11.5 C
New York

Kuartal I 2020, Nilai Ekspor Sawit Tumbuh 9,45 persen

Published:

Agrofarm.co.id-Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memcatat sepanjang kuartal I 2020 nilai ekspor sawit mengalami kenaikan sebesar 9,45 persen.

Berdasarkan data Gapki, volume ekspor selama periode ini berjumlah 7,64 juta ton, turun 16,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, nilai ekspor menembus USD 5,32 miliar, naik 9,45 persen dibandingkan Januari-Maret 2019.

Sedangkan produksi sawit pada kuartal I 2020 mencapai 10,99 juta ton atau turun 14 persen. Di sisi Konsumsi dalam negeri mengalami kenaikan sebesar 7,2 persen.

Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono mengatakan, konsumsi minyak untuk pangan dalam negeri turun sekitar 8,3 persen, sebaliknya konsumsi untuk produk oleokimia naik sebesar 14,5 persen dan konsumsi biodiesel relatif tetap. “Ketidakpastian waktu teratasinya pandemi covid-19 menjelang puasa menyebabkan konsumsi minyak sawit untuk produk pangan menurun,” ungkap dia, Minggu(10/5/2020).

Mukti mengatakan, permintaan produk oleokimia naik karena kebutuhan bahan pembersih sanitizer meningkat. “Dari 68 ribu ton kenaikan konsumsi oleokimia, 55 persen terjadi pada gliserin yang merupakan bahan pembuatan hand sanitizer,” ungkap dia.

Namun, kata dia, konsumsi minyak sawit untuk biodiesel relatif tetap. Padahal harga minyak bumi rendah dan konsumsi solar turun sekitar 18 persen.

Sementara itu, ekspor sawit pada Maret 2020 mengalami kenaikan sebesar 83 ribu ton degan kontribusi utama dari CPO sebesar 113 ribu ton dan oleokimia 63 ribu ton. Kenaikan ekspor terbesar terjadi untuk tujuan Bangladesh, Afrika dan Cina.

“Ekspor ke Uni Eropa, India dan Timur Tengah sedikit naik sedangkan ekspor ke Pakistan dan Amerika Serikat turun. Kenaikan ekspor ke Cina karena diiformasikan Cina telah mulai pulih dari panedemi Covid-19,” jelas dia.

Adapun produksi minyak sawit pada bulan Maret adalah sedikit lebih rendah 0,9 persen dari produksi bulan Februari 2020. Sedangkan konsumsi dalam negeri turun 3,2 persen, ekspor naik 3,3 persen. Namun harga CPO turun dari rata-rata USD 722 pada bulan Februari menjadi USD 636 per ton-Cif Rotterdam pada bulan Maret. Tetapi nilai ekspornya naik 0,6 pesen menjadi USD 1,82 milyar.

Menurut dia, pandemi Covid-19 telah mengganggu perekonomian dunia, tetapi semua negara tidak akan sanggup berlama-lama dalam situasi seperti saat ini dan harus segera bangkit. “Oleh sebab itu, peningkatan produktivtas dan efisiensi harus menjadi prioritas untuk menjaga viabilitas dari industri,” ungkap Mukti. Bantolo

Related articles

Recent articles