Agrofarm.co.id, Jakarta-Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengungkapkan bahwa nilai ekspor kelapa sawit yang dicapai pada tahun 2024 adalah USD 27,76 miliar atau Rp 440 triliun.
“Ini lebih rendah 8,44% dari ekspor tahun 2023 sebesar USD 30,32 miliar atau sekitar Rp 463 triliun,” ujar Eddy pada acara Konferensi Pers & Syukuran HUT GAPKI ke-44 di Hotel Ayana Midplaza Jakarta, Kamis (06/3/2025).
Menurutnya, penurunan nilai ekspor terjadi untuk semua jenis produk kecuali oleokimia, meskipun dari dari segi harga FOB rata-rata dalam USD/ton semua produk mengalami kenaikan.
Sementara itu, produksi minyak sawit mentah (CPO) bulan Desember 2024 mencapai 3.876 ribu ton, lebih rendah 10,55% dibandingkan dengan produksi bulan November 2024 yang mencapai 4.333 ribu ton.
Produksi PKO juga turun menjadi 361 ribu ton dari 412 ribu ton pada bulan November. “Dengan demikian, produksi CPO tahun 2024 mencapai 48.164 ribu ton sedangkan PKO sebesar 4.598 ribu ton,” kata Eddy.
Secara total produksi CPO dan PKO tahun 2024 mencapai 52.762 ribu ton yang lebih rendah 3,80% dari produksi tahun 2023 sebesar 54.844 ribu ton.
Disisi lain, total konsumsi CPO dan PKO bulan Desember 2024 mencapai 2.187 ribu ton, lebih tinggi dari konsumsi bulan November yang mencapai 2.030 ribu ton. Kenaikan konsumsi terjadi untuk pangan, biodiesel dan oleokimia.
Secara total tahun 2024, konsumsi untuk pangan mencapai 10.205 ribu ton, lebih rendah 0,90% dari konsumsi tahun 2023 sebesar 10.298 ribu ton.
Kemudian konsumsi oleokimia 2.207 ribu ton, lebih rendah 2,69% dari 2.268 ribu ton pada tahun 2023.
Sedangkan konsumsi untuk biodiesel 11.447 ribu ton, lebih tinggi 7,51% dari 10.647 ribu ton pada 2023.
“Sehingga secara total konsumsi tahun 2024 sebesar 23.859 ribu ton yang 2,78% lebih tinggi dari konsumsi tahun 2023 sebesar 23.213 ribu ton,” jelas dia.
Total ekspor bulan Desember 2024 mencapai 2.060 ribu ton, lebih rendah 21,88% dari ekspor bulan November 2023 sebesar 2.637 ribu ton. Penurunan terbesar terjadi pada ekspor ke India sebesar 246 ribu ton, diikuti dengan tujuan China sebesar 39 ribu ton.
“Secara tahunan terjadi penurunan ekspor sebesar 2.680 ribu ton yaitu dari 32.215 ribu ton pada tahun 2023 menjadi 29.535 ribu ton,” ungkap dia.
Penurunan terbesar terjadi untuk tujuan China sebesar 2.381 ribu ton, India sebesar 1.136 ribu ton, serta Bangladesh, Malaysia, Amerika Serikat dan Uni Eropa dalam jumlah yang lebih kecil.
Sedangkan yang mengalami kenaikan terbesar adalah Pakistan sebesar 486 ribu ton dan Timur Tengah sebesar 164 ribu ton.Sementara Rusia dan beberapa negara lain naik dengan jumlah yang lebih kecil.
Dengan produksi, konsumsi dan ekspor demikian, stok CPO dan PKO diakhir tahun 2024 sebesar 2.577 ribu ton yang lebih rendah 18,06% dari stok akhir 2023 sebesar 3.145 ribu ton.
GAPKI memperkirakan produksi minyak sawit Indonesia pada tahun 2025 mencapai 53,6 juta ton, konsumsi sebesar 26,1 juta ton termasuk untuk biodiesel B40 sebesar 13,6 juta ton.
Dengan perkiraan tersebut ekspor diperkirakan akan turun menjadi 27,5 juta ton yang lebih rendah dari ekspor tahun 2024 sebesar 29,5 juta ton. Bantolo
