Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto

Perjanjian Perdagangan Jadi Kunci Dorong Pasar Ekspor

Agrofarm.co.id-alam bidang kerja sama internasional, Kementerian Perindustrian (kemenperin) Indonesia telah menjalin berbagai bidang kerjasama ekonomi dan teknik pada tahun 2018. Berbagai kerjasama ini akan menjadi kunci demi mendorong pasar ekspor industri Indonesia.

Di bidang kerjasama ekonomi adalah Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC-CEPA). Melalui kerjasama ini, Chile mengurangi tarif sebanyak 7.669 produk, dimana 6.704 tarif akan dihapus menjadi 0%. Dengan ini, produk-produk yang berpotensi mengalami kenaikan ekspor adalah alas kaki, ban, lemari pendingin, otomotif, minyak sawit, tekstil, kopi, teh, furniture, perhiasan, dan produk perikanan.

Kerjasama ekonomi lainnya adalah Indonesia-EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA), hasilnya penurunan tarif di Swiss (7.424 produk), Norwegia (6.480 produk), dan Islandia (8.131 produk). Produk dalam negeri yang berpotensi mengalami kenaikan ekspor dari kerjasama ini antara lain alas kaki, ban, perhiasan, perangkat optik, emas, perangkat telepon, minyak esensial, kelapa sawit, kopi, mainan, dan tekstil.

Disini kuncinya adalah perjanjian-perjanjian perdagangan, dengan EFTA, Australia, CEPA, diharapkan volume bisa meningkat dan yang lebih penting lagi, dengan ditandatanganinya EFTA maka diharapkan bisa mempercepat perjanjian CEPA, kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam jumpa pers akhir tahun 2018 di Kementerian Perindustrian (19/12/2018).

Ia menambahkan bahwa kerjasama internasional yang diharapkan bisa membuka pasar ekspor indonesia. Saat ini, yang sudah ditandatangani adalah Indonesia-Chile, kemudian EFTA dengan Swiss, Norwegia, Islandia, and Liechtenstein. Sehingga diharapkan ekspor sektor-sektor industri dapat meningkat.

Selain di bidang ekonomi, kemenperin juga melakukan bidang kerjasama teknik di tahun 2018. Airlangga mengatakan bahwa kemenperin telah menandatangani pelatihan teknik kerjasama untuk Dual Vocational Education and Training Development dan mendapatkan dana hibah sebesar CHF 8 juta. Kemudian juga ada Export Coaching Program dengan Belanda.

Kerjasama Dual Vocational Education and Training Development dengan Swiss ini meliputi bantuan teknis tenaga ahli di politeknik industri logam Morowali, pengembangan manajemen sekolah, kurikulum, dan tenaga pengajar serta Asosiasi Politeknik dan Industri Indonesia.

Sedangkan Export Coaching Program yang merupakan kerjasama dengan Pemerintah Belanda (CBI) ini berperan sebagai fasilitasi untuk membuka dan meningkatkan akses pasar dan pemanfaatan rantai suplai global, khususnya di Eropa. Dari 22 perusahaan yang difasilitasi, 12 perusahaan berhasil menjadi eksportir ke Eropa.

Pada tahun 2019, pertumbuhan ekonomi ditargetkan 5,3%, sedangkan pertumbuhan industri pengolahan non-migas ditargetkan 5,4%. Subsektor pertumbuhan industri non-migas yang diproyeksikan tumbuh tinggi pada 2019 adalah mamin (9,86%), mesin (7%), tekstil dan pakaian jadi (5,61%), barang dari kulit, alas kaki (5,40%) dan barang logam, komputer, dan barang elektronik (3,81%).

Beberapa hal sudah didorong, yaitu dengan insentif bagi pelaku industri, yang masih akan ada beberapa kali rapat lagi di menko perekonomian dengan kementerian keuangan. Kemudian akan diluncurkan INDI 4.0 yang merupakan assessment terhadap posisi industri. Pelatihan terhadap manajer dan tenaga ahli transformasi industri, e-smart IKM, penunjukan Lighthouse of Industry 4.0. dan pembangunan showcase dan pusat inovasi industri. Digital capability center atau inovasi ini diharapkan di awal tahun depan sudah ada beberapa percontohan terkait Food and Beverage di Bogor, pungkas Airlangga. nat