Kementan dan Bulog salurkan 81 ton jagung ke peternak/ist

Bantu Peternak Ayam Jabar, Kementan dan Bulog Distribusikan 81 Ton Jagung

Agrofarm.co.id-Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Perum Bulog melakukan serah terima 81 ton jagung untuk distribusikan ke peternak Jawa Barat.

Acara Serah terima tersebut dilakukan di Gudang PT. Sentral Grain Terminal Kawasan Pelabuhan Cigading Cilegon Banten.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita menyampaikan, bantuan ini adalah pengiriman tahap pertama. Ini sebagai upaya pemerintah dalam memfasilitasi pemenuhan kebutuhan jagung bagi peternak mandiri sampai dengan akhir bulan Februari 2019, dengan harga Rp 4000 per kilogram (kg).

“Ini sebagai bukti kepedulian dan kehadiran pemerintah ditengah-tengah kesulitan yang dihadapi oleh peternak,” kata I Ketut dalam siaran persnya, Jumat (25/1/2019).

Ia berharap selanjutnya peternak dapat membeli jagung dari sentra-sentra produksi jagung yang diperkirakan akan mulai memasuki masa panen raya pada akhir Februari 2019. Sehingga harga jagung petani tidak jatuh saat panen raya, dilain pihak peternak juga masih mendapat harga yang wajar, tandasnya.

Dia mengungkapkan bahwa hari ini mulai didistribusikan jagung bulog ke peternak di Jawa. Untuk wilayah Jawa Barat ini adalah pengiriman tahap pertama dari 1000 ton yang akan disistribusikan ke peternak.

Untuk wilayah Jawa Barat, serah terima jagung diwakili oleh koperasi/assosiasi peternak ayam mandiri dan hari ini diserahkan sebanyak 81 ton jagung dari Bulog kepada peternak.

Pada kesempatan tersebut, hadir perwakilan dari koperasi dan assosiasi peternakan peternak ayam mandiri (Pinsar, PPUN, Koperasi Pertanian Karya Karya Agrisatwa dan Koperasi Unggul Selaras).

Hartono, Ketua PPUN mewakili kelompok peternak penerima bantuan menyampaikan apresiasinya kepada Menteri Pertanian yang telah membantu peternak kecil untuk memperoleh jagung dengan harga sesuai harga acuan.

Ia katakan bahwa pengolahan jagung untuk pakan ternak ini akan dikerjasamakan dengan pihak lain dalam hal ini pabrik pakan ternak, karena untuk peternak Broiler (perdaging) jagungnya belum dapat Ia olah sendiri, sehingga harus dikerjasamakan yang dilengkapi dengan perjanjian tertulis. Menurutnya, hal ini sangat berbeda dengan pola pakan pada peternak layer (petelur).

“Saya berharap Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dapat memfasilitasi untuk merekomendasi keinginannya, dan ini akan lebih mudah jika jagung ini juga bisa disediakan untuk partnernya, yaitu pabrik pakan ternak dengan harga yang wajar,” pungkasnya. Bantolo