Aktivitas pekerja dalam proses produksi di industri tesktil dan produk tekstil (TPT).

Ekspor Produk Tekstil RI ke Turki Terganjal Bea Masuk

Agrofarm.co.id-Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri menyelenggarakan seminar web (webinar) dengan tema Ekspor Produk Tekstil Indonesia ke Turki: Tantangan Dan Peluang. Melalui webinar ini, Kementerian Perdagangan berupaya memetakan strategi peningkatan kinerja ekspor tekstil ke Turki untuk mendorong kinerja ekspor nasional.

Acara dibuka dengan pidato kunci Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Didi Sumedi yang kehadirannya diwakili Sekretaris Ditjen Perdagangan Luar Negeri Marthin Kalit. Hadir sebagai narasumber Atase Perdagangan Indonesia untuk Turki Eric G Nababan, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSYFI) Redma Gita Wirawasta; dan perwakilan PT Bitratex/Sritex Group Abhay Agarwal dengan moderator Direktur Pengamanan Perdagangan Pradnyawati. Webinar diikuti perwakilan asosiasi, perusahaan/eksportir, firma hukum, dan perwakilan kementerian/lembaga yang menangani isu terkait.

“Webinar diisi dengan sesi saling berbagi informasi (sharing session) yang mengangkat permasalahan yang menarik untuk dicermati. Hal ini disebabkan karena Turki merupakan negara yang piawai mengelola kebijakan perdagangannya, baik untuk kebijakan tarif maupun kebijakan nontarif termasuk trade remedies,” papar Didi dalam keterangan resminya, Rabu (28/10/2020).

Didi menyampaikan, Turki mengikatkan bea masuk impornya di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sebanyak 50,5 persen dari keseluruhan pos tarif negara tersebut. Sementara 49,5 persen pos tarif Turki tidak dikonsesikan bea masuk impornya kepada WTO. Dengan demikian, Turki memiliki keleluasaan dalam memainkan instrument bea masuk impor dari negara-negara lain.

Untuk produk yang diikatkan tarifnya ke WTO (bound tariff), Turki mencatatkan bound tariff yang tinggi. Sebagai contoh, Turki menetapkan bound tariff untuk produk pakaian jadi, kulit, dan sepatu sebesar 40 persen. Sementara untuk produk tekstil mulai dari serat, benang, dan kain jauh lebih tinggi lagi yaitu 92 persen. Bound tariff tersebut bertindak sebagai ambang batas teratas yang tidak bisa dilanggar dan tercatat dalam konsesi masing-masing anggota.

“Dengan tingginya bound tariff tersebut, Turki memiliki keleluasaan ruang gerak dalam memainkan instrument bea masuk impor termasuk menaikkan bea tambahannya,” jelas Didi.

Dia melanjutkan, dari segi kebijakan nontarif (non-tariff measures/NTM), Turki termasuk ke dalam 10 besar negara di dunia yang paling banyak menerapkan instrumen ini. Hal ini dapat dilihat dari rasio penggunaan NTM yang mencakup 60,74 persen dari total impor Turki dan 24,16 persen dari total ekspor negara tersebut.

Selain itu, Turki merupakan salah satu negara pengguna aktif dari instrumen trade remedies. Data dari WTO, Turki menempati urutan ke-10 di dunia dengan jumlah penyelidikan terbanyak. Khusus untuk tekstil Indonesia, saat ini terdapat tujuh kasus aktif yang dituduhkan Turki ke Indonesia.

Kasus tersebut terdiri atas kasus antidumping untuk produk polyester textured yarn (PTY), polyester staple fiber (PSF) dan dua kasus spun yarn; safeguard untuk nylon yarn dan PSF; serta anticircumvention untuk produk polyester

oriented yarn (POY). Dari tujuh kasus tersebut, enam di antaranya sudah dikenakan bea masuk tambahan dengan kasus PTY dalam proses sunset review. Sementara untuk safeguard PSF masih dalam proses penyelidikan.

“Dari penjelasan tersebut terlihat bahwa pasar Turki merupakan pasar yang cukup menantang bagi ekspor tekstil Indonesia. Namun, pasar Turki sejatinya juga memiliki potensi cukup besar bagi industri tekstil kita,” ungkap Didi.

Menurut dia, hal ini didasarkan pada dua alasan. Pertama, posisi Turki membentang dari tenggara Eropa sampai dengan Asia Barat sehingga negara ini merupakan hub yang penting untuk menembus pasar Timur Tengah, Eropa, bahkan Afrika bagian utara.

Kedua, Turki adalah negara produsen tekstil dan garmen utama dunia. Negara tersebut merupakan pemasok ke-6 terbesar di dunia dan ke-3 di Eropa. Dengan demikian, eksportir Indonesia dapat menjadi pemasok bahan baku atau intermediate goods TPT berkualitas tinggi atau dengan kata lain masuk ke dalam rantai nilai pasok (supply chain) Turki. Sebagai contoh, serat stapel buatan merupakan produk ekspor terbesar Indonesia ke Turki pada 2019 dengan nilai USD 366 juta dan trend pertumbuhan yang cukup besar.

Direktur Pengamanan Perdagangan Pradnyawati menambahkan, Pemerintah memahami setiap peluang pengembangan ekspor ke Turki harus tetap dijajaki. Oleh karena itu, beberapa upaya telah dilakukan Pemerintah untuk memanfaatkan peluang ini, di antaranya melalui Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement (IT-CEPA) yang tengah dalam proses perundingan. Dari sisi penyelidikan trade remedies, pemerintah juga terus mendukung eksportir/perusahaan untuk turut serta dan bekerja sama dalam setiap proses penyelidikan.

Dikatakan Pradnyawati, melalui webinar ini telah diformulasikan suatu strategi bersama antara Pemerintah dan sektor swasta guna mengembalikan kejayaan performa ekspor tekstil Indonesia ke Turki. Strategi tersebut yaitu pertama, pembinaan di sisi penawaran (supply) dengan menciptakan diferensiasi produk tekstil yang berdaya saing dan komplementer dengan kebutuhan Turki.

“Indonesia dapat fokus pada ekspor produk-produk tekstil yang tidak dapat diproduksi dan/atau tidak mencukupi supply-nya di Turki di antaranya produk dengan kode HS 550410, 550021, dan 540231,” ujar Pradnyawati.

Kedua, penguatan intelijen pasar untuk mengidentifikasi spesifikasi impor Turki pada masa pandemi dan pasca pandemi. Ketiga, memperbaiki posisi request dan offer pada perundingan IT-CEPA berdasarkan pemetaan tantangan dan peluang. Terakhir adalah pelaksanaan business matching B2B untuk sinkronisasi supply dan demand pasar Turki, baik secara virtual maupun fisik apabila memungkinkan pada akhir tahun ini atau awal tahun depan, terang dia.

Pada 2019, total perdagangan Indonesia-Turki tercatat sebesar USD 1,49 miliar. Pada periode tersebut ekspor Indonesia ke Turki tercatat sebesar USD 1,15 miliar sedangkan impor Indonesia dari Turki sebesar USD 342,23 juta. Dari nilai tersebut Indonesia surplus sebesar USD 805,65 juta.

Sementara, pada periode JanuariAgustus 2020, total perdagangan kedua negara mencapai USD 856,91 juta. Pada periode tersebut, ekspor Indonesia ke Turki tercatat sebesar USD 671,93 sedangkan impor Indonesia dari Turki tercatat sebesar USD 185,88 juta.

Produk ekspor utama Indonesia ke Turki yaitu serat stapel buatan, minyak kelapa sawit, karet alam, benang dari serat stapel sintetik, dan kertas. Sementara produk impor utama Indonesia dari Turki adalah tembakau, carbonat, borates, gandum, dan katun. Dian