15.4 C
New York

Produksi Defisit, Harga Jagung Tinggi

Published:

Agrofarm.co.id- Berdasarkan prognosa ketersediaan dan kebutuhan jagung pililan kering pada Januari-Mei 2021 terdapat defisit pada April dan Mei tahun ini. Akibatnya harga jagung melambung tinggi diatas harga acuan pemerintah.

Asisten Deputi (Asdep) Pangan Kemenko Perekonomian, Muhammad Saifulloh mengungkapkan, penanaman jagung tergantung musim terutama pada musim hujan. Rantai pasar jagung masih panjang, harga lebih banyak ditentukan peran pedagang pengumpul.

Sementara tu, kenaikan harga jagung internasional pada Oktober 2020 hingga April 2021 sekitar 36 persen. “Ini bikin syok terutama industri ternak akan terpukul pada kondisi ini,” ujar Saifulloh ada acara Focus Group Discussion dengan tema Harga Jagung Melambung, Selasa (20/4/2021).

Saifulloh menjelaskan kebutuhan jagung per bulan relatif sama, harga turun ketika pasokan berlebih dan harga naik saat pasokan berkurang. Untuk itu, perlu dirumuskan mekanisme pengelolaan stok.

“Kami akan berdiskusi dengan Bulog agar lebih berperan terhadap mekanisme lalu lintas jagung ini. Sehingga tidak hanya beras yang ada program program Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH), tapi jagung juga mendapatkan skema tersebut agar pemerintah bisa mengendalikan harganya,” terang dia.

Selain itu, belum ada mekanisme cadangan jagung pemerintah. “Sehingga rawan permasalahan muncul di tingkat petani ketika harga jatuh dan pada tingkat pengguna terumana peternak layer pada waktu harga jagung naik,” tandasnya.

Berdasarkan prognosa ketersediaan dan kebutuhan jagung pipilan kering pada Januari-Mei 2021 terdapat defisit pada April dan Mei tahun ini. “Ini sebenarnya April dan Mei sudah ada warning minus 265.349 ton dan Mei minus 2.896 ton. Ini butuh effort luar biasa untuk daerah sentra jagung,” jelas dia.

Harga jagung juga didasari pada Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 07 Tahun 2020 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Penjualan di Tingkat Konsumen. Kadar air 15 persen harga pembelian jagung dipatok Rp3.150 per kilogram (kg) dan harga penjualan sebesar Rp 4.500 per kg.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat, harga jagung itu telah naik 6,52% dari rata-rata harga jagung di bulan Maret 2021 yang sebesar Rp 4.002 per kg. Sedangkan harga jagung di bulan Januari masih dikisaran Rp 3.845 per kg.

Saifulloh menambahkan, ini dapat mengedukasi petani memproduksi hasil panen sesuai dengan kadar air yang dipersyaratkan. “Good news di Lampung petani sudah bisa produksi jagung dan mengelola pasca panen dengan aflatoksin diminimalisir karena ini bagus untuk industri, bahkan pasar ekspor,” kata dia.

Pemerintah telah mendorong sistem resi gudang (SRG) untuk jagung. “Panen masuk musim hujan atau harga sedang jatuh, dengan SRG bisa ditunda jual, namun tidak mengurangi kualitas jagungnya,” tutur dia.

Dalam pengembangan jagung pemerintah menyiapkan enam kebijakan. Pertama, optimalisasi pengawasan untuk memastikan implementasi Permendag Nomor 7 Tahun 2020 di tingkat konsumen terkait harga acuan jagung.

Kedua, memperhatikan kondisi produksi dan tata niaga jagung yang bervariasi di setiap daerah. Pengaturan harga jagung perlu ditetapkan sesuai wilayah oleh masing-masing pemerintah daerah.

Ketiga, sinergi dengan asosiasi petani dan industri berbasis jagung perlu dilakukan untuk mendorong komitmen peningkatan produksi dan produktivitas jagung. “Ini akan lebih optimal jika tersedia regulasi harga acuan yang bersifat multikualitas dan multi lokasi,” kataSaifulloh.

Keempat, pengaturan pola tanam untuk menjamin stabilitas pasokan jagung dan menghindari harga tinggi ketika pasokan berkurang dan harga rendah saat pasokan tinggi.

Kelima, dukungan peningkatan produksi dan produktivitas melalui penyediaan pembiayaan KUR, ketersediaan benih unggul dan pupuk.

Keenam, pengembangan pilot project produksi jagung rendah aflatoksin untuk memenuhi stndar industri. Ini sudah dilakukan di Lampung melalui kerjasama Kementan dengan industri. Bantolo

 

Related articles

Recent articles