Agrofarm.co.id – Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan komitmen Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dalam memperkuat ekosistem industri bambu nasional agar mampu menangkap peluang pasar global yang diproyeksikan mencapai USD 118,3 miliar pada 2034. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Akademi Komunitas Bambu (AKB) 2026 di Balai Diklat Industri (BDI) Yogyakarta pada 18–31 Oktober 2026, dengan fokus pada penguatan sektor hulu untuk menjamin ketersediaan pasokan bambu yang berkualitas dan siap diolah industri.
Saat ini potensi pasar produk berbasis bambu terus berkembang secara global dengan nilai pasar yang diproyeksikan meningkat dari USD 74 miliar pada 2024 menjadi USD 118,3 miliar pada 2034. Nilai ini diikuti dengan tingkat Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 4,8 persen selama periode 2025–2034.
Sementara pada sisi pemanfaatan, produk berbasis bambu digunakan di berbagai sektor industri global. Furnitur mendominasi dengan pangsa 28 persen, diikuti scaffolding sebesar 17 persen, engineered bamboo sebesar 16 persen, serta pulp dan kertas sebesar 13 persen. Adapun pemanfaatan untuk arang dan karbon aktif mencapai 10 persen, kerajinan tangan 6 persen, tekstil 6 persen, dan sektor lainnya 4 persen.
Di tengah peluang tersebut, ekspor bambu global masih didominasi China dengan pangsa pasar sebesar 74,8 persen, disusul Vietnam sebesar 3,2 persen. Sementara itu, Indonesia berada di posisi 12 besar eksportir bambu dunia dengan pangsa pasar 0,9 persen. Data ini menunjukkan masih terbukanya ruang bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing dan memperluas penetrasi produk bambu di pasar internasional.
Melalui penyelenggaraan AKB 2026, Kemenperin berupaya memperkuat fondasi industri bambu nasional, khususnya pada sektor hulu. Program yang dibuka pada Senin (19/10) dan berlangsung hingga 31 Oktober 2026 tersebut diarahkan untuk memastikan kelembagaan pasokan bambu yang siap pakai.
Sebelumnya AKB batch pertama telah diselenggarakan di Bali pada 22 September–3 Oktober 2026 dengan diikuti oleh 25 peserta asal Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Barat. Melalui AKB batch pertama telah menghasilkan 8 proposal perencanaan pusat logistik bambu dari 8 kelompok sesuai potensi daerah masing-masing. Tiga proposal terbaik secara berurutan berasal dari DIY, Bali, dan Jawa Timur-2. Melalui para Master Bambu lulusan AKB Bali, proposal tersebut menunjukkan komitmen serta besarnya potensi daerah untuk membentuk pusat logistik bambu.
Menperin menambahkan, program strategis nasional pembangunan 3 juta rumah per tahun membuka peluang pemanfaatan inovasi material lokal. Salah satunya melalui penerapan Cement-Bamboo Frame Technology (CBFT) yang prospektif untuk pembangunan hunian tipe 36 dalam program rumah sederhana atau Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman. Teknologi ini juga prospektif bersinergi dengan program konstruksi modular di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Teknologi CBFT sendiri memiliki karakteristik ringan sehingga mampu dirakit tanpa menggunakan alat berat. Berbasis bahan baku lokal, teknologi ini berpeluang untuk memperkuat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam ekosistem konstruksi modular nasional.
Namun, teknologi CFBT menghadapi tantangan berupa ekosistem penyediaan bahan baku yang belum berkelanjutan. Hal ini disebabkan minimnya kelembagaan penyedia bambu yang berkualitas dan memenuhi standar. Menghadapi tantangan tersebut, Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika, menyatakan bahwa AKB TA 2026 hadir untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) industri yang kompeten sekaligus menjamin mutu bambu yang dihasilkan agar siap pakai.
“Bambu merupakan komoditas strategis yang tumbuh melimpah di Nusantara, namun potensinya baru dapat dioptimalkan apabila didukung oleh SDM yang andal dalam mengelola rantai pasoknya. Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) AKB ini, kami mempersiapkan SDM yang mampu mengelola pusat logistik bambu guna memenuhi kebutuhan bahan baku bambu siap pakai yang berkualitas,” ujar Putu.
Pembukaan AKB DIY turut dihadiri Bupati Bantul Abdul Halim Muslih dan Wakil Ketua Umum Bidang Revitalisasi SDM, Vokasi, dan Ketenagakerjaan Kadin DIY, Rommy Heryanto. Bupati Bantul menekankan pentingnya pengembangan ekosistem bambu dari hulu hingga hilir, penerapan ekonomi hijau, serta peran bambu dalam mendukung kelestarian lingkungan.
Sementara itu, Kadin DIY menyatakan dukungan pada program AKB melalui pengembangan green vokasi/ technical and vocational education and training (TVET), peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta inisiasi pengembangan kawasan bambu terintegrasi dari hulu ke hilir. Upaya ini akan diperkuat melalui kolaborasi dunia usaha, industri, perguruan tinggi, komunitas, dan pemangku kepentingan terkait.
Pelaksanaan AKB 2026 di DIY telah diikuti oleh 25 peserta calon Master Bambu dari DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, dan Sumatera Barat. Melalui program ini, para peserta akan dilatih secara teknis dan manajerial untuk mendukung pembentukan Pusat Logistik Industri Bambu di berbagai sentra potensial, yang berfungsi untuk mengumpulkan, mengolah, mengawetkan, dan mendistribusikan bahan baku bambu yang terstandar, awet, tersertifikasi, dan siap pakai untuk kebutuhan industri nasional maupun ekspor.
“Melalui ToT ini, para peserta dapat melihat dan mendalami secara langsung proses pengawetan bambu, mulai dari penyimpanan dan pengeringan hingga pengawetan, guna menghasilkan bambu siap pakai yang berkualitas. Peserta juga dibekali manajemen material center dan sistem resi gudang untuk mendukung pembentukan pusat logistik bambu sebagai output yang diharapkan dari kegiatan AKB ini,” pungkas Putu.irsa
