14.2 C
New York

Ada Wabah ASF, Permintaaan Babi Tetap Tinggi

Published:

Agrofarm.co.id-Ketua Umum Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) Sauland Sinaga mengungkapkan, pihaknya tidak khawatir dengan adanya serangan virus demam babi afrika atau African Swine Fever (ASF) di Propinsi Sumatera Utara (Sumut).

Dia mengungkapkan, konsumsi babi merupakan bagian dari budaya dan agama, meskipun ada serangan penyakit ini, permintaan babi tetap saja tinggi.

“Babi ini captive market karena pasarnya untuk segmen budaya dan agama. Jadi permintaan tetap tinggi. Diganti ayam tidak mungkin dan kerbau harganya mahal,” ujar Sauland kepada agrofarm.co.id, Sabtu (27/12/2019).

Sauland menyebutkan, tiap tahun kebutuhan pemotongan babi mencapai 2 juta ekor. “Tiap bulan konsumsi babi sebesar 200.000 ekor. Paling besar Jabotebek sebanyak 100.000 ekor, disusul Jawa Timur 700.000 ekor, Sumut 50.000 ekor dan Bali 40.000 ekor,” ungkap dia.

Dia menuturkan, peternak babi di Indonesia tidak hanya untuk memenuhi pasar dalam negeri, tapi ekspor ke Singapura. Tiap bulan ekspor sekitar 30.000 ekor atau setara 300 ton daging ke Singapura. “Padahal kebutuhan di Negeri Singa itu mencapai 6.000 hingga 7.000 ton per hari,” kata Sauland.

Menurutnya, harga babi saat ini masih stabil, namun bulan Desember hingga Februari tahun depan menjelang Imlek diperkirakan harga mulai naik. “Harga babi berkisar Rp 21.00 hingga 25.000 per kilogram (kg) bobot hidup di Medan, sementara wilayah Jabotabek sekitar Rp 50.000 sampai Rp 70.000 per kg,” terangnya.

Dia mengatakan, saat ini populasi babi nasional mencapai 8 juta ekor. Tahun ini populasi tidak ada kenaikan. Adapun sentra babi terbesar di Indonesia yaitu Sumatera Utara Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Kalimantan Selatan dan Papua.

Dia menyayangkan antisipasi pemerintah dalam kasus ASF di Sumut agak lambat. “Pengumuman adanya kejadian penyakit ASF oleh pemerintah terlalu lama hampir tiga bulan, sedangkan Korea Selatan hanya satu hari langsung diumumkan ke publik,” ujar dia.

Dia menambahkan, kasus ASF juga berdampak pada pengurangan populasi babi di Medan sekitar 100.000 ekor. Namun populasi disana cukup tinggi, kasus ASF baru tersebar pada 16 kabupaten dari total sentra peternakan disana mencapai 33 kabupaten. “Artinya poupulasi di wilayah itu masih diatas 1 juta ekor, tepatnya 1,1 juta ekor,” katanya.

Dia berharap wabah tersebut bisa terisolir di daerah di Sumatera Utara, tak sampai menyebar ke sentra lain di Indonesia. “Ini menyangkut nasib 8 juta peternak babi di seluruh Indonesia,” jelas dia. Bantolo

 

Related articles

Recent articles