Direktur PT Great Giant Food (GGF), Welly Sugiono dan Tim Badan Karantina Pertanian diskusikan langkah terobosan protokol karantina Cina/ist

Kementan Gencar Buka Pasar Produk Pertanian ke Manca Negara

Agrofarm.co.id-Upaya membuka pasar seluruh produk pertanian ke manca negara terus dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) termasuk nenas segar Indonesia ke pasar Cina.

“Upaya negosiasi dagang nenas telah kami proses sejak 2.5 tahun lalu,” ungkap Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (23/2/2019).

Jamil menanggapi beredarnya isu hambatan ekspor nenas ke Cina dikarenakan oleh Karantina Pertanian dibeberapa media online nasional beberapa waktu yang lalu. Dan setelah dimintakan konfirmasi ulang, pihak manajemen PT Great Giant Food (GGF) memberikan klarifikasi bahwa masalah hambatan ekspor nenas ke Cina ada pada otoritas Karantina di Cina.

Hal ini dikarenakan pihak negara tujuan ekspor tersebut masih melakukan analisis resiko satu per satu dan dengan keterbatasan SDM dibandingkan banyaknya kegiatan analisis yang mereka lakukan.

Jamil menjelaskan proses pengajuan akses pasar nenas segar ke Cina secara resmi telah disampaikan oleh Barantan kepada otoritas karantina Tiongkok sejak tanggal 8 September 2016. Namun, proses pengajuan Barantan tersebut tidak mendapat respon dari otoritas Karantina Tiongkok. Selanjutnya Barantan meminta KBRI di Beijing untuk mendorong pihak Tiongkok memberikan tanggapan atas usulan akses pasar nenas segar Indonesia.

Pihak KBRI Beijing menyampaikan informasi bahwa usulan akses pasar buah nenas akan diproses setelah protokol ekspor buah naga Indonesia, mengingat saat ini Tim Ahli Cina sedang dalam proses Risk Analysis buah naga sesuai dengan usulan Indonesia.

Namun demikian, mengingat besarnya potensi ekspor nenas Indonesia maka pada Desember 2018, Delegasi Republik Indonesia (DELRI) melakukan negosiasi dengan otoritas karantina Cina. Ada dua usulan yang diajukan Delri untuk dinegosiasikan saat itu.

Pertama, bahwa pihak Cina akan melakukan risk analysis terhadap Nenas sebelum penyusunan Protokol Ekspor. Kedua, pihak Indonesia meminta agar proses risk analysis buah nenas dapat dilakukan paralel atau bersamaan dengan buah naga. Dua usulan itulah yang dipertimbangkan oleh otoritas karantina Cina.

Langkah selanjutnya, Barantan telah menyiapkan tindak lanjut dari hasil negosiasi DELRI Desember 2018 kemarin. Beberapa langkah yang akan dilakukan oleh Barantan adalah pihaknya akan segera melakukan komunikasi kembali dengan pihak KBRI.

“Kami berharap dapat melakukan kunjungan ke Cina bulan Maret sebelum kedatangan delegasi Cina pada bulan April 2019,” ujarnya.

Jamil berharap rencana kunjungan Tim Indonesia ke Tiongkok pada bulan Maret 2019 nanti dapat melibatkan seluruh stakeholders yakni Kementan, Kemendag, Kemenlu, serta calon eksportir dalam hal ini PT GGF dan calon eksportir lainnya. “Semua harus mau terlibat agar tahu tahapan proses yang akan dijalani dan dapat terus dikawal,” tegas Ali. Bantolo