18.2 C
New York

Dekopi : Konsumsi Kopi Dalam Negeri Meningkat 8 persen per tahun

Published:

Agrofarm-Anton Apriyantono, Ketua Dewan Kopi Indonesia (Dekopi) mengatakan, produksi kopi dalam negeri stagnan. Ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah untuk meningkatkan produksi kopi dalam negeri.

Menurut dia, ada banyak faktor yang mempengaruhi karena tanaman sebagian besa tua dan produktivitasnya menurun. “Untuk itu, kita harus mengembangkan kopi dalam skala perkebunan seperti Vietnam,” kata dia pada acara peringatan Hari Kopi Indonesia di Auditorium Gedung F Kementerian Pertanian, Rabu (11/2/2020).

Ia mengatakan, belum banyak perusahaan swasta membuka perkebunan kopi. “Syaratnya tanaman kopi harus ada pohon naungan dalam skala perkebunan,” ujar dia

Anton mengungkapkan, peningkatan produktivitas kopi menjadi penting. Salah satunya menggarap satu kawasan kopi secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Ia menyebutkan, selama ini porsi ekpor kopi sekitar 60 persen dan sisanya 40 persen dalam negeri. “Ada kemungkinan sekarang prosentase ekpor berkurang karena permintaan dalam negeri meningkat sekitar 8 persen per tahun,” ungkap Anton.

Bahkan, katanya, ekspor kopi saat ini tidak lagi didominasi oleh green bean namun kopi olahan sachet. Kopi sachet ternyata diminati di berbagai negara Asia.

Wajar, industri kopi tidak hanya mendapatkan bahan baku dari dalam negeri. Maka, lanjutnya, impor biji kopi juga naik, terutama dari Vietnam.

“Kopi impor memang lebih murah daripada kopi dalam negeri. Kita jangan khawatir dengan impor karena kebanyakan untuk produk jadi yang akan kita ekspor,” kata Anton.

Adapun data BPS mencatat areal kopi nasional mencapai 1,24 juta hektare (ha) dengan produksi mencapai 722,5 ribu ton. Produktivitas kopi rata-rata sebesar 782 kilogram/ha, mayoritas diusahakan oleh perkebunan rakyat yang mencapai 96 persen. Bantolo

Related articles

Recent articles