21.2 C
New York

Mantul! Potensi Bisnis Vitamain A dan E Berbasis Minyak Sawit Sangat Menjanjikan

Published:

Agrofarm.co.id-Pengamat Pertanian, Prof. Bungaran Saragih mengungkapkan, peluang bisnis produksi vitamin A dan E berbasis minyak sawit cukup besar, bukan hanya di dalam negeri, tapi juga luar negeri.

Dia menjelaskan, dalam negeri kondisi masyarakat Indonesia yang masih banyak mengalami kekurangan gizi (malnutisisi) dan stunting menjadi peluang untuk produksi vitamin A dan E. Apalagi bahan bakunya berasal dari komoditas minyak sawit .

“Kita sudah menghasilkan PKO dan CPO terbesar di dunia. Ini menjadi sumber penghasil vitamin A dan E yang luar biasa. Prospek ada? Masalahnya bagaimana kita menjadikan bisnis. Kalau kita gagal menerjemahkan vitamian A dan E sebagai bisnis, maka kita gagal mengembangkan bisnis tersebut,” kata Bungaran saat webinar Prospek Bisnis Vitamain A dan E Berbasis Minyak Kelapa Sawit di Jakarta, Rabu (9/12/2020).

Namun demikian, Bungaran mengakui, untuk menjadikan minyak sawit sebagai sumber vitamin A dan E yang berguna untuk kesehatan memerlukan proses panjang yang harus dikuasai industri dalam negeri, terutama mengubah/ekstrak dari minyak sawit.

“Prosesnya panjang dan rumit. Ada masalah enginering, sosial, bahkan politik pemerintah. Peran pemerintah sangat penting. Untuk menangkap peluang itu, jangan malu kita bekerjasama dengan asing, terutama dari sisi teknologi,” tuturnya.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN), Rapolo Hutabarat mengakui, industri hilir minyak sawit belum banyak digarap secara bisnis. Misalnya, POME yang bisa menghasilkan listik dan gas, tandan kosong untuk listrik dan etanol, betkaroten dan tocopherol sebagai bahan baku industri makanan dan farmasi. Potensi betaroten mencapai 13,5 ribu ton/tahun.

Dia menjelaskan untuk kandungan beta carotene dari jenis konsentrasi minyak sawit 300 ppm ada potensi sebesar 0,3 ribu ton beta carotene. Dengan produksi nasional yang mencapai 45 juta ton CPO per tahun bisa menghasilkan 13,5 ribu ton beta carotene per tahun atau setara USD 4,7 miliar. Sementara untuk produksi tocopherol jenis minyak sawit 600 ppm dapat menghasilkan 27 ribu ton Tocopherol atau setara USD 2,7 miliar per tahun.

Di pasar internasional penjualan beta carotene natural berkisar USD 350 -7.500 per kilogram (kg). Sedangkan Tocopherol sebesar USD 100 per kg. Rapolo mengatakan hingga kini belum ada perusahaan Indonesia yang terjun ke industri ini, sehingga menjadi tantangan bagi kita semua.

“Dari 20 perusahaan global yang bermain diindustri betkaroten semuanya perusahaan asing. Ada lima negara yakni, Belanda, Jerman, Denmark, AS dan Israel. Begitu juga pemain global tocpherol ada 16 industri seperti BASF dan DSM,” jelas dia.

Sampai saat ini pangsa pasar terbesar berasal dari Belanda, Jerman, Denmark, Amerika, dan Israel untuk beta carotene dengan pertumbuhan konsumsi yang naik gradual 4,2% per tahun. Indonesia sendiri masih mengimpor Vitamin A dan E.

Sementara itu, Direkur Plt Direktur Kemitraan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS), Edi Wibowo menambahkan, pihaknya telah mendukung pendanaan untuk riset-riset yang dapat digunakan untuk mengcounter kampanye hitam sawit antara lain yang terkait peningkatan aspek sustainability dan kesehatan.

“Riset yang telah didanai adalah mitigasi isue kandungan 3 mcpd dan glycidil ester pada minyak sawit, pengembangan proses penyingkiran 3 mcpd dan glycidil ester, pengembangan proses produksi vit E dan magnesium stearat dan pengembangan Nano-Structured Lipid Carrier (NLC),” ungkap dia.

Edi berharap hasil riset yang telah dilakukan ini dapat dimanfaatkan oleh seluruh stakeholder baik dari perusahaan, pemerintah dan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit.

Sementara Kepala PUI-PT Nutrasetikal Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi ITB, Elfahmi Yaman mengatakan, minyak sawit sebagai sumber vitamin A dan E mempunyai keunggulan dalam pemanfaatan di bidang farmasi secara komersial. Bahkan penggunaan dalam bentuk crude material kasar merupakan nilai tambah bagi minyak sawit, karena mengandung beberapa kandungan lain yang bisa memberikan efek farmakologi secara sinergis.

“Karena itu inovasi riset Vitaman A dan E memberikan luaran yang sangat prospektif dalam pemanfaatan Vitamian A dan E dari minyak sawit,” katanya. Bantolo

 

Related articles

Recent articles