Menteri Perindustrian Airlangga memberikan keterangan kepada wartawan seusai Jumpa Pers Akhir Tahun 2018 di Jakarta/hms,

Periode 2015-2018 Industri Mamin Moncer

Agrofarm.co.id-Subsektor makanan dan minuman (mamin) telah menjadi yang tertinggi pertumbuhannya selama periode 2015-2018, yaitu 8,71%. Termasuk dalam subsektor dengan pertumbuhan tertinggi setelah mamin adalah barang logam, komputer, barang elektronik, mesin dan perlengkapan (4,02%), alat angkutan (3,67%), Kimia (3,40%), dan tekstil dan pakaian jadi (1,64%).

Kalau kita ingin memperbaiki pertumbuhan ekonomi maka yang menjadi prioritas untuk diperbaiki atau faktor yang besar adalah sektor industri pengolahan atau sektor industri manufaktur, kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam jumpa pers akhir tahun 2018 di Kementerian Perindustrian (19/12/2018).

Selain menjadi subsektor non-migas dengan pertumbuhan tertinggi, mamin juga menjadi sektor industri manufaktur dengan kontribusi tertinggi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional 2018. Lima besar kontribusi sektor industri terhadap PDB Nasional 2018 adalah mamin (6,34%), Kimia (2,98%), barang logam, komputer, barang elektronika, mesin dan perlengkapan (2,16%), alat angkutan (1,86%), dan tekstil dan pakaian jadi (1,13%).

Rata-rata pertumbuhan industri pengolahan non-migas periode 2015-2018, 4,87% dan nilai PDB nya adalah Rp 2.555,8 triliun di tahun 2018 dan ini terus meninggi setiap tahun. Kontribusi industri manufaktur terhadap PDB nasional dibandingkan sektor-sektor lain industri pengolahan adalah tertinggi 19,89% dan ini lebih tinggi dibandingkan sektor-sektor seperti migas batubara, jelas Airlangga.

Daya saing industri nasional terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir ini, hal ini terlihat dengan adanya peningkatan nilai tambah industri dari USD 212,04 miliar menjadi USD 236,69 miliar, peringkat Global Competitiveness Index dari ranking 47 ke ranking 45, peringkat MVA Index dari ranking 11 menjadi rangking 9, serta pangsa pasar industri nasional terhadap manufaktur global dari 1,75% menjadi 1,84%.

Total ekspor impor industri pengolahan non-migas (manufaktur/pengolahan) adalah sebesar 72,28%. Ekspor produk industri 2018 dipronogsa sebesar USD 130,74 miliar, naik sebesar 4,51% dibanding tahun 2017 (USD 125,10 miliar). Sedangkan angka impor tahun ini adalah sebesar USD 146,68 miliar, naik signifikan sebesar 20,06% dibanding tahun 2017 (USD 122,17 miliar).

Industri pengolahan kontribusinya terhadap ekspor itu 72,28% dan memang di tahun terakhir terjadi defisit yang tentunya perlu kita perbaiki terutama dengan investasi dan substitusi impor, tegas Airlangga.nat/irsa