Agrofarm.co.id-Kepala Biro Perencanaan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) Abdul Basit mengungkapkan, usaha agribisnis pertanian pada tahun 2019 ini akan tetap tumbuh positif. Meskipun masih ada bayang-bayang dampak perang dagang, tahun politik dan fenomena iklim global.
Dia mengatakan, tahun ini pembangunan pertanian masih diwarnai sejumlah tantangan yang tidak mudah. Salah satu tantangan yang sudah ada di depan mata adalah perubahan iklim.
“Perubahan iklim ini dinilai dapat memengaruhi pergerakan harga komoditas di pasar global. Selain itu, faktor standarisasi produk dan biaya logistik atau distribusi juga turut menentukan,” ujar Abdul padaSeminar Nasional Agrina Agribusiness Outlook 2019, Tantangan dan Peluang Agribisnis 2019 di Jakarta, Kamis (11/4/2019).
Dia menambahkan, perubahan iklim dapat juga dijadikan kesempatan untuk meningkatkan produksi pertanian.
“Sebagai contoh pola tanam padi yang dulu kerap dibagi menjadi dua periode yakni Oktober-Maret dan April-September tidak lagi sepenuhnya dapat dijadikan patokan dalam pengembangan pertanian,” katanya.
Kemudian, standar produk pertanian juga sangat menentukan perkembangan pertanian 2019. Pada saat ini, kesadaran konsumen akan kesehatan kian tinggi, konsumen sudah mulai menuntut produk yang higienis meski harga tinggi.
“Karena itu, tidak heran bila banyak produk organik yang laris manis di pasar meski harga tinggi, namun tidak mudah kita terapkan ke petani kita dengan segala keterbatasan,” tandasnya.
Untuk itu, Kementan berupaya melakukan perbaikan untuk mendorong produk-produk pertanian menjadi produk yang memenuhi standar kesehatan. “Pemerintah juga akan melakukan perbaikan khususnya dalam mempermudah perizinan dalam pengembangan produk pertanian di dalam negeri,” jelasnya.
Dia menambahkan, tahun ini diperkirakan akan terus terjadi perubahan pola produksi dan pola konsumsi pangan di Indonesia. Permintaan produk dengan standard mutu tinggi akan terus menjadi kebutuhan. “Oleh karena itu penyediaan produk pangan pada tahun 2019 menjadi penting,” ujar Abdul.
Pada tahun 2019 ini produk pangan strategis yang sering dimasukkan dalam kelompok 9 bahan pokok sebagian besar diperkirakan surplus, diantaranya beras, jagung, cabai besar, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras dan minyak goreng.
“Kecuali dua produk pertanian utama yaitu gula pasir dan daging sapi/kerbau diperkirakan neracanya defisit, untuk gula pasir diperkirakan masih kekurangan 701,77 ribu ton dan daging sapi/kerbau kekurangan 256,86 ribu ton,” ungkapnya.
Pada tahun 2019 ini efek perang dagang China dan Amerika diperkirakan juga masih akan terasa bagi bisnis pertanian Indonesia, namun demikian kita tetap berpikir positif untuk mencari celah menyikapi kejadian tersebut.
“Tidak perlu ada kekuatiran yang berlebihan, karena faktanya total neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika selama kurun 2015-2017 surplus USD 10,3 Miliar, dimana surplus pertanian sebesar USD 1,9 miliar dan surplus non-pertanian mencapai USD 8,4 miliar,” pungkasnya. Bantolo
