10.3 C
New York

4 Tahun Jokowi-JK, Kinerja Sektor Hortikultura Kinclong

Published:

Agrofarm.co.id-Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Suwandi, dalam jumpa pers “4 Tahun Evaluasi Kinerja Pembangunan Hortikultura” mengatakan, selama kurun waktu 4 tahun terakhir, berbagai indikator kinerja hortikultura semakin membaik.

“Trend produksi dan ekspor komoditas buah-buahan, sayuran dan tanaman hias semakin meningkat dari tahun ke tahun,” ujarnya. Hingga saat ini Ditjen Hortikultura menangani 323 komoditas dengan ribuan varietas.

“Produksi Sayuran 2017 mencapai 12,48 juta ton naik dari tahun 2016 12,08 juta ton. Produksi buah-buahan tahun 2017 mencapai 19,6 juta ton, naik dari tahun sebelumnya 18,3 juta ton. Produksi bunga potong naik dari 763 juta tangkai di tahun 2016 menjadi 819 juta tangkai di tahun 2018,” beber Suwandi di Hotel Ibis Trans Studio Bandung, Kamis (29/11/2018).

Lebih rinci, Suwandi mencontohkan produksi jeruk tahun 2017 yang mencapai 2,3 juta ton naik signifikan dari tahun 2013 yang hanya 1,65 juta ton. Produksi pisang juga naik dari 6,28 juta ton menjadi 7,04 juta ton. Bawang Merah melonjak dari 1 juta ton di tahun 2013 menjadi 1,47 juta ton di tahun 2017.

“Membaiknya kinerja hortikultura tidak lepas dari gebrakan dan kebijakan Pak Menteri Amran Sulaiman yang fokus pada peningkatan produksi dan ekspor,” ungkap Suwandi.

Adapun angka BPS merilis inflasi bahan makanan turun drastis dari 11,35% di tahun 2013 menjadi hanya 1.26% di tahun 2017 atau turun hingga 88,9%. Dua komoditas pangan pokok Bawang Merah dan Aneka Cabai yang dulu sering menjadi penyumbang inflasi karena fluktuasi harganya yang tinggi, dalam 2 tahun terakhir telah mampu diredam stabil. Untuk bawang merah bahkan menyumbang deflasi.

“Kita semua merasakan sendiri, bahkan saat hari raya keagamaan sekalipun kondisi cabai dan bawang merah terjaga stabil,” katanya.

Suwandi menuturkan, subsektor hortikultura mampu menyumbang PDB 196 Trilyun di tahun 2017, naik dari tahun 2013 sebesar 137,3 Trilyun. Usaha Hortikultura diakuinya semakin digandrungi masyarakat karena nilai tambah ekonominya yang sangat menjanjikan dibanding subsektor lainnya. Indikatornya, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Hortikultura yang dirilis BPS dari tahun ke tahun semakin meningkat. Periode hingga Oktober 2018, NTUP Hortikultura mencapai 111,79 naik signifikan dibanding tahun 2014 yang hanya 106,05.

Naiknya NTUP mengindikasikan bahwa usaha tani Hortikultura semakin menguntungkan secara ekonomi. Artinya kesejahteraan petani juga meningkat, ujar Dirjen muda yang akrab dipanggil Wandi tersebut.

“Sesuai arahan Bapak Presiden dan Menteri Pertanian, ekspor produk hortikultura tropis agar terus digenjot. Untuk itu, kami sudah pangkas perijinan ekspor sesimpel dan secepat mungkin,” kata Suwandi.

Dampak kebijakan tersebut langsung dirasakan pelaku usaha. Ekspor produk hortikultura tropis seperti manggis, durian, pisang, bawang merah, wortel, tanaman obat hingga tanaman hias meningkat signifikan.

Ekspor Manggis periode Januari-September 2018 melonjak 378,6% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor durian hingga September 2018 melesat naik 733% dibanding 2017. Yang dulunya kita defisit, sekarang neraca perdagangan durian kita sudah surplus. Periode Januari-September 2018 durian kita surplus 733 ton.

“Buah-buahan lain yang ekspornya turut naik antara lain pisang, salak, jeruk dan rambutan. Untuk Nanas baik segar maupun olahannya mampu mengisi 85% pangsa ekspor buah-buahan. Pisang kita sudah swasembada bahkan kita sudah mampu ekspor pisang jenis cavendish dan pisang mas kirana. Jadi kalau dulu hampir tiap hari kita dijejali dengan buah-buahan impor, kini buah-buahan lokal sudah mampu merajai, bahkan ekspor,” jelas Wandi.

Selain buah-buahan, kinerja bawang merah juga mencatatkan prestasi yang membanggakan, dari semula masih impor 74 ribu ton tahun 2014, bisa turun drastis hingga nol persen di tahun 2016.

“Sejak 2016 hingga saat ini kita sudah tidak lagi impor Bawang Merah dan Cabai Segar. Bahkan kita mampu membalikkan keadaan menjadi ekspor. Tahun 2017 lalu ekspor bawang merah mencapai 7.750 ton dan tahun 2018 ditargetkan naik 100%. Ekspor sayuran babby buncis, sayuran, tanaman hias dan benih hortikultura juga terus kita dorong tingkatkan. Untuk kentang sayur, Alhamdulillah sudah tidak perlu impor lagi alias swasembada,” jelasnya.

“Kami mengakui masih punya PR untuk menyelesaikan target swasembada bawang putih di tahun 2021 dan Kentang Industri 2020. Untuk bawang putih tahun 2018 ini ditargetkan bisa tanam sekitar 10.600 ribu hektar yang seluruh hasilnya akan dijadikan benih untuk musim tanam 2019 nanti seluas 40 ribu hektar. Tahun 2020 kami akan tanam besar-besaran hingga puncaknya 2021 nanti kita akan tutup kran impor secara signifikan,” ungkap Wandi.

Terkait kentang industri, Suwandi menyebut salah satu produsen olahan makanan berbasis kentang terbesar di Indonesia telah menyatakan siap swasembada tahun 2019. Sementara pasokan ke industri lainnya akan selesai di tahun 2020.

Disinggung wartawan mengenai upaya pemerintah dalam mengatasi over produksi yang berakibat jatuhnya harga seperti terjadi pada bawang merah dan cabai, Wandi mengaku sudah punya jurus jitu. “Kami punya 10 jurus jitu menghadapinya. Ekstensifikasi di luar Pulau Jawa, intensifikasi teknologi di sentra Jawa, peningkatan kapasitas petani dan penggunaan TSS,” terang Wandi.

“Kami juga terus menata pola produksi antar wilayah dan antar waktu terutama untuk komoditas strategis seperti bawang dan cabai. Kami kuatkan manajemen bersama petani champion. Pasar lelang cabai yang kini sudah tumbuh kita perluas. Hilirisasi produk dan industri olahan terus kita fasilitasi. Teknologi dan manajemen penyimpanan kita perbaiki. Perluasan ekspor juga strategis untuk stabilisasi harga saat produksi melimpah,” lanjut Wandi antusias.

“Prinsipnya dari hulu hingga hilir semua kita ingin perbaiki bersama-sama. Kami ingin tunjukkan kepada publik bahwa negeri ini punya potensi raksasa ekonomi masa depan yang luarbiasa yaitu hortikultura,” pungkas Wandi. Bantolo

 

Related articles

Recent articles