit. Di masa mendatang, pemesanan diperkirakan dapat bertambah menjadi 150.000 ton per tahun.

Direktur Pengembangan Kerja Sama Ekspor Marolop Nainggolan menambahkan, pemerintah Jepang tengah membangun 90 pembangkit listrik tenaga biomassa di Jepang. Namun, masalah utama yang dihadapi yaitu dibutuhkannya pasokan bahan bakar yang stabil dalam jangka waktu lama.

Produk turunan dari kayu seperti cangkang sawit (palm kernel shell), tangkai kelapa sawit (palm husk), dan kayu pelet (woodpellet) berpotensi sebagai bahan bakar yang baik dalam industri biomass. Jepang menargetkan peningkatan energi terbarukannya sekitar 2224 persen tahun 2030.

Di samping peluang yang begitu besar, lanjut Marolop, harga yang diberikan pelaku usaha Indonesia masih kurang kompetitif akibat besarnya pungutan ekspor yang fluktuatif. Hal ini mengakibatkan eksportir cangkang sawit kesulitan menandatangani kontrak penjualan yang umumnya dilakukan dalam jangka panjang.

“Untuk itu, Pemerintah Indonesia berkomitmen mencari solusi dalam menjadikan sektor cangkang sawit sebagai komoditas siap ekspor dan berdaya saing dengan menghapus pungutan ekspor sebagai salah satu alternatif solusi,” ungkap Marolop.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang sudah diolah Kemendag, total perdagangan Indonesia dan Jepang di tahun 2020 tercatat sebesar USD 2,32 miliar. Dari nilai tersebut, ekspor Indonesia ke Jepang tercatat sebesar USD 1,22 miliar dan impor Indonesia dari Jepang sebesar USD 1,09 miliar. Dian