Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) kembali memperkenalkan varietas padi unggul IF (Indonesian Farmers) 16/ist

AB2TI Perkenalkan Varietas Padi IF16, Produktivitas Capai 12 Ton/Ha GKP

Agrofarm.co.id-Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) kembali memperkenalkan varietas padi unggul IF (Indonesian Farmers) 16. Selain tahan hama penyakit seperti wereng batang cokelat, penggerak batang padi dan blast, varietas ini mempunyai produktivitas mencapai 12 ton/hektar (ha) gabah kering panen (GKP).

Ketua Umum AB2TI, Dwi Andreas Santosa mengatakan, varietas padi IF16 merupakan pengembangan lebih lanjut dari varietas padi IF8. Namun berbeda dengan IF8 yang rasa nasinya lebih cocok untuk masyarakat wilayah Sumatera karena pera, untuk varietas padi IF16 rasa nasinya pulen, sehingga cocok untuk masyarakat Jawa.

Keunggulan lainnya varietas IF16 dengan varietas lainnya, umurnya genjah (pendek) yakni hanya 90 hst (hari setelah tanam) atau 104 hss (hari setelah sebar) di musim gadu dan tahan terhadap hama penyakit, seperti penggerek batang padi, wereng batang cokelat dan blast.

“Keunggulan yang menonjol adalah produktivitasnya cukup tinggi. Hasil ubinan terakhir mencapai 12,2 ton gabah kering panen (GKP)/ha, bahkan April lalu saat uji coba pertama sebanyak 14,06 ton/ha GKP,” katanya di sela-sela panen padi IF16, di Widasari, Kabupaten Indramayu, Jawa Tengah.

Hasil ubinan hanya berasal dari 48 rumpun, seharusnya untuk luasan 2,5 m X 2,5 m jumlah rumpun yang ada untuk jarak tanam 30 cm X 30 cm sebanyak 64 rumpun. Dengan demikian potensi sesungguhnya dari benih padi IF16 sebesar 16,3 ton GKP per hektar.

Dwi mengakui, bahwa varietas padi IF16 merupakan keturunan dari IF8 yang disilangkan dengan varietas lokal dari Malang pada tanggal 14 Agustus 2014 di Sekretariat Nasional AB2TI. Penyilangan dilakukan juga antara IF8 dengan varietas lainnya. Setelah generasi keempat, 3.500 galur turunan disebar ke petani anggota AB2TI di 6 Kabupaten. Setelah melalui seleksi hingga 11 generasi, akhirnya didapatkan varietas IF16 yang hasilnya tertinggi dibanding galur lainnya.

Secara genetik varietas IF16 menurut Dwi Andreas sudah cukup stabil. Berdasarkan kriteria pemulia tanaman, jika sudah mengalami seleksi selama minimal 5 generasi galur tersebut sudah stabil. IF16 memiliki jumlah anakan rata-rata 28 dan bulirnya 160 – 200 per anakan, sehingga layak untuk dikembangkan.

“Jadi kemunculan IF16 ini bukan tiba-tiba. Bahkan melalui jejaring AB2TI, kami telah menyebarkan varietas ini ke belasan kabupaten,” ujar Dwi dalam siaran persnya, Rabu (21/8/2019).

Lahirnya IF16 sebenarnya berawal April 2019 lalu saat diselenggarakan Festival Padi di Indramayu. Sebelum kegiatan itu AB2TI mengundang jejaring di seluruh Indonesia untuk mengirimkan benih lokal unggul dari daerahnya masing-masing. Saat itu terkumpul 360 varietas yang diperkenalkan. Namun setelah dilakukan seleksi, terutama kemiripan antar varietas tersebut, dipilih 90 varietas yang diuji melalui nandur bareng.

Dwi mengungkapkan, ke-90 varietas itu lalu ditanam bersamaan di satu lokasi dan dipanen saat Festival Padi 2019 tanggal 28 30 April 2019. Dari 90 varietas tersebut ada tiga varietas unggul yang didapatkan dan kemudian diberinama IF16 dengan produktivitas 14,06 ton/ha, IF17 sebesar 10 ton/ha dan IF18 sebanyak 9 ton/ha.

“Karena IF16 menjadi varietas yang paling tinggi produktivitasnya, kemudian petani jejaring AB2TI di Indramayu menanam kembali varietas tersebut,” ujarnya.

Menurut Dwi, bukan hanya petani AB2TI di Indramayu saja yang tertarik menanam varietas IF16, tapi petani sekitar lainnya. Bagi petani lain, varietas IF16 dikenal dengan sebutan Ciherang Tuban karena merupakan hasil seleksi dari Tuban.

“Dari hasil pertanaman di desa Kalensari, kecamatan Widasari menjadi pelajaran kita semua, varietas tersebut bisa dikembangkan lebih lanjut,” katanya.

Aryanto, dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat saat panen IF16 juga mengakui, keunggulan varietas tersebut. Meski jumlah rumpun IF16 dalam satu ubinan hanya 48, ternyata produktivitasnya lebih tinggi dibandingkan dengan Inpari 32 yang mempunyai rumpun hingga 60. “Dari hasil ubinan produktivitas IF16 mencapai 12 ton/ha, padahal rata-rata di Jawa Barat hanya 5,8 ton/ha,” katanya.

Tim dari Pusat Perlindungan Varietas Tanaman, Kementerian Pertanian juga mengunjungi lokasi penanaman IF16 pada tanggal 14 Agustus 2019 dan menyatakan kekagumannya terhadap IF16. Prof. Erizal Jamal, Kepala Pusat PVT setelah merima laporan tim yang berkunjung menyatakan kami takjub dengan hasilnya, luar biasa.

Kontoversi IF8

Jika dibandingkan dengan varietas IF16, maka IF8 memang berbeda, terutama dari sisi rasa. IF8 lebih cocok untuk konsumsi masyarakat Sumatera yang menyukai beras agak pera, sedangkan IF16 untuk masyarakat Jawa yang menyenangi beras pulen.

Namun demikian jika dibandingkan dengan varietas yang biasa di tanam petani yakni Ciherang, IF8 mempunyai produktivitas hampir dua kali lipat dibanding Ciherang, meski umurnya lebih panjang. Karena kelebihan itu Dwi Andreas mengakui, varietas IF8 tersebar dengan cepat di kabupaten Aceh Utara dan kabupaten lainnya yang akhirnya menimbulkan kontroversi.

Menurut Dwi Andreas, varietas IF8 berasal dari petani Karanganyar yang berhasil menyelekasi beberapa galur sejak tahun 2012. Sejak itu dilakukan beberapa kali pertanaman dan hasilnya relatif stabil. Kemudian tahun 2014, AB2TI melepas IF8.

“Sejak tahun 2014 hingga 2015, varietas IF8 ditanam petani di 13 kabupaten jejaring AB2TI di Indonesia. Hasilnya produktivitas IF8 lebih tinggi 57,36 persen dari petani sekitar,” tuturnya.

Dengan hasil itu, lanjut Dwi Andreas, sebanyak 9 kampung di Aceh berniat untuk menanam IF8 dengan menyediakan lahan seluas 400 ha. Bahkan varietas IF8 diserahkan langsung ke Gubernur untuk kemudian disalurkan ke petani untuk lahan seluas 200 ha.

“Panen pada April 2018, produksinya lebih tinggi hampir dua kali lipat varietas lainnya, sehingga menjadi sangat dikenal di Aceh Utara,” katanya.

Namun Dwi Andreas menilai, sikap petani untuk membudidayakan varietas IF8 tidak bisa disalahkan. Sebab secara konstitusi, UU No. 12 Tahun 1992 tentang Budidaya Tanaman, petani bebas membudidayakan tanaman yang mereka inginkan. Berdasarkan hasil yudicial review terhadap UU No. 12 Tahun 1992, Mahkamah Konstitusi melalui keputusannya Nomor 99/PUU-X/2012, mengubah Pasal 12 ayat (1) UU No 12/1992 menjadi

“Varietas hasil pemuliaan atau introduksi dari luar negeri sebelum diedarkan terlebih dahulu dilepas oleh Pemerintah kecuali pemuliaan oleh perorangan petani kecil dalam negeri,” jelasnya.

“Karena petani kecil yang memproduksi dan mengedarkan. Jadi saya lihat tidak ada UU yang dilanggar. Apalagi penyebaran tersebut sebatas di komunitas AB2TI sehingga tidak melanggar peraturan pemerintah,” tegasnya.

Karena itu Dwi menyayangkan sikap adanya petani yang ditangkap karena menyebarkan benih padi unggul. Sebab, secara aspek hukum, mereka tidak melakukan pelanggaran. Bahkan petani Aceh yang menanam padi IF8 pendapatannya bertambah, selain karena produktivitasnya hampir dua kali lipat varietas lainnya harga gabah IF8 dibeli Rp 1.000/kg lebih tinggi dari gabah lainnya.

Dwi mengungkapkan, kasus penangkapan petani karena memproduksi dan menyebarkan benih unggul pernah terjadi tahun 2005-2017. Saat itu ada belasan petani yang mengembangkan jagung hibrida mendapatkan masalah hukum.

“Pemerintah juga harus melihat cepatnya petani mengadopsi varietas IF8 menjadi pelajaran. Selama ini tidak ada varietas padi atau tanaman pangan yang dalam 1 tahun diadopsi sedemikian cepat,” bebernya.

Menurut Dwi Andreas, seharusnya pemerintah mendorong dan mendukung petani yang menghasilkan benih unggul. Selain itu harus diakui penilai varietas yang sesungguhnya adalah petani. Varietas yang tidak bisa diterima petani misalnya karena tidak tahan hama dan/atau penyakit, produksi rendah atau tidak memiliki karakter unggul lainnya pasti akan ditolak petani dan tidak pernah lagi dikembangkan.

Petani kecil yang berjejaring dalam AB2TI memiliki tujuan yang sama dengan pemerintah yakni untuk meningkatkan produksi pangan dan kesejahteraan petani. Apalagi benih yang dihasilkan berasal dari dalam negeri, bukan impor.

Dwi Andreas juga melihat proses sertfikasi benih oleh pemerintah cukup lama hingga 4 tahun. Kemudian untuk mendapatkan ijin edar masih perlu 2 tahun lagi. Belum lagi persyaratan untuk bisa mengedarkan, petani harus mempunyai badan usaha resmi.

“Untuk pendaftaran varietas tanam serta mendapatkan ijin edar bagi petani akan sangat sulit dan berat, dengan biaya yang sangat tinggi,” katanya.

Ke depan Dwi berharap, pemerintah segera merevisi UU No. 12 Tahun 1992 agar peraturan yang ada bisa lebih melindungi petani dan pemulia tanaman. Jangan sampai petani yang kreatif justru mendapat masalah hukum. “Gol terbesarnya adalah UU yang bisa melindungi, memuliakan dan ramah bagi petani kecil,” pungkasnya. Bantolo