20.8 C
New York

Bayer Juara Menjawab Tantangan Minimnya Regenerasi Di Sektor Pertanian

Published:

Agrofarm.co.id – Bayer Juwiring Agriculture Research and Academy (JUARA) di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, berfokus mencetak generasi muda pertanian dengan pendekatan teknologi modern dan berbasis sains.

Program pendampingan bagi para petani  yang dibuat perusahaan global berbasis sains ini menjawab tantangan minimnya regenerasi di sektor pertanian.

**Baca Juga:Hari Pangan Sedunia 2025: Asa Swasembada di Bumi Juwiring

Pemerintah menyebutkan krisis regenerasi petani sebagai ancaman serius bagi keberlanjutan sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional.

Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Pangan Widiastuti, dalam sebuah diskusi di Jakarta, pertengan Oktober lalu,  menegaskan bahwa rendahnya keterlibatan generasi muda menjadi salah satu tantangan utama dalam pembangunan pertanian nasional.

“Petani masih dianggap sebagai pekerjaan yang tidak menguntungkan. Kita sangat membutuhkan solusi untuk mengatasi aging farmer atau penuaan petani agar sektor pertanian tetap berkelanjutan dengan mengoptimalkan peran pemuda,” ujarnya.

Krisis regenerasi sektor pertanian itu dirasakan oleh Perusahaan global berbasis Sains, Bayer. Ibarat sedia payung sebelum Hujan, Lewat Bayer Juara program pendampingan petani berbasis agrikultur memadukan kearifan lokal petani dengan sains dan teknologi yakin akan keberlanjutan ketahanan pangan akan tetap terjaga.

Head of Field Solutions Bayer South East Asia & Pakistan Kukuh Ambar Waluyo mengatakan bahwa Bayer JUARA  menjadi wadah pelatihan bagi petani muda untuk mengenal dan mempraktikkan teknologi pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim dan kebutuhan pasar.

“Kami mencetak petani muda melalui teknologi. Saat ini kami memiliki tujuh alat pendeteksi cuaca, dua diantaranya di Klaten, termasuk sensor hujan dan sistem pemantauan suhu, serta teknologi drone seperti phenotyping dan application drone,” katanya di Klaten, pada Agrofarm

Menurut Kukuh, teknologi tersebut membantu petani memahami kondisi lahan, tingkat kelembaban, dan kebutuhan tanaman secara akurat, sehingga keputusan pertanian dapat diambil berdasarkan data ilmiah, bukan sekadar pengalaman.

Bayer JUARA, lanjutnya, juga menjalin kerja sama dengan sejumlah universitas terkemuka di Indonesia seperti Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam program magang dan penelitian terapan.

Mahasiswa dari berbagai kampus diberikan ruang yang besar ikut belajar langsung untuk menjembatani teori dengan praktik di lapangan, sehingga diharapkan tumbuh keingintahuan mereka pada pertanian.

“Kami ada 120 riset per tahun. Mereka juga ikut belajar menganalisis benih, tanah, cuaca, dan bagaimana mengoperasikan teknologi pertanian terkini. Begitupun sebaliknya kami juga belajar dengan ahli di sana,” ujarnya.

Pihaknya menilai pelibatan generasi muda dalam pertanian menjadi bagian penting dari upaya menjaga regenerasi petani di tengah menurunnya minat terhadap sektor pangan dan pertanian di Indonesia.

“Dengan pendekatan teknologi, kami ingin menunjukkan bahwa pertanian adalah bidang masa depan yang menarik, produktif, dan bernilai ekonomi tinggi bagi anak muda,” kata Kukuh.

Lanjut Kukuh lagi, Program pendampingan petani di berbagai daerah melibatkan universitas dan peneliti lokal untuk memastikan hasil riset bisa diterapkan langsung di lapangan.

“Rata-rata produktivitas meningkat 20 persen setelah petani mendapat pendampingan. Dari yang semula 5–7 ton per hektare, hasilnya kini bisa lebih tinggi tergantung kondisi lahan dan irigasi,” katanya.

Ia menyebutkan, pendampingan mencakup pemilihan benih unggul. Selain itu, petani juga dibekali pengetahuan mengenai sistem tanam blok, teknik pengairan, serta pengendalian hama terpadu untuk menekan potensi gagal panen.

“Pendekatan yang kami lakukan bersifat praktis dan langsung di lahan. Jadi petani bisa melihat perbandingan hasil sebelum dan sesudah pendampingan,” ujarnya.

Menurut Kukuh, keberhasilan petani di wilayah Juwiring telah mendorong semangat serupa di berbagai daerah lain seperti Sragen, Brebes, dan Kebumen yang kini juga ikut mengembangkan pola pendampingan bersama lembaganya.

“Kami berharap semakin banyak petani yang bisa merasakan manfaat dari riset dan teknologi pertanian yang kami kembangkan di Bayer JUARA,” kata Kukuh menegaskan.  Diany

Related articles

Recent articles