Desa Susu (Dairy Village)/ist

Desa Susu Sinergi Strategis Peternakan Sapi Perah Moderen

Agrofarm.co.id-Sunyi dan senyap saat masuk ke Desa Susu (Dairy Village). Namun dari sanalah proyek percontohan peternakan sapi perah moderen masa depan muncul. Tujuan Desa Susu untuk meningkatkan kesejahteraan para peternak secara berkelanjutan.

Pembangunan Desa Susu melalui program kemitraan yaitu kerja sama antara (FFI), PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII, Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang Jawa Barat, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Belanda.

Program ini dilaksanakan dalam rangka membangun semangat para peternak sapi perah dan untuk meningkatkan kualitas serta produktivitas susu segar di tingkat peternak. Pembangunan Desa Susu diharapkan dapat merubah mindset peternak, yaitu dari cara beternak tradisional ke arah peternakan yang moderen dan ekonomis. Konsep peternakan tersebut kedepannya diharapkan dapat diduplikasi oleh peternak sekitarnya, sehingga mampu mendorong dan membangun persusuan dalam negeri.

Kemitraan merupakan salah satu fokus pemerintah untuk mendorong percepatan pengembangan pembangunan peternakan sapi perah di Indonesia. Pemerintah berharap kemitraan menjadi salah satu solusi dalam mengurai permasalahan persusuan nasional dalam mengekselerasi penyediaan susu melalui produksi dalam negeri yang berkualitas dan berdaya saing untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat dan bahan baku industri yang berkesinambungan. Peran peternak sapi perah lokal Indonesia sangatlah penting bagi perusahaan karena para peternaklah yang memastikan kelancaran produksi dengan menyediakan bahan baku susu sapi yang memiliki kuantitas dan kualitas yang baik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kebutuhan susu Indonesia pada 2017 sebesar 4.448,67 ribu ton, dengan konsumsi susu 16,99 kg/kap/tahun, sementara itu produksi susu nasional adalah 922,97 ribu ton atau memasok 20,74% dari konsumsi nasional. Maka 3.525,70 ribu ton (79,26 persen) masih harus dipenuhi melalui impor. Data tersebut menunjukkan adanya potensi yang besar dalam menumbuhkan industri pengolahan susu serta mengembangkan usaha peternakan sapi perah di Indonesia.

Untuk mendorong peningkatan populasi dan produksi sapi perah kementerian Pertanian terus mendorong untuk terwujudnya kemitraan antara pelaku usaha (IPS dan importir) dengan peternak, kelompok peternak dan koperasi peternakan sapi perah. Pelaksanaan kemitraan ini diatur dalam berbagai regulasi dan lintas kementerian.

Peternak Sapi Belajar Teknik Modern Produksi Susu

Untuk meningkatkan kapasitas peternak sapi lokal dalam merawat sapi perahnya, Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang, Jawa Barat, bekerja sama dengan sejumlah pihak membangun Desa Susu atau Diary Village di Ciater, Subang, Jawa Barat.

Pemilihan Ciater sebagai Desa Susu didasari fakta provinsi Jawa Barat sebagai salah satu daerah dengan jumlah peternak sapi perah terbanyak di Indonesia. Suhu udara yang sejuk dan area lahan yang cukup luas juga menjadi salah satu alasan mengapa kawasan ini sangat cocok untuk beternak sapi perah.

Disampaikan Ketua Koperasi Perternak dan Susu Bandung Utara (KSBU), Dedi Setiadi, didirikannya Desa Susu ini tak lepas dari target pemerintah untuk memenuhi swasembada susu pada 2025. Disampaikan Dedi, selama ini peternak lokal masih menggunakan teknik sederhana dalam mendorong produksi susu dari sapi yang diternaknya. Alhasil jumlah produksi susu hanya mencapai rata-rata 12,5 liter sehari.

“Saya berharap ketika kita memiliki perternakan modern seperti ini (Dairy Village), produksi kita tidak hanya 10-12 liter, tapi bisa 15-20 liter sehingga bisa meningkatkan pendapatan peternak sapi Indonesia,” ujar Dedi pada Agrofarm di sela-sela peresmian Dairy Village di Ciater, Jawa Barat,

Dalam kesempatan yang sama, Akhmad Sawaldi, DDP dan FDOV project manajer Frisian Flag Indonesia mengatakan bahwa nilai investasi Dairy Village ini mencapai Rp 16 miliar yang mana 40 persennya didukung oleh Pemerintah Belanda dan sisanya didukung oleh Frisian Flag dan Koperasi Perternak dan Susu Bandung Utara (KSBU) Lembang.

Desa Susu seluas satu hektar ini, kata Akhmad, memiliki fasilitas berupa kandang sapi, rumah perah untuk 12 ekor sapi, tangki pendingin susu, traktor, truk, dan alat pemisah kotoran sapi. Menggunakan teknologi terkini, Desa Susu ini ditujukan sebagai bisnis peternakan.

“Nantinya para peternak lokal bisa mendapatkan manfaat ganda dengan bekerja di Desa Susu ini, yakni mendapat gaji dan bagi hasil produksi susu dari sapi perah yang diternaknya di sini. Minimal mereka punya 8 sapi, nanti tiap tahun dievaluasi berapa keuntungannya dan dibagi sesuai dengan jumlah sapi mereka,” ujar Akhmad.

Meski demikian, Akhmad tak menampik bahwa pihaknya menetapkan aturan yang ketat bagi peternak lokal yang ingin bergabung di Dairy Village ini. Pertama, peternak lokal harus memiliki pengalaman kurang dari lima tahun, berusia di bawah 35 tahun, dan memiliki sekurang-kurangnya 3-4 sapi.

“Harapannya, kapasitas dan kemampuan peternak lokal dalam menghasilkan susu dengan kualitas dan kuantitas yang tinggi bisa tercapai dan kesejahteraan mereka juga meningkat, di samping itu produksi susu juga meningkat,” tandas dia.

Demi Swasembada Susu 2025

PT Frisian Flag Indonesia (FFI) membangun Desa Susu (Dairy Village) untuk memberdayakan peternak sapi perah lokal Indonesia di Ciater, Jawa Barat. Desa Susu ini menjadi peternakan sapi perah independen modern dan berkelanjutan pertama di Indonesia.

Dairy Village dibangun sebagai proyek percontohan peternakan sapi perah independen untuk mengatasi tantangan peternakan sapi perah lokal. Lahan peternakan ini ditujukan khusus untuk peternak sapi perah lokal dan akan dikelola langsung oleh Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang melalui kerja sama erat dengan FFI, kata Presiden Direktur FFI, Maurits Klavert di Ciater.

Dairy Village dibangun atas kerja sama antara FFI dan Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang, Jawa Barat. Tempat ini disewa lahannya dari PTPN VIII, yang sekaligus mencerminkan dukungan terhadap perusahaan dari Pemerintah Indonesia dalam memenuhi swasembada susu pada 2025.

“Kemitraan strategis kami dengan Frisian Flag Indonesia, afiliasi FrieslandCampina di Indonesia, adalah salah satu contoh inisitatif sukses melalui dukungan pilar Sustainable Welfare dari proyek FDOV yang bertujuan untuk meningkatkan taraf kehidupan dari para peternak sapi perah lokal dan meningkatkan produksi susu,” paparnya.

Klavert mengaku optimistis bahwa pendirian Dairy Village akan membuka peluang baru bagi pertumbuhan industri susu dan masa depan peternakan sapi perah Indonesia. Kondisi ini akan berperan sebagai model untuk segala aspek dari produksi susu yang berkelanjutan dan memungkinkan para peternak sapi lokal untuk menjalankan bisnisnya secara optimal sekaligus meningkatkan kualitas dan kuantitas dari produksi susu segar peternak.

Pendirian Dairy Village ini merupakan upaya FFI untuk berkontribusi pada pencapaian target pemerintah, yang juga menjadi contoh konkrit dari pilar ketiga proyek FDOV Perusahaan, Sustainable Welfare atau Peningkatan Kesejahteraan, yang disponsori oleh Pemerintah Belanda.

Pemerintah Belanda mendukung setiap inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan peternak di Indonesia. Peternak sapi perah telah menjadi salah satu fokus kami, timpal Counsellor for Agriculture dari Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, Louis Beijer.

Pemerintah Indonesia memang menargetkan untuk mencapai 40% dari kebutuhan susu domestik pada tahun 2025. Demi mencapai target tersebut, pemerintah Indonesia telah mengembangkan cetak biru untuk menumbuhkan industri susu di Indonesia.

Pemerintah menargetkan peningkatan konsumsi susu dari 10 L/kapita pada tahun 2009 menjadi 23 L/kapita pada tahun 2025. Tak hanya itu, pemerintah juga ingin meningkatkan populasi sapi perah menjadi minimum delapan ekor per peternak sapi perah, meningkatkan produksi susu hingga 20 liter/ekor/hari. Dengan demikian, kesejahteraan peternak sapi perah lokal ikut meningkat.

Di Dairy Village, peternak sapi perah KPSBU Lembang akan mempelajari praktik peternakan sapi perah yang baik secara intensif, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi susu perah.

Keberadaan Dairy Village dapat membantu peternak sapi perah meningkatkan keterampilan manajerial mereka, sehingga para peternak dapat menjadi pengusaha sukses dalam peternakan sapi perah sebagai bukti nyata di masa depan.

“Kami bersyukur dapat menyaksikan bagaimana kerja sama kami dengan FFI telah tumbuh ke tingkat yang lebih tinggi. Dairy Village adalah inisiatif dari FFI yang tidak hanya akan memberdayakan para peternak sapi perah kami, tetapi juga membawa inovasi yang akan mendorong peternak sapi perah untuk menerapkan praktik peternakan sapi perah yang baik dalam bisnis mereka,” ungkap Ketua KPSBU Dedi Setiadi lagi. Dian