17.1 C
New York

Sektor Pertanian Jadi Bantalan Krisis Ekonomi

Published:

Agrofarm.co.id-Guru Besar IPB University bidang Agribisnis Prof Bungaran Saragih mengatakan bahwa sektor pertanian tidak pernah menjadi sumber krisis bangsa Indonesia. Untuk itu, dia mendorong pertanian menjadi sektor andalan pemerintah.

Selama dua dekade Indonesia mengalami tiga krisis yitu krisis ekonomi tahun 1998, krisis moneter 2008 dan terbaru krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19. Tiga krisis yang terjadi dari luar pertanian, namun memberikan dampak kepada sektor ini.

“Dampak pertanian dari ketiga krisis itu nampaknya berbeda-beda, tahun 1998 tidak berdampak terhadap pertanian. Pertanian tidak menjadi bantalan, tetapi yang menyelematkan kita,” ujar Bungaran pada Webinar Bedah Buku Prof Dr.Ir Bustanul Arifin Pertanian Bantalan Resesi: Resiliensi Sektor Selama Pandemi Covid-19, Sabtu (30/10/2021).

Tahun 2008 dunia yang mengalami krisis, indonesia terkena dampaknya. “Akan tetapi, kita sudah siap karena penyebab krisis pada waktu itu hampir sama dengan 1998. Kita memperbaiki sistem keuangan dan perbankan dan krisis ekonomi 2008 tidak berdampak langsung ke sektor pertanian,” kata dia.

Sedangkan 2020 terjadi resesi dunia akibat pandemi Covid-19 dan hingga kini masih dirasakan. “Dampak pandemi terhadap pertanian masih tumbuh positif dibandingkan sektor lain, namun sektor ini terpukul juga,” ungkap Bungaran.

Pandemi mengakibatkan krisis ekonomi dunia dan Indonesia, namun perlahan pertumbuhan ekonomi bangsa ini berangsur normal. “Kita mengalami masalah besar, tapi kita bersyukur bisa keluar dari situ akibat adanya perbaikan bidang kesahatan luar biasa dari fasilitas kesehatan hingga ketersediaan vaksin Covid-19,” kata Menteri Pertanian di Kabinet Gotong Royong.

Menurut dia, kebanggan Indonesia terhadap sektor pertanian bukan penyebab krisis itu semu. “Dalam tiga krisis itu pertanian lebih baik dari sektor lain, walauppun mengalami masalah,” tandas dia.

Bungaran menegaskan sektor pertanian tidak pernah menjadi sumber krisis bangsa ini. Untuk itu, sektor pertanian bukan hanya menjadi bantalan, namun seharusnya pertanian itu menjadi andalan.

“Kita sudah puas, lebih baik dari yang lain. Kita kurang motivatif bangsa ini untuk memperbaiki pertanian supaya menjadi andalan, bukan sebagai bantalan,” ujar Bungaran.

Dia meminta adanya perbaikan data statistik guna mengubah cara melihat bangsa ke depan. “Kalau kita teliti statistik industri dan jasa pada 1998, 2008 dan 2020 sektor manufaktur masih didominasi oleh agroindustry,” jelas Bungaran.

Industri pupuk, pestisida, bibit dan alat mesin pertanian tidak mengalami krisis. “Sektor jasa yang melayani pertanian masih berjalan pada masa krisis. Kalau itu digabungan antara industri yang melayani pertanian dengan sektor jasa yang menyangkut pertanian, maka akan tercipta sistem agribisnis,” terang dia.

Maka itu, kata Bungaran pendekatan yang digunakan adalah klaster sistem agribisnis mencakup pertanian, industri dan jasa pendukung pertanian. “Kita mempunyai cara baru melihat ekonomi Indonesia, dan pertanian dalam sistem yang lebih besar, tidak hanya menjadi bantalan, namun jadi andalan ekonomi kita di masa mendatang,” ungkap dia.

Anggota Komisi IV DPR RI Endang S. Thohari menambahkan, data perlu diperbaiki karena stok pangan dalam negeri masih bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. “Namun datanya tidak lengkap dan tidak seragam antara data BPS dengan data Kementerian Pertanian, sehingga keptusan impor pangan sangat besar,” kata dia.

Untuk itu, Endang selalu menginisiasi untuk menggali potensi pangan daerah agar tidak impor. “Inovasi teknologi perlu dikembangkan bersama karena Badan Litbang Pertanian dan perguruan tinggi sudah banyak digunakan oleh petani,” jelas Endang.

Dia mendorong pembentukan lembaga keuangan di sektor pertanian atau bank pertanian. “Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk mewujudkannya,” ujar dia.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Desianto Budi Utomo menuturkan jagung posisinya sanagat sentral sekali karena 50 persen dari pakan ayam itu adalah jagung. “90 persen dari seluuh pabrik pakan di Indonesia menghasilkan pakan untuk ayam,” jelas dia.

Desianto berharap perlu adanya cadangan jagung pemerintah sebagai penyangga atau buffer stock. “Ini mepunyai dua fungsi yakni seabagai penentu atau penjamin suplai ketersediaan bahan baku pakan dan stablisasi harga jagung,” ungkap dia.

Adapun isi bukuBustanul Arifin terdiri dari 17 bab yang diantaranya membahas transformasi struktural sektor pertanian yang sudah dikritisi, perubahan teknologi pertanian, ancaman krisis dan, budidaya padi yang sangat bergantung perubahan cuaca. Selain itu buku ini juga mengulas kontroversi impor komoditas pangan strategis seperti beras, gula serta kedelai. Bantolo

 

Related articles

Recent articles