Agrofarm.co.id-Dalam 100 hari pemerintahan Jokowi-Maruf, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo telah membangun sinergitas antar kementerian/lembaga dan berbagai stakeholer, sebab membangun pertanian adalah tugas negara atau bersama.
Kemudian, telah menentukan arah pembangunan pertanian yakni maju, mandiri dan modern. Pertanian yang maju dipastikan menjadikan sektor yang menyediakan pangan menjadi tidak tertinggal, sehingga tidak hanya menyediakan pangan untuk rakyat Indonesia namun mengekspor untuk menghidupi masyarakat dunia.
“Kalau kita tidak maju sebenarnya semua menjadi hampa dan menjadi bayang-bayang. Oleh karena itu maju menjadi pilihan yang nggak boleh ada yang mundur apalagi bersama saya. Bapak Presiden percayakan sama saya harus maju. Itu yang ada dipikiran saya . Maju untuk apa? Maju untuk kita makin kuat, makin bisa berbuat dan makin bisa percaya diri sebagai kekuatan yang ada yang bisa dimiliki,” tegasnya di kantornya, Jumat (31/1/2020).
Pertanian yang mandiri, lanjut Syahrul, adalah membangun pertanian yang mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri dari hasil alam sendiri, sehingga tidak mengandalkan pasokan dari negara lain. Indonesia tidak hanya mampu memproduksi bahan pangan, tetapi juga ke depan harus mengembangkan ragam pangan olahan atau turunan untuk memenuhi segala kebutuhan dalam negeri.
“Mandiri itu lebih baik memberi orang daripada kita jadi peminta minta. Mandiri itu berarti semua bisa disiapkan dengan kekuatan dan kemampuan sendiri. Kalau begitu harus ke depan kita Mandiri , kita tidak boleh tergantung dan dimainkan oleh negara lain dan oleh siapapun termasuk pertanian harus mampu besok intervensi negara. Misal, Jagung kalau makin mandiri, perut sudah oke, persiapan sudah oke, maka dia (jagung, red) bisa dikembangkan menjadi 42 produk turunan, makanan apa saja, pakan ternak, minyak atau oil dan berbagai produk lainnya sehingga tidak perlu impor,” terangnya.
Lebih lanjut Syahrul menjelaskan pertanian modern yakni dalam rangka peningkatan produktivitas , penyediaan pasar dan menciptakan nilai tambah produk pertanian sehingga kesejahteraan petani semakin tinggi dan berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Salah satunya membangun pertanian berbasis digital atau teknologi 4.0, di antaranya dengan membangun Agriculture War Room (AWR) untuk memudahkan pemantauan dan penyelesaikan langsung masalah pertanian di lapangan.
“Pertanian modern menjadi pilihan tidak ada lagi yang saya tidak bisa dipantau pak, dari tempat ini di manapun yang ada di seluruh, pelosok Indonesia, saya bisa lihat tanah yang ada di situ, potensi pertanian yang ada di situ. Kita bisa lihat langsung dari Agriculture War room yang ada dari pertanian,” jelasnya.
Selain itu, selama 100 hari kerja, Ia pun dengan tegas telah menyatakan untuk memberikan tindakan tanpa kompromi bagi pihak yang melakukan alih fungsi lahan pertanian karena dapat mengancam ketersediaan dan ketahanan pangan dalam negeri.
Program unggulan lainnya yakni menciptakan generasi muda pertanian dan pengembangan bisnis pertanian secara online.
“Kita pun terus pacu peningkatan ekspor. Melalui program Gratieks (Gerakan Tiga Kali Ekspor, red) kita yakin angka ekspor pertanian makin meningkat. Dari data BPS, lebih Rp 100 trilium nilai ekspor kita dalam 100 hari saya kerja. Tetapi dari data yang kita miliki, nilai ekspor pertanian kita justru sekitar Rp 150 sampai 160 triliun,” tutur Syahrul.
“Pada triwulan pertama nanti, InsyahAllah nanti Bapak Presiden akan Launching totally yang ada. Tapi kami lagi hitung intinya pergerakan ekspor kita melampaui tren yang kami rencanakan untuk 100 hari ini,” sambungnya. Bantolo
