Agrofarm.co.id-Guru Besar Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengatakan, harga gula melonjak saat ini tidak masalah. Menurut dia, sekali-kali petani tebu boleh menikmati harga yang tinggi.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional harga gula pasir saat ini sudah menyentuh Rp16.250 per kilogram (kg). “Jadi tergantung apakah stok di petani masih cukup besar, kalau masih banyak tidak masalah,” ujar dia kepada agrofarm.co.id, Selasa (10/3/2020).
Meskipun, harga tinggi mencapai Rp 16.000 per kg diatas harga patokan pemerintah Rp12.500 per kg. “Kita pernah mengalami harga setinggi itu,” kata Dwi Andreas.
Dwi mengungkapkan, stok gula konsumsi nasional relatif rendah karena belum masuk masa panen. “Panen mulai masuk bulan Juli dan pada bula ittu harga mulai turun,” ujar dia.
Menurut dia, masyarakat tidak perlu panik dan tinggal dihitung yang benar stok gula kristal putih (GKP) dalam negeri. “Kalau itu dirasa stok mencukupi hingga bulan Juli, gak perlu ada yang dikhawatirkan,” ujar dia.
Dwi mengingatkan bahwa tingginya harga gula bisa tertransformasi ke petani. “Kalau tertransformasi ke penimbun gula atau pabrik gula, kita baru teriak sama-sama,” kata dia.
Dia mengatakan, sebelumnya harga gula tidak wajar bagi petani. “Petani selalu mengusulkan harga patokan gula petani (HPP) Rp10.500 per kg, namun tidak pernah direalisasikan oleh pemerintah,” ungkap Dwi Andreas.
Dwi juga meminta pemerintah tidak memainkan data gula karena ada kepentingan raksasa dibalik itu semua. “Ada kepentingan menggelontorkan gula rafinasi ke pasar konsumsi dan ini harus kita waspadai bersama,” jelas dia.
Dia menyebutkan disparitas harga gula internasional dengan harga gula dalam negeri cukup tinggi. “Ini menggiurkan banyak pihak untuk menggelontorkan gula rafinasi untuk konsumsi,” kata dia.
Dwi mengakui, pasokan gula dalam negeri masih kurang. “Terpenting saat ini stok dalam negeri masih ada, hanya harganya masih tinggi,” tambahnya.
Pemerintah akhirnya memutuskan impor gula, menurut dia, tidak masalah karena produksi dalam negeri tidak menncukupi. “Untuk pengadaan gula, salah satunya dari impor apabila masyarakat menghendaki,” ungkap dia.
Namun resikonya, lanjutnya, gula rafinasi bisa merembes ke pasar konsumsi. “Namanya orang mencari keuntungan tidak bisa dibendung, segala macam cara akan dilakukan,” ucap Dwi.
Menurut dia, idealnya pemerintah yang mengimpor komoditas-komoditas pangan strategis seperti gula. “Pemerintah pengawasannya kan jelas, impor digunakan untuk cadangan dan harganya diatur,” jelas dia. Bantolo
