21.2 C
New York

Kemendag Genjot Ekspor TPT, Khususnya Alat Kesehatan dari Tekstil

Published:

Agrofarm.co.id-Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan, Kasan, mengajak seluruh elemen yang berkepentingan dalam industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia berkontribusi aktif memajukan ekspor TPT Indonesia. Produk TPT masih menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia yang industrinya turut terganggu sejak terjadi pandemi Covid-19.

Untuk itu, diperlukan strategi ekspor tepat guna meningkatkan ekspor TPT, baik dari sisi peningkatan daya saing, relaksasi regulasi, asistensi teknik, dan penguatan promosi. Hal tersebut disampaikan Kasan saat menjadi pembicara kunci pada web seminar (webinar) bertajuk Diversifikasi dan Adaptasi Ekspor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia pada Tataran Kehidupan Normal Baru. Hadir sebagai pembicara dalam webinar tersebut yaitu Direktur Pengembangan Produk Ekspor (PPE) Kemendag, Olvy Andrianita; Atase Perdagangan RI di Amerika Serikat (AS), Wijayanto; Vice President Director PT Pan Brothers Tbk., Anne Patricia Sutanto, dan importir TPT di Amerika Serikat, Metrini Geopani Simatupang dan Emelie Conroy.

Webinar ini dihadiri lebih dari 230 peserta yang berasal dari kalangan pelaku bisnis, asosiasi, perguruan tinggi, media, dan perwakilan Kementerian/Lembaga terkait, serta Pemerintah Daerah.

“Industri TPT merupakan industri manufaktur nasional yang strategis. TPT memberikan sumbangan devisa ekspor dan merupakan industri padat karya yang menjadi salah satu jaringan pengaman sosial dari sisi pendapatan penduduk. Untuk itu, pasar eskpor komoditas TPT harus dipertahankan, terutama setelah terkena imbas merebaknya Covid-19,” ujar Kasan, Kamis (25/6/2020).

Kasan menjelaskan, sejak merebaknya Covid-19, perdagangan tesktil terkena imbas mengingat bahan baku penolong dan aksesori sebagian besar diimpor dari Tiongkok. Kondisi pandemi, penerapan karantina wilayah (lockdown) di beberapa negara, dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Indonesia, turut mengganggu pasokan dan permintaan industri tekstil Indonesia di pasar lokal dan pasar ekspor. Di pasar domestik terjadi kelambatan pembelian dan omzet pedagang. Sementara itu, kinerja ekspor TPT juga tercatat mengalami penurunan.

Sementara itu, Olvy memaparkan berbagai hambatan industri TPT Indonesia yang teridentifikasi, yaitu hampir 70 persen bahan baku masih impor, daya saing harga rendah, daerah produksi yang masih terpusat di pulau Jawa, belum optimalnya diversifikasi produk, mesin produksi yang sudah tua, serta kurangnya branding bagi produk TPT Indonesia.

Hambatan lain yang dialami komoditas TPT dunia dan Indonesia di tengah pandemi Covid-19, lanjut Olvy, antara lain penurunan tingkat permintaan pada industri TPT, penurunan omzet industri TPT dunia yang mengindikasikan penurunan daya beli konsumen, pembatalan sejumlah acara besar dunia yang menjadi sarana promosi, penutupan sementara destinasi wisata dan toko ritel tekstil, karantina wilayah (lockdown), serta pelemahan ekonomi global dan di sisi lain peningkatan hambatan proteksi dari negara mitra dagang.

“Di tengah berbagai hambatan, produk TPT Indonesia juga memiliki kekuatan dan peluang. Kualitas dan eksklusivitas produk TPT asal Indonesia telah diakui banyak negara. Sedangkan, peluang ekspor yang terbuka lebar saat ini ialah alat pelindung diri (APD) dan alat kesehatan yang terbuat dari tekstil,” jelas Olvy.

Selain itu, lanjut Olvy, tekstil Indonesia juga memiliki keunggulan secara ekslusivitas seperti batik dan tenun yang terbuat dari serat alam (jerami dan alang-alang), sutra kepompong ulat daun kedondong dan pewarna alam (indigo). Secara kualitas, juga telah diakui dunia, terutama pakaian militer, tekstil untuk bahan industri seperti jok pesawat dan kereta api, furnitur, bioskop, dan tenda, serta tekstil dengan kualitas premium untuk pakaian dalam wanita.

Menurut Olvy, saat ini juga terjadi peningkatan permintaan serat organik dan pakaian muslim yang harus dilihat sebagi peluang. Selain itu, kebijakan pemerintah melalui program Making Indonesia 4.0 juga harus dimanfaatkan.

Program ini termasuk memberikan dukungan pada peningkatan inovasi riset dan pengembangan (R & D), penguasaan mesin/peralatan modern, peningkatan desain dan mutu produk, peningkatan keahlian tenaga kerja (vokasi), serta pemenuhan sertifikasi dan standar produk TPT Indonesia. Namun demikian, pengetatan operasional kegiatan tetap harus diterapkan, khususnya pada sektor produksi, yang mengedepankan protokol kesehatan selama masa pandemi Covid-19.

Melalui webinar tersebut, Olvy memaparkan pula strategi diversifikasi dan adaptasi produk ekspor TPT. Pertama, menentukan fokus pasar dan produk ekspor unggulan dengan spesifikasi tertentu, termasuk diversifikasi produk TPT untuk kesehatan seperti masker dan APD; mendorong percepatan penggunaan serat alam sebagai bahan baku industri; serta meningkatkan produk fesyen khususnya fesyen muslim.

Kedua, melakukan penetrasi pasar melalui penyelesaian perundingan internasional, penyelesaian hambatan perdagangan, serta penguatan promosi dagang (daring/luring) dan branding. Ketiga, memperkuat peran perwakilan perdagangan.

Keempat, meningkatkan daya saing produk dan sumber daya manusia usaha kecil menengah (UKM) ekspor melalui pendampingan dan konsultasi desain. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan wadah seperti Indonesia Design Development Center (IDDC),

Designers Dispatch Service (DDS), Good Design Indonesia (GDI), sertifikasi, dan branding. Kelima, melakukan relaksasi ekspor dan impor untuk tujuan ekspor salah satunya dengan penerbitan Permendag No. 57 Tahun 2020 tentang Ketentuan Ekspor Bahan Baku Masker, Masker, dan Alat Pelindung Diri. Keenam, meningkatkan fasilitasi perdagangan.

Melalui kesempatan webinar tersebut, Atase Perdagangan RI di AS Wijayanto menyatakan siap menjembatani dan membantu memfasilitasi UKM yang ingin berdagang di AS. Atase Perdagangan akan bekerja sama dengan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Chicago dan Los Angeles menjadi sumber informasi pasar ekspor, mencari buyers, memperbarui informasi terkait regulasi impor, mempromosikan, dan membantu mencari pasokan bahan baku. Para perwakilan perdagangan tersebut juga akan menggandeng diaspora Indonesia di AS dalam meningkatkan upaya meningkatkan ekspor produk TPT ke AS.

Sementara itu, Vice President Director PT Pan Brothers Tbk., Anne Patricia Sutanto, menegaskan pentingnya diversifikasi produk ekspor TPT yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar saat ini.

Tantangan TPT selama pandemi COVID-19, adalah mayoritas brand menutup toko sehingga menyebabkan penundaan produksi. Kondisi tesebut disiasati dengan mendiversifikasi produk menjadi APD seperti hazmat protection, gown, shoe cover, dan masker dimana saat ini permintaan produk tersebut sangatlah besar, baik untuk pasar lokal maupun ekspor.

Selain itu, Anne juga menyampaikan hal utama yang perlu diperhatikan bagi pengusaha tekstil, yaitu menjaga hubungan komunikasi dengan buyer, menjalin kerja sama dengan perusahaan besar, ketepatan waktu pengiriman barang, serta memanfaatkan promosi secara daring karena kondisi Covid-19 yang diperkirakan berlangsung lama.

Pada kesempatan sharing session, Ketua Umum Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), Poppy Dharsono menyampaikan, pagelaran Indonesia Fashion Week (IFW) sebagai ajang promosi fesyen Indonesia yang semula direncanakan pada April 2020, diundur menjadi Oktober 2020. Selain itu, APPMI juga berkomitmen menjalin kerja sama dengan Kemendag untuk promosi fesyen, termasuk masker yang terbuat dari tekstil.

Sementara itu, importir TPT di AS, Metrini Geopani Simatupang dan Emelie Conroy menyampaikan, TPT Indonesia memiliki potensi yang cukup baik di pasar Amerika, salah satunya tekstil yang ekslusif dengan segmentasi tertentu, yang walaupun pasar masih kecil, namun permintaannya berkesinambungan.

“Webinar ini adalah langkah awal kita untuk bisa lebih fokus ke depannya dalam menggali isu-isu spesifik per komoditas. Saya mengharapkan baik asosiasi, pelaku bisnis, maupun perwakilan kementerian/lembaga dapat memberikan masukan konkret sehingga Kemendag dapat menyusun strategi yang tepat untuk meningkatkan eskpor TPT Indonesia,” kata Kasan. Dian

Related articles

Recent articles