Agrofarm.co.id-Mete merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki karakteristik unik, memiliki bentuk buah dengan biji nampak terlihat dari luar.
Nilai ekonomis terletak di biji, sedangkan kulit sangat keras dan kurang maksimal dalam pemanfaatannya. Gelondongan biji mete menghasilkan limbah padat berupa kulit biji mete sebanyak 67%. Kulit biji mete mengandung 32-37% minyak kuning yang disebut laka atau CNSL (Cashew Nut Shell Liquid).
CNSL memiliki reaksi sangat kuat yang merusak bila bersentuhan dengan bahan lain seperti kain, plastik, karet dan melukai bila mengenai kulit karena bersifat racun (Santoso, 1996). Kesulitan pengupasan ini masih berlaku hingga sekarang, sehingga biji jambu mete dijual dalam bentuk (biji) gelondongan dengan harga jual yang lebih rendah.
Pengolahan biji mete dapat dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut (LIPTAN, 1996):
- Gelondongan mete dikeringkan selama 1-2 hari hingga mencapai kadar air 5%.
- Gelondongan mete dikupas secara manual dengan memukulnya menggunakan alat kacip belah serta kacip ceklok.
- Setelah dikupas, biji dikeringkan kembali agar kadar air dapat lebih ditekan menjadi 3%. Biji mete dikeringkan dengan bantuan sinar matahari atau dengan cara mekanis.
- Setelah itu kulit ari mete dikupas secara manual atau proses gabungan antara pengorengan bersama-sama dengan pengupasan.
- Biji mete disortasi dengan beberapa kriteria standar menurut besar dan warna biji, yaitu:
- White wholes (biji utuh seluruhnya, tiap ons berisi 100-200 biji, kerusakan akibat pegangkutan maksimal 10% dan bebas kotoran).
- Butts (sebagian kecil bijinya sudah pecah); white splits (biji pecah/terbelah menjadi 2 bagian).
- Large white pieces (biji pecah dengan ukuran diatas 0,4 0,5 cm)
- Scorched grades (standar yang paling rendah biji terbakar ringan)
Setelah melewati beberapa tahap processing, biji mete dapat dikemas dengan plastic/kaleng dalam keadaan kedap udara (vaccum). Sementara limbah kulit mete dapat diolah dan dimanfaatkan sebagai biopestisida (Murthy&Sivasamban, 1984). CNSL mengandung senyawa fenol alam terdiri atas 2-metil kardol sebesar 90% dan kardanol sebesar 10% (Tyman, 1975) yang berperan dalam bidang industri, juga mempunyai sifat anti bakteri (Himejima, 1991).
Asam anakardat yang terdapat pada CNSL merupakan suatu senyawa asam yang memiliki gugus fenolik, karboksil, dan ikatan rangkap yang berpotensi sebagai gugus yang aktif dalam menghambat perkembangbiakan serangga, serta sebagai surfaktan dengan merusak dinding sel dengan menghambat enzim sulfihidril (Budiarti & Ervina, 2008) Selanjutnya pada penelitian Asogwa et al. (2007) bahwa asam anakardat yang terkandung di dalam CNSL dapat menghambat kerja enzim prostaglandin yang berperan dalam sistim reproduksi dan fisiologis serangga.
Hal ini merupakan potensi yang cukup besar dalam memanfaatkan limbah kulit mete (CNSL) dalam mengendalikan hama, khususnya Helopeltis spp. yang juga merupakan faktor pembatas kualitas dan kuantitas produksi biji mete. Rumini et al., (2004) menyatakan bahwa tingkat kematian H. antonii 4 – 78%.
Penelitian Warsi & Tri (2004) makin memperkuat bahwa penggunaan CNSL dengan konsentrasi 25% dengan metode semprot dalam tanaman industri pada ruangan terbuka dapat menghasilkan tingkat mortalitas H. antonii sebesar 40%.
Penulis: Farriza Diyasti, Antares M. Prawira
